Kisruh Peringkat Investasi JP Morgan

Rabu, 04 Januari 2017, 19:00:19 WIB - Ekonomi

Menteri Keuangan Sri Mulyani (kiri) dan Dirjen Pajak Ken Dwijugiasteadi (kanan) berjalan sebelum paparan realisasi pelaksanaan APBNP 2016 di Kementerian Keuangan, Jakarta, Selasa (3/1). Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2016 tumbuh lima persen, lebih rendah dari asumsi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBNP) 2016 sebesar 5,2 persen. (ANTARA)

JAKARTA, GRESNEWS.COM - Langkah Kementerian Keuangan (Kemenkeu) memutus kontrak dengan JPMorgan Chase Bank dianggap kurang tepat. Kendati Bank asal Amerika Serikat (AS) yang menjadi dealer utama penjual surat utang itu dianggap mempermainkan Pemerintah Indonesia dengan bermodalkan hasil risetnya.

Wakil Ketua Komisi XI DPR RI, Ahmad Hafizs Tohir mengatakan pemerintah seharusnya tidak cepat mengambil kesimpulan dan langsung memutus kontrak kerjasama dengan JP Morgan. 'Perlu dicermati alasan JP Morgan menurunkan peringkat Indonesia itu apa sebabnya, pemerintah harus cek hal tersebut,' kata Hafizs kepada gresnews.com, Rabu (4/1).

Politisi PAN ini menyebutkan meskipun dalam riset tersebut JP Morgan memangkas peringkat surat utang, atau obligasi Indonesia. Indonesia dianggap berada dalam posisi cukup buruk, yakni dari peringkat overweight menjadi underweight, atau turun dua peringkat.

Seharusnya pemerintah tidak berhenti begitu saja kerjasama dengan JP Morgan. Sebab ada beberapa lembaga financial yang juga agak buruk perlakukan peringkat ekonomi Indonesia. 'Misalnya Standard & Poor's (S&P) sampai hari ini belum juga keluarkan peringkat risk Indonesia, ada apa ini?,' ungkapnya.

Direktur Center For Budget Analysis (CBA) Uchok Sky Khadafi juga menilai langkah pemerintah untuk mengakhiri kerjasama dengan JP Morgan Chase Bank NA adalah langkah yang kurang tepat. ' Menteri Keuangan ( Menkeu) Sri Mulyani yang langsung memutuskan untuk berhenti melakukan kerjasama dengan JP Morgan merupakan terlalu terburu-buru,' kata Uchok kepada gresnews.com, Rabu (4/1).

Uchok menilai Sri Mulyani saat ini adalah Menkeu bukan lagi sebagai pejabat Bank Dunia, sehingga tidak bisa menganggap sebuah riset sebagai penentu segala. 'Seharusnya, Sri itu berterimah kasih kepada JP Morgan, dan bisa untuk memperbaiki apa yang dihasilkan riset tersebut,' jelasnya.

Dia menyebutkan, hasil JP Morgan ini, akan berdampak serius, dan investasi asing akan banyak keluar dari Indonesia. 'Apalagi, JP Morgan diputus kerjasama oleh Menteri keuangan, hanya mendapat citra jelek buat Indonesia,' ujarnya.


Baca selanjutnya: 1 2

Komentar