Suriah, Setelah Empat Tahun Konflik, Kisah di Balik Berita

Kenyataannya, tahun 2014 menjadi tahun yang paling mematikan dari konflik tersebut dengan dilaporkan sekitar 76.000 orang terbunuh.

Post Image
Anak pengungsi Suriah bermain layang-layang (Pablo Tosco / Oxfam)

Oleh: Maya Mailer *)

Jika anda mengetik kata "Suriah" di Google News, di kepala berita yang umumnya akan muncul adalah tentang serangan udara, hukum pancung dan Jihadi John (eksekutor para terhukum mati). Lebih kurang dramatis, ongkos manusia setiap hari yang terjebak dalam krisis itu semakin jarang dimunculkan. Barangkali ini sangat tidak menguntungkan.

Saat konflik memasuki tahun kelima, perasaan lelah dan tak berdaya pun muncul. Kawan media saya yang keras kepala bilang, kita perlu menemukan sesuatu yang baru untuk dikatakan. Penderitaan manusia setiap hari bahkan dengan magnitude seperti itu, jelas-jelas tidak menghentikannya (konflik-red). Saat perhatian dunia internasional semakin memudar, penderitaan terus berlanjut dalam skala yang luar biasa.  

Seperti dilaporkan dalam sebuah dokumen bertajuk "Failing Syria" (Suriah yang Gagal-red) yang dirilis hari ini dari sejumlah 21 organisasi kemanusiaan dan hak asasi manusia, termasuk Oxfam, warga Suriah mengalami tingkat kematian dan kehancuran yang terus meningkat. Warga sipil tanpa pandang bulu terus diserang, terlepas dari adanya imbauan di bulan Februari 2014 dari resolusi Dewan Keamanan PBB yang meminta serangan-serangan itu dihentikan.

Kenyataannya, tahun 2014 menjadi tahun yang paling mematikan dari konflik tersebut dengan dilaporkan sekitar 76.000 orang terbunuh. Terlalu banyak untuk tuntutan besar dari kekuatan besar yang duduk di Dewan Keamanan PBB.

Di negara yang tadinya adalah negara ekonomi menengah, 11,6 juta orang saat ini membutuhkan air bersih. Sejumlah 3,7 juta menjadi pengungsi. Apa yang saya coba bertahan, dan saya akui itu tak selalu mudah adalah dibalik angka-angka luar biasa itu, terdapat jutaan lagi kehidupan individu yang hancur. Mereka adalah petani, guru, pelajar, musisi--orang-orang biasa seperti saya dan anda--- berjuang untuk bertahan hidup dan bertarung untuk menjalani kehidupan normal.

Orang seperti Ayham, seorang pianis yang konsernya di sebuah jalanan yang hancur penuhi puing di Yarmouk, sebuah distrik di Damaskus dipancarluaskan via Skype, atau Noor seorang pengungsi yang mengajarkan anak-anak pelajaran bahasa Arab di sebuah tenda di Lebanon.

Seperti umumnya pengungsi Suriah, Noor tinggal di tempat penampungan tak resmi. Jargon bantuan tidak menciptakan keadilan pada tempat semodel tersebut, sebuah area yang kotor, dipenuhi orang yang tinggal di bawah tenda terpal dimana orang berusaha untuk merasa tinggal selayaknya di rumah di tengah kesulitan. Dalam sebuha kunjungan ke tempat penampungan dimana Oxfam menyediakan air bersih, selimut dan bantuan dana, saya duduk bersama keluarga pengungsi di tenda mereka, berhimpitan mengelilingi sebuah perapian untuk menghangatkan badan.

Tenda itu adalah "rumah" bagi delapan orang, anak-anak mengenakan sendal jepit di tengah hawa dingin yang mengigit, berlarian keluar masuk saat kami berbicara. Ayah dari keluarga itu berkata mereka sangat mengalami kecemasan terkait status mereka di negara tersebut, namun segera menghapus segela harapan untuk kembali ke Suriah dalam waktu dekat. "Mungkin dalam lima atau sepuluh tahun, siapa tahu?" ujarnya.

Hal ini menjadi tema yang berulang dari setiap perjalanan, di satu sisi kembali ke Suriah sepertinya menjadi sesuatu yang tak mungkin lagi dipertanyakan tetapi di sisi lain meningkatnya pembatasan bagi pengungsi membuat mereka mengalami kecemasan akut soal apa yang akan mereka hadapi di masa depan di negara yang menampung mereka.

 

Saya terpukul dengan pilihan yang tidak masuk akal yang dihadapi para pengungsi. Dengan mayoritas tinggal di luar penampungan formal seperti di Zaatari di Yordania, kebanyakan pengungsi harus membayar sewa dari tuan tanah setempat. Tentu seorang pemilik lahan di utaea Lebanon akan menyebut tempat penampungan sementara mereka sebagai ´hotel´. Tetapi di Yordania dan Lebanon pengungsi menghadapi tembok tebal untuk mendapatkan izin untuk bekerja.

Jadi dari mana mereka bisa mendapatkan uang? Bantuan dana dari agensi kemanusiaan seperti Oxfam dapat menolong-- dan ini hanya satu contoh mengapa sangat penting agar dana kemanusiaan dapat dikelola-- tetapi tentu itu tak cukup untuk memenuhi semua kebutuhan. Para pengungsi yang memiliki sedikit kekayaan dapat menjual aset mereka, tetapi untuk berapa lama?

Seorang perempuan tua berkata pada saya, bagaimana dia telah melapaskan anting-antingmya dan menjualnya dan sekarang tidak ada satu barang pun tersisa menjadi miliknya. Seperti umumnya, bagaimanapun, mereka yang termiskin selalu dipaksa menghadapi risiko terberat. Sekelompok perempuan bercerita kepada saya, saat tiba datang akhir bulan dan saatnya membayar sewa kebanyakan kita akan sangat rentan. Dibalik kata "rentan" terletak berbagai keputusan yang sangat menyakitkan bagi mereka untuk dikatakan.

Para pengungsi juga bercerita kepada saya bahwa beberapa orang terpaksa kembali menyeberang ke Suriah untuk membawa saudara-saudara atau barang-barang yang tertinggal, namun tidak selalu diizinkan untuk masuk kembali (ke negara yang menampung) dan hal ini meningkatkan angka keluarga yang hidup terpisah. Tidak terlalu mengejutkan jika negara tetangga Suriah mengenakan pembatasan di perbatasan atau berkeberatan menampung pengungsi untuk bekerja.

Negara-negara ini telah menunjukkan keramahan luar biasa dalam menampung 3 juta orang lebih pengungsi tetapi kebaikan tu saat ini sedang diuji sampai ke batasnya dan berdampak pada situasi dalam negeri. Lebanon adalah contoh yang paling nyata. Negara kecil setengah dari luas Wales masih memulihkan diri dari perang saudara selama 15 tahun, saat ini memiliki angka populasi pengungsi perkapita tertinggi di dunia.

Tetapi saat konflik berkecamuk di Suriah, sangat vital untuk membuka perbatasan sehingga orang-orang bisa mencari perlindungan. Hal yang juga sangat vital jika kewajiban menampung pengungsi dibagi dengan negara lain di dunia. Beberapa pengungsi yang berbincang dengan saya mengatakan pemukiman kembali adalah harapan terkahir mereka yang tertinggal.

Seorang lelaki menujukkan kepada saya potongan kertas yang harus ditebus dengan harga US$500--harga yang cukup besar-- yang sepertinya merupakan sebuah dokumen dari sebuah konsulat fiktif. Yang lainnya mengatakan mereka harus menabung untuk bisa menaiki kapal untuk menyeberang ke Mediterania atau memiliki saudara yang mencoba menyeberang dan tenggelam.

Inggris yang sejauh ini menampung 143 pengungsi dari kawasan itu juga menawarkan perlindungan bagi 4000 pengungsi yang sudah berada di negara tersebut, mengatakan pemukiman kembali akanlah sangat mahal, dan bukan merupakan solusi yang bisa diterapkan dalam menangani populasi pengungsi yang besar, karena itu yang terbaik adalah mendukung para pengungsi di kawasan itu. Mungkin itu benar dan Inggris harus diakui untuk pemberian bantuannya, namun itu tidak mengurangi tanggung jawab negara itu untuk memukimkan kembali pengungsi. Inggris harus memberikan harapan bagi banyak orang pengungsi yang paling rentan, lelaki, perempuan dan anak-anak.

Oxfam bersama Dewan Pengungsi Inggris, Amnesty International, Save The Childre dan lembaga lainnya telah meminta negara-negara kaya untuk mengambil lima persen dari total populasi pengungsi setara dengan angka dimana Inggris akan menawarkan pemukiman kembali bagi sekitar 10.000 pengungsi dari Suriah.

Tentunya, solusi politik memang diperlukan. Baru-baru ini saya berbicara kepada aktivis perdamaian Suriah yang mengatakan Suriah masih menunggi terjadinya "momen Rwanda" (dimana terjadi pembantaian atas suku-suku minoritas-red). Dengan demikian, dia mengatakan Suriah membutuhkan gerakan moral global yang tidak mungkin diabaikan dunia tentang apa yang terjadi dan melakukan semua hal untuk menghentikannya.

Sejujurnya, saya telah berjuang dengan hal ini, dan seyakinnya momen tersebut telah lama hilang. Jika kematian lebih dari 200.000 penduduk termasuk ribuan anak-anak tidak juga cukup, kemudian apa? Tetapi menyerah juga bukan pilihan bagi Suriah dan bukan pilihan bagi kita juga. Kita harus terus menyalakan harapan bagi Suriah dan membangun solusi politik untuk mengakhiri pertumpahan darah ini.

*) Penulis adalah Oxfam´s Head of Humanitarian Policy and Campaign