JAKARTA - Komisaris Utama PT Pertamina (Persero) Basuki Tjahaja Purnama (BTP) mengumumkan dibukanya akses informasi pengadaan perseroan. Akun @basuki_btp pada Rabu (12/2) menulis: "Mulai hari ini, akses informasi operasional PT Pertamina (Persero) terkait pengadaan crude (minyak mentah), LPG, dan BBM termasuk status kapal charter sudah dapat diakses melalui website resmi perseroan." Untuk informasi kapal charter dapat dibuka di situs https://pertamina.com/id/informasi-kapal. Informasi terkait pengadaan minyak mentah (crudehttps://pertamina.com/id/news-room /crude-and-products-procurement.

Namun, menurut Direktur Eksekutif Center of Energy and Resources Indonesia (CERI) Yusri Usman, celah terjadinya penyimpangan masih terbuka lebar. Mengapa? Karena undangan tender masih menyebutkan asal negara dan lapangan minyak, bukan spesifikasi minyak mentah, termasuk derajat API (API Gravity) dan batas kandungan sulfur sesuai konfigurasi kilang Pertamina. Jika prosesnya ingin benar dan transparan, BTP bisa memerintahkan Direktur Utama Pertamina untuk mengarahkan Integrated Supply Chain (ISC) bahwa dalam proses tender minyak mentah tidak boleh lagi menyebutkan minyak mentah asal negara atau nama lapangan asal minyak mentah tersebut. 

"Karena kilang tidak mengenal negara sumber minyak mentah tetapi kilang hanya bisa mengolah minyak mentah yang sesuai desain kilang itu sejak dibangun awal dan ketika kilang mengalami proses upgrading," kata Yusri kepada Gresnews.com, Sabtu (29/2).

Saat ini produksi minyak nasional lebih kurang 700.000 barel per hari, sementara itu bagian negara dan Pertamina lebih kurang 500.000 barel per hari. Di sisi lain kapasitas kilang Pertamina yang efektif kira-kira 900.000 barel per hari dari kapasitas terpasang 1.000.000 barel per hari. Berarti ada potensi impor minyak mentah sekitar 400.000 barel per hari.

Yusri mengungkapkan kalau tender pengadaan minyak mentah di ISC Pertamina masih mensyaratkan minyak asal negara, diduga di situlah modus penyimpangannya, sebab di beberapa negara, khususnya di Afrika Barat dan Timur Tengah, minyak produksi National Oil Company (NOC) diijon oleh para traders dunia, seperti Vitol, Glencore, Travigura dan sebagainya. "Oleh karena itu, ISC Pertamina harus menghapus nama negara minyak dalam proses tender minyak mentah, seperti contohnya dalam undangan (tender) masih menyebutkan pengadaan `West Africa Crude`, `Asia Crude`, `Sahrir` dan `Meslah Crude (Libya)`. Itu tidak boleh terjadi lagi," tuturnya.

Sebagai catatan, pada 2026, Pertamina menargetkan pengembangan kilang proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) dan pembangunan kilang baru proyek Grass Roof Refinery (GRR). Nantinya diharapkan kapasitas kilang yang saat ini 1.000.000 barel per hari akan meningkat dua kali lipat menjadi 2.000.000 barel per hari. Pertamina menargetkan untuk memenuhi kebutuhan BBM dari kilang sendiri tanpa bergantung pada impor. 

(G-2)

BACA JUGA: