Kemenangan Anies ini cukup mengejutkan lantaran beberapa survei menjelang pelaksanaan Pilkada, menempatkan diposisi terbawah.

JAKARTA, GRESNEWS.COM - Pasangan calon gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama - Djarot Saiful Hidayat dan Anies Baswedan - Sandiaga Uno dipastikan lolos ke putaran kedua. Kemenangan Anies ini cukup mengejutkan lantaran beberapa survei menjelang pelaksanaan Pilkada, menempatkan diposisi terbawah.

Penilaian survei ini tak mempengaruhi cara kerja tim sukses Anies-Sandi. Buktinya, pasangan ini mampu mengungguli rivalnya Agus Harimurti Yudhoyono dengan menduduki posisi kedua perolehan suara versi hitungan cepat (quick qount).

Ketua Tim Sukses Anies Baswedan - Sandiaga Uno, Mardani Ali Sera mengungkap triknya mendulang perolehan suara dalam putaran pertama Pilkada DKI Jakarta. Menurutnya selain faktor pengaruh Ketua Umum Gerindra yang cukup dominan membantu perolehan suara, juga karena adanya cara kerja yang berbeda untuk meraup suara.

"Salah satunya kita basis di TPS, tidak lagi sibuk di atas kita buat rembug 5 kali tanggal 18, 25, 1, 8, 13 jadi seluruh jaringan kumpul di TPS. Gerindra, PKS, relawan Mas Anies, relawan Mas Sandi, relawan Bang Boy kumpul di TPS," kata Mardani di kantor DPP Gerindra, Jakarta Selatan, Rabu (16/2).

Mardani menuturkan, sebulan sebelum pencoblosan, mesin partai dan kerja relawan tidak lagi terfokus pada kerja di tingkat elit partai. Semua komponen pendukung turun menjangkau pemilih dan meyakinkan pemilih di tingkat bawah untuk menentukan arah dan dukungan di tingkat grass root.

Lebih jauh dia mengungkapkan, bahwa orientasinya mengumpulkan masa ke dalam satu acara itu kalah efektif, dibanding elit partai dan relawan turun menemui pemilih.

"Jadi kita lupakan atas enggak boleh dari bawah ke atas justru yang atas turun ke bawah. Semua turun  karena kalau di bawah naik itu mengganggu  kerja. Karena orang lagi ngetok pintu lagi kita kan dapat DPT didatangi, arahnya kemana. Kalau yang bawah ke atas kerjaannya enggak jalan makanya Alhamdulillah hasilnya sesuai dengan apa yang kita prediksi," tutur politisi Partai PKS itu.

PEMILIH REALISTIS - Namun pengamat politik dari Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia (Formappi) Lucius Karus menilai kemenangan pasangan Ahok dan Anies dalam putaran pertama menunjukkan pergeseran pemilih yang realistis. Kerja partai politik baik partai pendukung Ahok maupun pendukung Anies dalam penilaian Lucius tidak signifikan mempengaruhi perolehan suara.

Pertarungan DKI Jakarta, imbuh Lucius, lebih didominasi oleh pertimbangan program kerja dan track record kandidat. Sehingga isu sara yang bergulir sepanjang prosesi pilkada tahap pertama malah tidak banyak berpengaruh. Bahkan isu tersebut kemudian memperkuat barisan dukungan Ahok.

"Dan kerja rasio lah yang akhirnya menjadikannya acuan dalam menentukan pilihan tersebut," kata Lucius Karus melalui pesan singkatnya kepada gresnews.com, Kamis (16/2).

Sementara kubu Anies Baswedan, justru menjadi magnet elektoral ketika suara Islam memang terpecah menjadi dua kutub antara Anies dan Agus. Namun dinamika isu sara yang cukup kental dalam Pilkada membuat pemilih juga memperhitungkan bukan saja soal-soal ideologi keagamaan tetapi juga program yang realistis yang ditawarkan kandidat.

Dalam kompetisi merebut suara Islam itu, sambung Lucius, pasangan Anies Baswedan memiliki magnet sendiri dengan penyampaian visi misi yang realistis dibanding pasangan Agus Harimurti Yudhoyono - Sylviana Murni. Kelemahan Agus-Sylvi tersebut menjadi keuntungan bagi pasangan Anies Baswedan dan Sandiaga Uno.

"Jika akhirnya Anies yang unggul saya kira karena campuran antara pemilih rasional dan agama itu juga mempertimbangkan alasan-alasan program yang rasional juga," pungkas Lucius.