Fakta SARA di Pilkada Putaran Pertama DKI Jakarta

Sabtu, 18 Maret 2017, 15:00:17 WIB - Politik

(kiri kanan) Ketua Dewan Pakar Partai Golkar Agung Laksono, Wasekjen PDI Perjuangan Utut Adianto, Sekretaris Jenderal Partai Hanura Sarifuddin Sudding, Sekjen Golkar Idrus Marham, Ketum Golkar Setya Novanto, Sekjen PDI P Hasto Kristiyanto, Ketua Umum PPP Djan Faridz, Sekjen Nasdem Nining Indra Saleh, dan Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan Partai Golkar Yorrys Raweyai berpose bersama mengacungkan dua jari sebelum pertemuan di Kantor DPP Golkar, Jakarta, Jumat (17/3). Pertemuan lima parpol pendukung Ahok-Djarot tersebut bertujuan memperkuat dukungan dan kemenangan Ahok-Djarot di pilkada putaran kedua. (ANTARA)

JAKARTA, GRESNEWS.COM - Demi sejumput suara sejumlah kalangan kerap menggunakan sentimen Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan (SARA) di Pilkada DKI 2017. Hal demikian dapat dilihat dari laporan yang dibeberkan Peneliti Pusat Data Bersatu (PDB) Agus Herta Soemarto di sela diskusi publik "Evaluasi Hasil Pilkada DKI Jakarta Putaran I: SARA, Isu atau Fakta" pada Jumat (17/3).

"Secara faktual, SARA bukan hanya sekadar isu. Pilkada DKI putaran I terindikasi kuat melibatkan isu SARA," kata Agus, Jumat (17/3). Uniknya, sambung Agus, praktek SARA pada pemilih beragama muslim sulit diidentifikasi. Sedang pada pemilih non-muslim, sentimen SARA itu sedikit banyak bisa dibuktikan.

"Suara pemilih muslim tersebar, sehingga tidak menunjukkan adanya konsentrasi di salah satu calon tertentu," katanya.

Calon gubernur petahana Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok yang berasal dari etnis dan agama minoritas pun kecipratan sebaran suara pemilih muslim tersebut. Bahkan di beberapa Tempat Pemungutan Suara (TPS) dengan mayoritas penduduk beragama Islam, pasangan Ahok-Djarot masih dipilih sebagian besar umat Islam.



Sebagai contoh, di kawasan Tegal Parang yang penduduk muslimnya mencapai 96,2%, perolehan suara Ahok-Djarot sebesar 23,1%. Unggul cukup jauh dari pasangan Agus-Sylvi yang hanya meraup 14,2%. Pasangan Anies-Sandi mendapat 62,7% suara di wilayah ini.

Sedang di wilayah Sukabumi Selatan yang penduduk muslimnya 95,9%, Ahok-Djarot mendapat suara sebesar 22,6%. Unggul tipis dari pasangan Agus-Sylvi yang perolehannya sebesar 20,6%, tapi kalah jauh dari pasangan Anies-Sandi yang memperoleh 56,8% suara.

Namun di Kali Baru, wilayah dengan jumlah penduduk Muslim sebesar 97,7%, Ahok-Djarot menjadi juru kunci (25,5%). Anies-Sandi memperoleh suara 45,8%, sedang Agus-Sylvi memperoleh suara sebesar 28,7%.

Data di atas menunjukkan bahwa di wilayah mayoritas muslim, tidak ada pemenang telak lantaran Ahok masih mendapat suara yang signifikan. Hal demikian berbeda dengan perolehan suara Ahok-Djarot di wilayah dengan penduduk non-muslim. Di semua tempat itu, misalnya di Kelapa Gading, Gondangdia, Mangga Besar, dan Glodok, pasangan Ahok-Djarot mengungguli kedua pesaingnya.

"Ahok-Djarot adalah pasangan paling efektif yang memanfaatkan isu SARA di Putaran I Pilkada DKI," pungkas Agus.

Baca selanjutnya: 1 2 3

Komentar