Status Kewarganegaraan Johannes Merliem Belum Jelas

Minggu, 13 Agustus 2017, 09:00:00 WIB - Peristiwa

Pemeriksaan saksi kasus e KTP untuk tersangka Setya Novanto (ANTARA)

JAKARTA, GRESNEWS.COM - Status kewarganegaraan pengusaha bernama Johannes Merliem yang ditemukan tewas di AS ternyata belum jelas. Sosok yang merupakan saksi kunci kasus e-KTP ini, masih akan dipastikan oleh pihak KBRI, termasuk soal penyebab kematiannya.

'KBRI Washington DC dan KJRI LA terus melakukan koordinasi dengan pihak otoritas keamanan setempat untuk memastikan penyebab kematian, status kewarganegaraan,' kata Juru Bicara Kemlu Arrmanatha Nasir, Sabtu (12/8).

Otoritas keamanan AS telah memastikan kematian Johannes. Johannes ditemukan tewas di LA pada Kamis (10/8) dini hari sekitar pukul 02.00 WIB. 'Dari informasi yang diterima KBRI Washington DC dari otoritas keamanan AS, jenazah yang ditemukan meninggal adalah Johannes Marliem,' ujar Arrmanatha.

Otoritas setempat menurut Arrmanatha masih melakukan investigasi terkait penyebab kematian maupun insiden yang terjadi sebelum mayat Johannes ditemukan. 'Otoritas keamanan setempat masih melakukan investigasi terkait penyebab dan insiden sebelum terjadinya kematian tersebut,' tuturnya.

Direktur Jenderal Imigrasi Ronny F Sompie mengatakan hanya ada dua perlintasan terakhir atas nama Johannes Marliem. Dua perlintasan kedatangan dan keberangkatan yang berjarak sebulan.

'Departure (keberangkatan) tanggal 21 Agustus 2016 pukul 19.38 WIB dari Soekarno-Hatta dengan NH856 tujuan Narita (Tokyo) menggunakan paspor nomor B4506941,' kata Ronny saat dihubungi detikcom, Sabtu (12/8).

Johannes tercatat tiba di Bandara Soekarno-Hatta pada 23 Juli 2016 pukul 23.27 WIB dengan paspor nomor A1712448. Sebelum meninggalkan Indonesia, Johannes sempat mengganti paspor menjadi B4506941.

Sosok Johannes memang kontroversial. Johannes merupakan pengusaha Indonesia yang menjabat sebagai Direktur Biomorf Lone LLC Amerika Serikat. Perusahaan tersebut sebagai penyedia produk automated finger print identification system (AFIS) merek L-1 untuk proyek kartu tanda penduduk elektronik.

Menurut media lokal Minneapolis, AS, Star Tribune, Sabtu (12/8), Johannes merupakan salah satu penyumbang dana terbesar untuk pesta inaugurasi kedua Presiden AS Barack Obama. Saat itu, Johannes menyumbangkan dana sebesar US$225.000 (sekitar Rp3,2 miliar) atau hanya selisih US$25.000 dari perusahaan multinasional ExxonMobil.

Selain itu, sumbangan tersebut dua kali lipat dari yang diberikan mantan istri Gubernur Minnesota, Mark Dayton dari Partai Demokrat yakni Alida Messinger. Johannes juga tercatat sebagai CEO dan pendiri Marliem Marketing Group di Minneapolis. Dalam situs perusahaan Johannes tercantum bahwa kantor berada di Minneapolis dan Jakarta, Indonesia dan dibentuk pada tahun 2006 lalu.

Dalam situs web tersebut, perusahaan Johannes bergerak di bidang usaha kecil dan bagi perusahaan AS untuk menjual produk dan layanan di Indonesia. Apalagi, Johannes memiliki kontrak senilai US$600 juta dengan perusahaan yang membuat identifikasi biometrik Sistem yang digunakan di indonesia.

Sementara itu, dalam Pipres AS pada tahun 2016 lalu, Johannes memberikan dana sumbangan sebesar US$100 ribu dan US$125 ribu untuk komite pelantikan presiden. Komisi Pemilu AS mencatat Johannes menyumbangkan dana US$2.500 dan memberi dana senilai US$70.000 untuk kampanye kepresidenan, Komite Nasional Demokratik dan beberapa komite Demokratik negara bagian melalui pengumpulan dana bersama.

Sedangkan pada tahun 2010, Johannes dinyatakan bersalah atas kasus penipuan cek kosong senilai US$10 ribu. Cek kosong tersebut tertulis dari Bank TCF untuk disimpan di rekening bank Wells Fargo.

Dalam sidang perkara korupsi e-KTP, Johannes disebut memberikan sejumlah uang untuk salah satu terdakwa, yaitu Sugiharto. 'Setelah Konsorsium PNRI dinyatakan lulus evaluasi terdakwa II (Sugiharto) melalui Yosep Sumartono menerima uang dari Paulus Tanos sejumlah USD 300 ribu yang diterima di Menara BCA, Jakarta, dan dari Johannes Marliem sejumlah USD 200 ribu, yang diterima di Mal Grand Indonesia, Jakarta,' tulis jaksa dalam surat tuntutan seperti dikutip.

Uang US$200 ribu itu disebut untuk kepentingan membayar advokat, yaitu Hotma Sitompoel. Selain itu, Sugiharto sempat membeli satu unit mobil Honda Jazz dengan uang yang didapatkan dari Johannes.

'Bahwa pada bulan Mei 2012 sampai November 2012, Terdakwa II melakukan pembayaran pekerjaan pengadaan sistem AFIS tahun 2012 yang produknya disediakan oleh Johannes Marliem. Pada bulan Oktober 2012, Terdakwa II menerima uang sejumlah USD 20 ribu dari Johannes Marliem melalui Husni Fahmi, yang kemudian ditukarkan oleh Terdakwa II sehingga memperoleh sekitar Rp190 juta. Kemudian Terdakwa II menggunakan sebesar Rp 150 juta untuk membeli 1 unit mobil Honda jazz nomor polisi B-1779-EKE dan sisanya sebesar Rp40 juta untuk kepentingan pribadi Terdakwa II,' tulis jaksa dalam surat tuntutan. Johannes sendiri, disebut jaksa mendapatkan keuntungan US$14,88 juta dan Rp 25,24 miliar dalam proyek itu. (dtc/mag)

Komentar