Menlu Retno Ingatkan ASEAN Jangan Jadi Proksi Negara Besar

Minggu, 06 Agustus 2017, 15:01:00 WIB - Peristiwa

Menteri Luar Negeri Malaysia Anifah Aman, Menteri Luar Negeri Myanmar U Kyaw Tin, Menteri Luar Negeri Thailand Don Pramudwinai, Menteri Luar Negeri Vietnam Pham Binh Minh, Menteri Luar Negeri Filipina Alan Peter Cayetano, Menteri Luar Negeri Singapura Vivian Balakrishnan, Menteri Luar Negeri Brunei Darussalam Lim Jock Seng, Menteri Luar Negeri Kamboja Prak Sokhonn, Menteri Luar Negeri Indonesia Retno Marsudi, Menteri Luar Negeri Laos Saleumxay Kommasith dan Sekretaris Jenderal ASEAN Le Luong Minh saling berpegangan tangan dalam foto bersama di upacara pembukaan pertemuan ASEAN Regional Forum ke-50 di Manila, Sabtu (5/8). (ANTARA)


JAKARTA, GRESNEWS.COM - Menteri Luar Negeri RI Retno Lestari Priansari Marsudi mengingatkan agar kawasan ASEAN tidak menjadi proksi bagi negara-negara besar. Untuk itu ia menyerukan negara-negara Asia Tenggara agar jangan mau menjadi antek negara lain yang punya kepentingan sendiri.

'Kita harus terus menjaga dan memperkuat kesatuan dan sentralitas ASEAN, dan jangan sampai kawasan ASEAN menjadi proksi bagi negara-negara besar,' ujar Retno saat berbicara diforum pleno ASEAN Foreign Ministers yang digelar di Manila, Filipina, Sabtu (5/8).

Selain menolak menjadi antek negara-negara besar, menurutnya, ASEAN juga harus mampu menjaga diri dari terorisme, kejahatan transnasional, dan ancaman geopolitik. Utama menghadapi segala tantangan itu menurut Retno modal utamanya adalah soliditas regional.

Menurut Menlu salah satu tantangan terbaru yang dihadapi Asean adalah persoalan rivalitas geopolitik, seperti di Laut China Selatan. Untuk itu Retno tekankan, ASEAN harus mampu mengelola situasi dengan menghormati prinsip-prinsip dasar dan hukum internasional serta menjaga hubungan yang baik dengan semua pihak.

Retno menyebut sejauh ini, ASEAN dinilainya berhasil menjaga perdamaian. Menurut Menlu,  di tengah keraguan terhadap multilateralisme dan regionalisme, ASEAN telah membuktikan diri sebagai motor perdamaian dan stabilitas kawasan.

Menurutnya keberhasilan ASEAN itu terjadi karena beberapa kekuatan ASEAN seperti dapat membangun institusi yang menekankan pada perdamaian dan stabilitas.
 
Negara-negara ASEAN telah berhasil mengindari cara gaduh dalam berinteraksi, yakni megaphone diplomacy, dan mengutamakan diplomasi dialog.

'ASEAN telah menjadi aktor kawasan dan global yang dihormati melalui ASEAN-led mechanism untuk membangun dialog dengan negara di kawasan dan di luar kawasan,' tutur dia.

Tantangan ke depan menurut Retno, masyarakat ASEAN  harus bisa dikondisikan agar lepas dari kesenjangan ekonomi. Pembangunan perlu diarahkan kepada keterbukaan, memberdayakan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM), mempercepat perundingan Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP), dan memberikan perlindungan bagi pekerja migran.

Kunci keberhasilan ASEAN ke depan menurutnya, akan ditentukan dari kemampuannya memastikan rakyat ASEAN merasakan hasil dari pembangunan yang dicapai. (dtc/rm)

Komentar