Masyarakat Indonesia yang mayoritas merupakan Umat Islam telah menjalankan ibadah puasa Ramadan selama satu bulan penuh. Kini umat Islam tengah merayakan kemenangan dalam momen Idul Fitri yang jatuh tanggal 5-6 Juni 2019.

Hari raya Idul Fitri adalah merupakan puncak dari pelaksanaan ibadah puasa. Idul Fitri memiliki makna yang berkaitan erat dengan tujuan yang akan dicapai dari kewajiban berpuasa itu sendiri yaitu manusia yang bertaqwa.

Masyarakat Indonesia khususnya Jawa memiliki nama sebutan lain untuk perayaan Idul Fitri ini yakni disebut Lebaran. Lebaran juga bermakna laku papat (empat tindakan) yang dilakukan masyarakat usai Ramadan. Yakni Lebaran mengandung maksud lebar-lebur-luber-labur.

Lebar artinya selesai sehingga kita akan bisa lebaran dari kemaksiatan hingga terbukanya pintu ampunan. Lebur artinya melebur kesalahan dengan saling memaafkan atas segala kesalahan. Sementara luber bermakna meluber atau melimpah. Luber ini merupakan simbol ajaran bersedekah untuk kaum papa.

Terakhir, labur sebagai simbol manusia untuk selalu menjaga kesucian dan kebersihan. Bagi orang yang benar-benar melaksanakan ibadah puasa, maka hati kita akan dilabur menjadi putih bersih tanpa dosa.

Dalam tradisi masyakarat kita saat merayakan Lebaran tak lepas dari hidangan khas yakni ketupat. Ketupat ini memiliki makna mendalam, ngaku lepat atau mengakui kesalahan merupakan arti bahwa sebagai manusia yang tak luput dari kesalahan harus mengakui kesalahan-kesalahan kita.

Sementara bentuk segi empat dari ketupat mempunyai makna kiblat papat lima pancer yang berarti empat arah mata angin dan satu pusat yaitu arah jalan hidup manusia. Ke mana pun arah yang ingin ditempuh manusia hendaknya tidak akan lepas dari pusatnya yaitu Allah SWT. Oleh sebab itu ke mana pun manusia menuju, pasti akan kembali kepada Allah.

Rumitnya membuat anyaman ketupat dari janur diharapkan memberikan penguatan satu sama lain antara jasmani dan rohani. Warna putih ketupat ketika dibelah melambangkan kebersihan setelah bermaaf-maafan. Butiran beras yang dibungkus dalam janur merupakan simbol kebersamaan dan kemakmuran. Janur yang ada di ketupat berasal dari kata jaa-a al-nur bermakna telah datang cahaya atau janur adalah sejatine nur atau cahaya. Dalam arti lebih luas berarti keadaan suci manusia setelah mendapatkan pencerahan cahaya selama bulan Ramadan.

Adapun makna filosofis santen yang ada di masakan ketupat adalah suwun pangapunten atau memohon maaf. Dengan demikian ketupat ini merupakan simbolisasi yang mencerminkan kebersihan dan kesucian hati setelah mohon ampun dari segala kesalahan hal ini merupakan makna filosofis dari warna putih ketupat jika dibelah menjadi dua.

Dari penjabaran tentang Lebaran ini sejatinya kita memiliki modal dasar yang bagus buat memberantas korupsi yang telah menjadi budaya di negeri ini. Sekiranya masyarakat menerapkan dengan benar filosofi dari Lebaran ini maka tugas penegak hukum dalam memberantas Korupsi Kolusi dan Nepotisme ini bisa lebih mudah.

Namun Lebaran telah berulang setiap tahunnya namun korupsi tak juga menurun. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) setiap tahunnya masih disibukkan dengan Operasi Tangkap Tangan (OTT) menangkapi para pejabat korup. Ini menunjukkan budaya korupsi masih marak di masyarakat. Rupanya perbaikan akhlak masyarakat semata tak cukup untuk menghapus budaya korupsi.

Langkah KPK dengan menggeber aksi OTT juga belum menjadi obat yang manjur untuk memberantas korupsi. Apalagi hukuman yang diterima para koruptor ini terbilang ringan hanya hukuman penjara. Bahkan dinegara lain yang menerapkan hukuman mati bagi para koruptor saja belum mampu menghilangkan budaya korupsi. Perlu kiranya dilakukan diagnosa sosial lebih dalam untuk merancang strategi baru dalam pemberantasan korupsi.

Disamping memperkuat dan memperbaiki akhlak individu masyarakat perlu juga menciptakan sistem yang dapat menghilangkan perilaku koruptif pada masyarakat. Tak perlu lagi memperdebatkan mana yang lebih penting perbaikan individu atau sistem, layaknya lebih dulu telur atau induk ayam. Keduanya selayaknya dijalankan secara sinergi dan konsisten. Saatnya membuat strategi baru yang ampuh menghapus KKN. Jangan sampai negeri ini hancur karena perlilaku koruptif dari masyarakatnya sendiri.