Rintihan Haringga Sirla (23), seorang suporter Persija tak dipedulikan para suporter Persib di lapangan parkir Stadion Bandung Lautan Api (GBLA). Aksi keji bobotoh Persib dan hantaman benda keras di kepala mengakhiri hidup Haringga sebelum pertandingan kedua klub sepakbola itu berlangsung.

Dunia sepak bola Indonesia pun kembali berkabung. Haringga menjadi korban tewas ketujuh dalam aksi kekerasan yang mewarnai pertandingan sepakbola antara Persib melawan Persija.

Bukan kali ini saja maut menari di atas para suporter sepakbola Indonesia. Tercatat sudah 57 nyawa tercabut sejak 1995-2017 menjadi tumbal sengkarut pengelolaan sepakbola di tanah air ini.

Tentu harus ada yang bertanggung jawab atas peristiwa berdarah tersebut. Pada belahan dunia mana pun, induk sepak bola lah yang seharusnya memikul beban tanggung jawab. Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) seharusnya mengeluarkan kebijakan untuk meminimalisir terulangnya pembunuhan suporter.

Mampukah PSSI membenahi hal ini? Melihat kondisi saat ini sangat pesimis. Terlebih ketua PSSI saat ini Edy Rahmayadi, menjadi gubernur Sumatera Utara. Pembenahan PSSI boleh jadi hanya menjadi pekerjaan sambilan saja.

Dan memang sudah sejak lama pengelolaan induk sepak bola Indonesia yang sudah ada sejak 1930 ini dikelola ngasal. Terhitung sejak dipegang Nurdin Halid tahun 2003-2011 yang merupakan politisi Golkar arah PSSI tak jelas juntrungannya. Bahkan Indonesia sempat menjadi sorotan dunia lantaran pada 2005 PSSI dipimpin dari balik jeruji besi.

Nurdin saat itu dihukum penjara karena kasus korupsi. Selepas Nurdin, PSSI dipimpin Djohar Arifin pun tak ada perbaikan bahkan terjadi dualisme PSSI dengan dua liga dan timnas. Sampai FIFA memberi sanksi larangan timnas berlaga di pentas internasional.

Belakangan, harapan rakyat akan masa depan sepak bola sempat muncul. Sekolah sepak bola tumbuh bak cendawan di musim hujan. Semakin banyak anak yang bercita-cita menjadi pemain sepak bola. Namun harapan itu tak diimbangi dengan profesionalisme PSSI.

Kalau acuannya menggunakan peringkat maka kini posisi Timnas Indonesia terjerembab di peringkat 164 dari 211 negara. Peringkat timnas Indonesia jauh tertinggal dari Vietnam (104), Filipina (114), bahkan masih di bawah negara termiskin di dunia Ethiopia (149). Padahal Indonesia pernah menduduki peringkat ke-76 dunia di era 1999. Artinya, jika dikelola dgn baik, sepak bola Indonesia mampu berprestasi.

Langkah PSSI menghentikan kompetisi Liga 1 2018 hingga waktu yang tak ditentukan sebagai bentuk keprihatinan atas tewasnya Haringga, kita apresiasi. Namun itu tak cukup, Save Our Soccer (SOS), lembaga swadaya yang mengamati isu sepak bola nasional, mencatat sebanyak 22 suporter meninggal sejak Edy menjabat ketua umum PSSI pada 10 November 2016.

Sudah saatnya PSSI berbenah diri, mereformasi kebijakannya bahkan bila perlu kepengurusannya pun baru. Diisi oleh orang-orang yang mengerti permasalahan sepakbola. Jangan lagi memilih pengurus politisi, apalagi yang merangkap jabatan lantaran masalah dalam PSSI begitu kompleks dan rumit. Agar prestasi sepakbola Indonesia bisa mendunia dan tak lagi ada Haringga lain yang menjadi korban salah urus PSSI.