JAKARTA, GRESNEWS.COM - Hari Raya Idul Fitri yang dirayakan oleh seluruh umat muslim di dunia, bagi bangsa Indonesia nampaknya bukan lagi sekadar ritual perayaan kemenangan bagi umat Islam semata. Di negara kepulauan dengan berbagai macam suku bangsa, adat istiadat, budaya, dan agama ini, semangat Idul Fitri pun kerap turut dirasakan oleh mereka yang beragama non-Islam.

Ketua Umum Perhimpunan Pemuda Hindu (Peradah) Indonesia Wayan Sudana menyatakan, dalam memaknai hari raya umat Islam ini, umat Hindu juga ikut menanamkan semangat toleransi dan bersama-sama membangun semangat kebersamaan. "Basic negara kita kan keberagaman, Bhinneka Tunggal Ika," katanya kepada gresnews.com.

Apalagi, momentum Idul Fitri ini, kata Sudana, cukup istimewa bagi umat Hindu karena jatuhnya hampir bersamaan datangnya dengan hari raya Galungan. Bagi umat Hindu, Galungan diartikan merayakan kebenaran darma atas kebatilan.

"Sehingga memiliki semangat yang sama dengan Idul Fitri yang merayakan kemenangan atas perlawanan terhadap hawa nafsu selama satu bulan penuh," ujarnya.

Kesamaan semangat melawan hawa nafsu inilah, kata Sudana, yang bisa dijadikan landasan bagi para pemeluk keyakinan yang berbeda ini untuk sama-sama melangkah dalam ikatan persatuan. Kebersamaan antara umat Islam dan Hindu di Indonesia, kata dia, selama ini sudah terbangun dengan baik.

Di kampungnya, di Lampung, misalnya, menurut Sudana, saat H-1 Idul Fitri para umat Muslim saling memberikan makanan khas lebarannya, ketupat. Pun saat siang hari setelah Shalat Ied, ia dan teman-teman seagamanya sering berkunjung, silaturahmi dan mengucapkan selamat ke warga muslim.

Begitu juga umat Hindu yang esok akan merayakan Galungan, para tetangga muslimnya pun bertandang ke rumah mengucapkan selamat. "Kami pun hari ini ada bagi-bagi makanan ke teman-teman muslim. Adatnya ngerantang, memakai rantang," ujarnya.

TRADISI NGEJOT YANG MEMPERSATUKAN - Di Bali, umat Hindu memiliki tradisi bernama Ngejot. Tradisi ini semacam kebiasaan saling menghantar makanan dalam rangka menghormati pemeluk agama lainnya. Biasanya, menjelang hari raya Idul Fitri, umat Islam di Bali menjalankan tradisi membagi-bagikan makanan ini kepada para tetangganya.

Di Bali, tradisi Ngejot dilakukan oleh umat Muslim di Kampung Islam Kepaon, Denpasar Selatan atau di Muslik Pegayaman di Kabupaten Buleleng. Jika warga Hindu ngejot makanan berupa urab, lawar, daging babi, maka umat muslim ngejot makanan khas Lebaran, seperti opor ayam.

Tidak hanya Ngejot, selama Ramadan masih ada tradisi yang menarik yaitu Megibung. Ini adalah buka puasa dengan makan bersama dalam satu nampan. Megibung ini juga tradisi turun-temurun warga Kampung Islam Kepaon di hari 10, 20 dan 30 hari puasa.

Kegiatan Megibung di Kampung Islam Kepaon ini dimulai menjelang bedug tanda berbuka puasa berbunyi. Satu persatu warga berdatangan ke Masjid Al Muhajirin. Mereka berkumpul di teras masjid sembari menunggu datangnya waktu berbuka puasa. Saat waktunya tiba, kolak dan berbagai jajanan pun dibagikan.

Usai menyantap kolak, warga pun bersiap mengikuti salat maghrib. Setelah salat, barulah warga melakukan makan bersama dengan cara Megibung. Semua berbaur, ada Melayu, Bugis, Palembang, maupun dari Bali sendiri. Mereka berkelompok 4-5 orang, kemudian dibagikan makanan dalam nampan dan lanjut makan bersama.

Tak hanya warga setempat, warga dari luar pun turut larut dalam kebersamaan itu. Warga juga bisa coba ikut Megibung di masjid-masjid Bali. Sementara di Hari Raya Idul Fitri nanti, warga juga bisa ikut menerima Ngejot dari warga sekitar. Tradisi saling menghormati antara umat Islam dan Hindu ini juga terjadi di wilayah-wilayah lain di Indonesia.

SEMANGAT MENGHAPUS RADIKALISME - Sudana setuju, radikalisme dalam agama yang tumbuh pada setiap agama yang ada di Indonesia memang harus diperbaiki. Dia mengatakan, tumbuhnya radikalisme ini kerap dilatarbelakangi kurangnya pemahaman pada dasar-dsar berkehidupan di agamanya masing-masing.

"Sebab, pada dasarnya, tujuan semua agama untuk mencapai kebaikan bersama," ujarnya.

Apalagi di Indonesia negara yang berdasar pancasila dan Bhineka Tunggal Ika yang seharusnya lebih mengamalkan rasa saling menghargai. "Paham radikalisme atau mengganggap agama sendiri paling benar dalam bermasyarakat ini tak tepat," katanya.

Ia menyatakan, hubungan kebenaran dapat diklaim saat hubungan vertikal dengan Tuhan, saat berhorizontal di masyarakat, agama mengajarkan untuk saling menghargai. Peran negara dan tokoh agama, menurutnya, amat berpengaruh untuk memberikan pemahaman ajaran agama yang tepat kepada umatnya.

"Di Hindu selalu ditanamkan semangat kebersamaan. Kepada teman-teman lain juga begitu, baik Islam, Kristen, Protestan, Budha, Konghucu," ujarnya.

Tataran pemahaman pluralitas di mayoritas masyarakat dinilainya sudah mulai baik. Sayangnya memang ada suara-suara minoritas radikal yang tinggi dan gencar tersiar sehingga suara mayoritas yang menghargai pluralitas jadi tertimbun dan tak terlihat.

"Negara dan tokoh agama harus memberikan ketegasan pemahaman yang baik karena radikalisme akan memberikan citra buruk pada agama itu sendri," ujarnya.

Sudana lebih setuju pelanggaran-pelanggaran terhadap hukum yang berlaku dilarikan dengan sanksi yang juga sesuai hukum positif di negara tersebut. Sedang masalah penyadaran, dikembalikan pada tokoh agama masing-masing.

Sudana juga menghargai tradisi mudik yang sering dilakukan umat Islam di Indonesia menjelang Idul Fitri. Dia menilai, secara ekonomi, tradisi mudik akan menghidupkan perekonomian di tengah masyarakat. "Mudik sudah menjadi bukti, ada perputaran uang di mmasyarakat. Tidak masalah karena juga setahun sekali," katanya. (dtc)