JAKARTA, GRESNEWS.COM - Idul Fitri tak hanya menjadi hari suka cita untuk kaum muslim semata. Umat lain, seperti halnya Umat Buddha, menyatakan kegembiraan menyambut datangnya hari raya tersebut. Budaya pluralisme ini sudah lama ditanamkan untuk terus menciptakan keberagaman yang indah. Meski banyak agama dan kepercayaan di negeri ini, mereka tetap menjalin kebersamaan.

Ketua Bidang Kerukunan Agama Perwakilan Umat Buddha Indonesia (Walubi) Suhadi Sanjaya menyatakan, pluralisme merupakan suatu kondisi yang normal dan memang sesuai serta harus diterapkan pada keragaman agama di Indonesia. "Kondisi ini sesuai hukum alam semesta, keberagaman manusia akan menjadi sebuah keindahan yang sangat bagus dan baik," katanya kepada gresnews.com.

Untuk itulah, pada hari yang fitri ini, mereka juga memahami secara sadar dan ikut bergembira tatkala melihat kegembiraan kaum muslim. Pluralisme ini tak hanya diciptakan saat hari raya saja, namun pada prinsipnya, Buddha berarti "sadar" jadi segala aktivitas sehari hari mereka ciptakaan kesadaran. Seperti alam semesta yang napas dan iramanya ingin selalu memberi kebahagiaan dan kegembiraan pada orang lain.

Ia pun menceritakan, pada momen hari raya Idul Fitri, umat Buddha seringkali berkunjung dan mengucapkan selamat dan turut bergembira, begitupun sebaliknya. "Kami juga bekerja sama membangun suasana beribadah yang kondusif, suasana seperti ini sudah berlangsung selama berabad-abad," jelas Suhadi.

Namun, walau bagaimanapun juga, perayaan Idul Fitri atau hari raya agama lain saat ini sedang berbarengan dengan kondisi ekonomi Indonesia yang sulit. Ia mengimbau seluruh umat berperilaku normal, artinya perayaan ini harus disesuaikan dengan kondisi ekonomi yang sedang prihatin.

"Kegembiraan tak sama dengan berhambur-hambur, kegembiraan ini satu kondisi yang muncul dari hati. Jadi tentu baiknya semua bisa menyesuaikan dengan kondisi," katanya.

MENOLAK KEKERASAN - Konteks pluralisme yang telah tercipta sekian abad lamanya membuat ia menaruh rasa heran pada kelompok-kelompok yang mengatasnamakan agama tertentu namun memecah belah pluralisme yang ada. Menanggapi ini, ia sendiri tak ambil pusing, yang terpenting saling menjaga diri sendiri untuk tak melakukan perbuatan yang sama.

Artinya, bagi yang sadar tentu tak akan terpengaruh oleh prilaku seperti itu. "Kita jangan terpengaruh, sebab itu bukan representasi keseluruhan umat Islam, sebab saya yakin Islam bukanlah kekerasan," katanya.

Tiap-tiap umat yang menjalankan ajaran agamanya masing-masing dengan bersungguh-sungguh tentu paham, tak ada agama manapun yang mengajarkan kekerasan. Sebab kekerasan bukanlah perilaku umat beragama.

"Jika ada sekelompok orang tertentu melakukan kekerasan maka mereka bukanlah cerminan agama yang diakunya," papar Suhadi.

BIASA KERJASAMA - Kebersamaan antara umat muslim dan Umat Buddha terutama Walubi telah berlangsung bertahun-tahun. Dalam momen-momen tertentu mereka bisa menggalang kegiatan bersama, seperti bakti sosial atau diskusi bersama.

Kegiatan bersama antara dua penganut dua agama terakhir adalah kerjasama merespons banjirnya pengungsi muslim dari Rohingya. Majelis Ulama Indonesia dan Perwakilan Umat Buddha Indonesia bahu membahu  membantu kedatangan ratusan pengungsi Rohingya yang terdampar di Aceh dan Sumatera Utara.

"Kami dari dua perhimpunan agama di Indonesia bertekad untuk membantu penampungan para pengungsi dengan menyerahkan bantuan logistik agar bisa digunakan langsung di Aceh dan Sumatera Utara," kata Ketua Bidang Kerukunan Antarumat Beragama MUI Slamet Effendi Yusuf dalam pernyataan sikap bersama MUI dan Walubi, Mei lalu.

Selain menggalang bantuan untuk pencari suaka asal Myanmar ini. MUI dan Walubi ini juga bersepakat  mendesak pemerintah untuk menggalang negara-negara ASEAN agar mencari jalan menyelesaikan kemelut warga Rohingya.