Bagi pengamat terorisme dan intelijen Mardigu B. Prasantyo ancaman teror dari kelompok tertentu memang masih ada. Peringatan yang disampaikan Australia tersebut sebetulnya bentuk sindiran bagi pemerintah Indonesia yang dinilai masih belum mampu mengatasi terorisme.

JAKARTA, GRESNEWS.COM - Pemerintah Australia mengeluarkan travel warning kepada warganya untuk berhati-hati saat berada di Indonesia karena adanya kemungkinan ancaman teror, terutama saat perayaan pergantian tahun 2013. Peringatan terbaru ini menyebutkan bahwa teroris tetap aktif di Indonesia meskipun pihak keamanan sudah berusaha menghentikan mereka. "Pihak berwenang Indonesia sudah memperingatkan bahwa kelompok ekstrimis mungkin berencana menyerang gereja di Jakarta dan di tempat lain di Indonesia, menjelang perubahan ke tahun 2014," demikian bunyi peringatan tersebut.

Bagi pengamat terorisme dan intelijen Mardigu B. Prasantyo, ancaman teror dari kelompok tertentu memang masih ada. Peringatan yang disampaikan Australia tersebut sebetulnya bentuk sindiran bagi pemerintah Indonesia yang dinilai masih belum mampu mengatasi terorisme. "Harusnya itu menjadi tamparan bagi Indonesia karena terorisme masih ada," kata Mardigu kepada Gresnews.com, Selasa (31/12).

Padahal saat ini, kata Mardigu, gerakan teror yang berkembang tidak seperti dulu lagi. Gerakannya kecil dan bersifat sporadik. Mereka tidak memiliki pemikiran jangka panjang seperti membangun negara Islam. Pikiran mereka hanya kepentingan jangka pendek. Selain itu kata dia, pola gerakan dan target teroris saat ini mengalami perubahan. Jika dulu yang menjadi sasaran adalah warga masyarakat, maka sekarang yang jadi target adalah aparat kepolisian. "Lihat saja tujuh kejadian terakhir, semua targetnya adalah polisi," katanya.

Pergerakan teroris yang berpotensi menciptakan rasa tidak aman bukan tidak dalam pantauan polisi. Pernyataan Kapolri Jendral Sutarman beberapa waktu lalu seperti memberi penegasan atas sinyal itu. Sutarman menyatakan, ada berbagai indikasi kelompok militan sedang merakit bom guna menyerang rumah-rumah ibadah. "Kelompok teroris memiliki sel dan mereka aktif. Kami terus memburu mereka," kata Sutarman di Mabes Polri akhir pekan lalu.

Pernyataan Kapolri itu kemudian disikapi serius oleh jajarannya. Menurut Kepala Biro Penerangan Masyarakat Brigjen Polisi Boy Rafli Amar sejak menjelang Natal dan Tahun Baru, polisi gencar melakukan operasi penyisiran terhadap sel-sel yang diduga menjadi tempat hidup jaringan terorisme di Indonesia. Hasilnya Tim Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri berhasil menangkap satu terduga teroris bernama Atok Margono. Margono yang selama ini masuk dalam daftar pencarian orang (DPO) merupakan jaringan kelompok teroris Santoso dan juga terlibat dalam aksi bom bunuh diri di Poso beberapa waktu yang lalu.

Sebelumnya, Densus 88 Polri juga berhasil menangkap beberapa terduga teroris di Sumatera Utara. Ketiga orang itu, Hayat (27), Tomas (33) dan Fahrul Rozi (32) ditangkap di Jalan Veteran Medan. Mereka diduga sebagai anggota kelompok Fadli Sadama, narapidana kasus terorisme yang ditangkap di Malaysia setelah kabur dari Lapas Tanjung Gusta pada pertengahan Juli lalu.

Di samping kelompok Fadli, Densus juga menangkap satu orang terduga teroris bernama Ruri Alexander Rumatarai alias Iskandar di Jalan Gajah Mada, Kampung Penatoi, Kabupaten Bima, NTB. Ruri aktif mengadakan pelatihan teroris di wilayah Sulawesi dan beberapa wilayah lain untuk melakukan aksi terornya di beberapa wilayah.

Ancaman teror juga pernah disampaikan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme Ansyad Mbai. Ansyad mengingatkan aparat keamanan harus mendeteksi dini aksi terorisme menjelang Natal dan pemilihan umum 2014 mendatang. Saat ini, masih banyak kelompok teroris yang tersebar di Indonesia yang mempunyai hubungan dan tujuan yang sama untuk melakukan aksi-aksi kekerasan seperti yang diserukan oleh tokoh-tokoh teroris.