Ekonomi Indonesia Pulih Walau Lebih Lambat dari Perkiraan

Kamis, 24 Agustus 2017, 14:30:17 WIB - Peristiwa

Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo (tengah) didampingi Deputi Gubernur Senior Mirza Adityaswara (kiri) dan Deputi Gubernur Perry Warjiyo (kanan) menyampaikan hasil Rapat Dewan Gubernur di Jakarta, Selasa (22/8). Bank Indonesia (BI) akhirnya menurunkan suku bunga acuan BI 7-Days Reverse Repo Rate ke level 4,50 persen atau turun 25 bps dibandingkan bulan sebelumnya. (ANTARA)

Perlahan namun pasti perekonomian Indonesia mulai pulih dari arus perlambatan ekonomi dunia. Pada 2015 silam, Indonesia sampai menyentuh level terendah dalam satu dekade terakhir, dengan realisasi pertumbuhan ekonomi 4,8%. Tahun berikutnya, ekonomi Indonesia kembali berbalik tumbuh lebih tinggi dengan realisasi 5,02%. Semua pihak kembali ke jalur optimistis dengan meningkatkan proyeksi untuk 2017 dan 2018.

Bank Indonesia (BI) memproyeksikan ekonomi 2017 bisa mencapai rentang 5-5,4% dan proyeksi pemerintah 5,2%. Akan tetapi hingga kuartal II-2017, ekonomi Indonesia hanya tumbuh 5,01%.

Gubernur BI, Agus Martowardojo, menganggap pemulihan ekonomi Indonesia lebih lambat dari yang diperkirakan. Meskipun pertumbuhannya masih lebih baik dari banyak negara berkembang di dunia. 'PDB tumbuh 5,01% pada kuartal kedua 2017, mengindikasikan proses pemulihan yang berlanjut walaupun lebih lambat dari yang diperkirakan,' ujar Agus dalam sambutannya saat membuka 11th International Conference, Bulletin of Monetary Economics and Banking 2017 di Gedung BI, Jakarta, Kamis (24/8).

Agus mennjelaskan, Indonesia harus dihadapkan dengan berbagai perubahan di tataran global. Seperti penetrasi ekonomi digital, penurunan pangsa sektor manufaktur, harga bahan bakar yang lebih fleksibel, dan cakupan sistem jaminan sosial yang lebih luas.



Walaupun kondisi pemulihan yang masih berlanjut, akan tetapi ekonomi Indonesia dalam level yang stabil. Inflasi terkendali pada level yang lebih rendah dari perkiraan semula, sehingga mendukung pencapaian sasaran inflasi sebesar 4% plus minus 1% tahun 2017. Hingga Juli, inflasi tercatat 2,60% (ytd) atau secara tahunan mencapai 3,88% (yoy).

Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) mencatat surplus US$ 700 miliar ditopang oleh surplus transaksi modal dan keuangan sebesar US$ 5,9 miliar melebihi defisit neraca transaksi berjalan sebesar US$ 5 miliar (1,96% PDB). Cadangan devisa bahkan sempat menembus level tertinggi, yaitu US$ 127,7 miliar.

'Cadangan devisa pada Juli 2017 mencapai rekor baru sebesar US$ 127,76 miliar sejak Agustus 2011, dan kecukupannya meningkat sejak kuartal keempat 2013 sampai 8,7 bulan impor dan pembayaran utang negara,' kata Agus. Di samping itu nilai tukar juga stabil pada level Rp 13.300/US$. (dtc/mfb)

Komentar