Tarik Ulur Eksekusi Teror Kelompok Abu Sayyaf

Senin, 25 April 2016, 18:28:05 WIB - Internasional

Royke Frans Montolalu menggendong anaknya saat tiba di Bandara Sam Ratulangi, Manado, Sulawesi Utara, Minggu (24/4). Royke adalah salah seorang Anak Buah Kapal (ABK) TB Henry yang berhasil melarikan diri saat dibajak oleh kelompok bersenjata Abu Sayyaf di perairan perbatasan Malaysia-Filipina pada Jumat (15/4) lalu. (ANTARA)

JAKARTA, GRESNEWS.COM - Kelompok Abu Sayyaf terus menebar teror dengan mengeluarkan ultimatum untuk memenggal salah satu dari empat sandera asing pada hari ini (25/4/2016) pukul 14.00 waktu Filipina jika tebusan untuk empat sandera asing itu tidak dibayar. Namun hingga saat ini belum juga ada kabar apakah kelompok yang tergabung dalam ISIS ini jadi melakukan eksekusi.

Abu Sayyaf yang telah bersumpah setia pada ISIS menuntut uang tebusan masing-masing sebesar 300 juta peso. Empat sandera asing yang diancam itu adalah warga Norwegia; Kjartan Sekkingstad, dua warga Kanada; John Ridsdel, 68, dan Robert Hall, 50 , dan satu warga Filipina; Marites Flor.

Empat warga asing dari tiga negara tersebut disandera di Filipina selatan sejak 21 September lalu, setelah mereka diculik dari sebuah resor di Samal Island, Provinsi Davao del Norte. Mereka diduga menjadi tawanan di kamp Abu Sayyaf di dekat Pulau Jolo.

Pengamat Terorisme, Harist Abu Ulya menyatakan saat ini terdapat perang psikologis yang diungkap Abu Sayyaf untuk menekan pihak yang bertanggung jawab untuk membayar agar tebusan mereka dapatkan. "Namun bisa jadi jika tebusan itu tidak didapat dan negara yang disandera juga pasif kemungkinan eksekusi yang sama juga membayangi sandera WNI," katanya kepada gresnews.com, Senin (25/4).

Opsi yang berkembang bahwa perusahaan siap untuk membayar pun tak semudah yang dibayangkan. Sebab hal ini terbentur eksekusi dan teknis yang rumit. Misalnya urusan oleh pihak bank, bagaimana pembayaran dilakukan dan cara pembebasan sandera.

Perusahaan tentulah tidak punya kapasitas untuk melakukan itu semua dan negara lah yang harus mengambil peran untuk hal tersebut. "Mungkin satu atau dua akan dieksekusi sebagai pesan bahwa mereka serius mengeksekusi sandera jika pemerintah tak cepat," ujar dia.

Hingga saat ini pemerintah Indonesia masih optimis dengan pendekatan non militer dan berusaha meyakinkan kelompok Abu Sayyaf agar membebaskan sandera. Sayangnya cara-cara bawah tanah ini tidak dibuka ke publik sehingga masyarakat khususnya keluarga para tawanan berharap-harap cemas.

Dari catatan yang ada, ia menyatakan bisa jadi kelompok ini tak main-main dengan ancamannya. Di samping itu, pola Abu Sayyaf saat diburu selalu membawa sandera. "Apabila terdapat operasi militer, dan membahayakan penyandera maka kemungkinan pilihan ekstremnya ya dieksekusi para sandera tersebut," katanya.


Baca selanjutnya: 1 2

Komentar