Menanti Pengungkapan Kasus Novel Baswedan

Kamis, 11 Mei 2017, 12:30:00 WIB - Hukum

Ketua KPK Agus Rahardjo (kiri) dan dua mantan pimpinan KPK, Johan Budi (kedua kiri) dan Taufiequrachman Ruki (kedua kanan) memberikan keterangan pers usai melakukan pertemuan tertutup di gedung KPK, Jakarta, Kamis (4/5). Kedatangan Taufiequrachman Ruki dan Johan Budi tersebut sebagai bentuk dukungan terhadap KPK berkaitan dengan teror air keras kepada penyidik senior KPK Novel Baswedan. (ANTARA)

JAKARTA, GRESNEWS.COM - Satu bulan sudah polisi belum juga menemukan pelaku penyiraman air keras pada penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan. Terakhir polisi telah mengamankan pria berinisial AL atas petunjuk dari Novel namun polisi menyatakan masih perlu mendalami lebih lanjut apakah AL pelaku penyerang atau bukan.

"Belum dipastikan ini pelaku atau bukan. Saksi saja belum," kata Kabid Humas Mabes Polri Irjen Setyo Wasisto dalam konferensi pers di Mapolda Metro Jaya, Rabu (10/5) malam.

AL ditangkap di suatu tempat di kawasan Jakarta. Polisi mendapatkan profil AL langsung dari foto yang diberikan Novel kepada polisi.

Meski begitu, polisi perlu mendalami lebih lanjut mengenai peran AL. Termasuk kepastian di mana posisi AL pada saat sebelum dan tepat ketika kejadian penyerangan. "Kami masih mendalami dia di mana saat kejadian, sedang apa, dan lain-lain," ujar Setyo.



AL saat ini masih diperiksa di Polda Metro Jaya. Dia masih berstatus sebagai terperiksa.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Argo Yuwono membeberkan apa saja yang telah dilakukan polisi. "Jadi awalnya dulu ya, ada memang dua orang yang pernah diberi informasi ke kepolisian, berinisial M dan H," jelas Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Argo Yuwono kepada wartawan saat jumpa pers di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Rabu (10/5) malam.

Polisi kemudian mengecek alibi M dan H. Dari hasil pengecekan, keduanya tidak ada di lokasi kejadian pada saat kejadian, Selasa, 11 April tersebut. "Saksi H ini berada di Bekasi, saudaranya kami periksa, kalau yang bersangkutan bukan pelakunya. Yang kedua berinisial M, posisinya ada di Tambun," ungkapnya.

Tidak berhenti sampai situ saja, polisi terus menyelidiki pelaku teror tersebut. Sampai akhirnya polisi menemui Novel di Singapura. "(Dari) tim yang ada di Singapura, kami dapatkan foto dari seseorang yang berada di sana. Nah, kami kemudian mengamankan seseorang berinisial AL," ungkap Argo.

Polisi saat ini masih memeriksa AL secara intensif. Polisi juga menyinkronkan keterangan AL dengan alat bukti lainnya. "Nah, AL ini masih kami dalami," imbuhnya.

Air keras itu, menyebabkan Novel bengkak di kelopak mata bagian bawah kiri dan berwarna kebiruan. Serta bengkak di dahi sebelah kiri dikarenakan terbentur pohon. Selanjutnya pelaku melarikan diri.

Saat ini Novel sendiri masih berada di Singapura untuk menjalani perawatan intensif. Adapun, efek penyerangan air keras terhadap penyidik senior KPK tersebut ternyata tidak hanya mengenai mata. Air kimia itu ternyata juga mengenai rongga hidung.

Juru Bicara KPK Febri Diansyah menyatakan pemeriksaan Novel oleh dua dokter ahli, yaitu dokter mata dan THT. Kendati, Febri menuturkan, efek air keras yang mengenai rongga hidung Novel tak sampai mengenai saluran pernapasan kepala penyidik kasus e-KTP itu.

"Dokter telah melakukan proses pembersihan rongga hidung, dan dikeluarkan cukup banyak darah yang menumpuk di rongga hidung. Kami bersyukur efek tersebut tidak sampai ke saluran pernapasan," ujar Febri, Kamis (20/4) lalu.

Meski air keras tersebut tidak melukai hingga saluran pernapasan, kulit hidung terbakar. Saat ini sedang menunggu proses pertumbuhan kulit bagian rongga hidung yang terbakar tersebut.

Baca selanjutnya: 1 2

Komentar