INSPIRASI MERY UNTUK KESETARAAN PENDIDIKAN




Terinspirasi susahnya memperoleh pendidik saat kecil, Mery Rosmaryati, 34 tahun membuka tempat pendidikan untuk warga miskin dilahan sewaan.


Perkampungan kumuh di kawasan Prapatan Mega, Rawamangun Jakarta Timur perlahan yang semula sepi mendadak riuh. Satu per satu bocah usia belasan tahun berdatangan menuju sebuah bangunan semi permanen berukuran 5x5 meter. Bangunan semi permanen itu oleh warga setempat menjadi tempat ibadah dan dinamai Mushola At-Taubah. Namun tempat ini tak hanya difungsikan sebagai tempat beribadah, juga untuk tempat belajar dengan nama Rumah Belajar Teko.

Anak-anak tak mampu ini terlihat riang membawa buku gambar serta pensil dan crayon. Sejurus itu anak-anak pun larut dalam keasyikan menggambar sesuai keinginan dan khayalan mereka.  

"Ayo gambar yang bagus nanti di nilai," seru suara dari wanita paruh baya yang menemani mereka belajar menggambar.

Perempuan itu Mery Rosmaryati, 34 tahun ini. Wanita inilah pelopor sekaligus penggagas pendirian rumah belajar bagi anak-anak warga tak mampu di sekitar kawasan Prapatan Mega. Kebanyakan anak-anak yang belajar di Rumah Belajar Teko ini adalah anak-anak  dari keluarga yang serba kekurangan, orang tua mereka tidak mempunyai mata pencaharian tetap. Mulai dari pedagang rujak keliling, pemulung, pengamen, mengumpul sampah, maupun pekerjaan serabutan yang tidak pernah jelas waktu kerja dan pendapatannya.

Menurut Mery, Rumah Rubel Teko merupakan singkatan dari Rumah Belajar Teras Koalisi. Selain itu, Rubel Teko juga memiliki filosofi sendiri yaitu rumah belajar yang kecil seperti Teko. "Biar kecil tetapi bisa muat banyak," ujar Mery membuka perbincangan dengan gresnews.com.

Berdiri pada tahun 2011 di atas lahan yang di sewanya dari hasil menyisihkan sebagian gaji suami  yang bekerja di sebuah perusahaan travel. Lahan ini dulu menurut Mery merupakan lahan penuh tumpukan sampah. "Saya bersihkan kerjain sendiri sampahnya, kalau pagi saya bakarin sampahnya, kalau malam suami pulang kerja dia bantuin," tutur ibu 3 orang anak ini.

Setelah bersih awalnya Mery berniat membuat bangunan untuk di kontrakan berupa petakan-petakan kamar. Namun niat tersebut berubah, Mery teringat anaknya yang harus menempuh perjalanan cukup jauh untuk belajar mengaji. "Akhirnya saya niatin satu petak kamar berukuran 3x3 sebagai Musholla, jadi awalnya sebagai Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA) yang diajarkan oleh seorang pengajar Sukarela dan beberapa pengajar sukarela dari Asrama Sunan Giri," ujarnya.

Seiring waktu,jumlah anak-anak yang belajar mengaji di Mushola At-Taubah kian bertambah banyak. Kegiatan ini pun mendapat perhatian sekelompok mahasiswa dari universitas negeri ada tak jauh dari perkampungan itu. Bantuan pun datang."Mushola lalu saya bisa perbesar sedikit jadi bisa menampung lebih banyak anak-anak," ujarnya.

Selain bantuan dana, para mahasiswa ini juga memberikan bantuan lain yang lebih berharga yaitu berupa pendampingan belajar akademik bagi anak-anak yang memiliki kesulitan belajar terutama membaca dan berhitung selain pendidikan membaca Al-Qur’an.

Hal ini membuat Mery semakin bersemangat, mengingat kesulitan memperoleh pendidikan yang layak juga pernah dialaminya saat kecil. "Dulu saya sama seperti anak-anak ini, 17 tahun saya jadi anak jalanan. Dari umur 11 tahun telah terbiasa mengamen  di perempatan Pasar Pramuka," kenang Mery.

Mery kecil merasakan susahnya memperoleh ilmu."Dulu orang tua kalau saya mau sekolah itu di suruh kerja dulu cari duit sendiri, dulu SPP mahal. Jadi saya gak mau anak-anak ini seperti saya dulu. Saya gak ingin anak-anak Indonesia kurang pendidikan," tuturnya.

Meski bantuan datang dari berbagai pihak terutama dari kalangan mahasiswa, menurut Mery, tetap saja ada hambatan memperjuangkan pendidikan untuk anak-anak keluarga kurang mampu. Hambatan utama datang dari para orang tua anak-anak itu sendiri yang kurang mau mengajak anak-anaknya untuk belajar.

"Mereka lebih suka anak-anaknya cari duit," kata Mery. Namun Mery tidak putus asa.Pendekatan kepada para orang tua pun terus dilakukan dengan cara menyambangi rumah mereka satu per satu. "Saya ngomong ke orang tua anak-anak ini kalau saya tidak minta apa-apa dari mereka,yang penting anak kalian belajar saja," ungkap Mery.

Berkat usahanya menyadarkan para orang tua akan pentingnya pendidikan akhirnya mereka luluh dan mulai aktif mendorong anak-anak mereka belajar di Rubel Teko."Saya memang sudah niat dalam hati untuk tidak meminta apa pun dari orang tua anak-anak ini, buku dan alat tulis biar saya yang usaha nyari".

Mery mengaku menemukan kebahagiaan tersendiri dengan bisa memberikan tempat bagi anak-anak yang kurang mampu untuk bisa memperoleh sedikit pendidikan."Senang karena anak-anak dapat pendidikan,bicara mereka pun kini sudah tidak kasar lagi,karena kita ajarin juga sopan santun" ujarnya.

Anak-anak kurang mampu tengah menikmati pelajaran menggambar di Rubel Teko.

Lemari usang tempat menyimpan buku pelajaran anak-anak Rubel Teko.

Seorang anak beribadah di dalam mushola yang sekaligus di jadikan rumah belajar bagi anak-anak kurang mampu.

Mery bercengkrama dengan anak ketiga nya di depan Rubel Teko.

Warga Perkampungan Prapatan Mega,Rawamangun Jakarta Timur berkumpul.Di huni 70 KK,kebanyakan berpenghasilan tidak tetap seperti pemulung,pedagang dll.

Seorang anak mengintip prosea belajar di Rubel Teko.

Jalan masuk menuju perkampungan Prapatan Mega,Rawamangun Jakarta Timur.

Rumah semi permanen perkampungan kumuh di kawasan Prapatan Mega,Rawamangun Jakarta Timur terlihat dari atas.

Mery,mantan anak jalanan di dalam rumah nya yang sederhana.Meski hidup sederhana Mery masih punya keperdulian terhadap pendidikan.