Sevel Tutup Buku, Apa Sebabnya?

Selasa, 27 Juni 2017, 13:00:00 WIB - Ekonomi

Warga berbelanja di salah satu gerai "7-eleven" yang masih buka di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta, Jumat (23/6). PT Modern Sevel Indonesia anak usaha PT Moderen Internasional TBK (MDRN) mengumumkan, akan menutup seluruh gerai 7-eleven pada akhir bulan ini. (ANTARA)

JAKARTA, GRESNEWS.COM - Gerai waralaba 7-eleven (Sevel) akhirnya harus menutup buku catatan bisnisnya di kancah bisnis ritel tanah air. PT Modern Internasional(MDRN) selaku induk usaha mengumumkan akan menutup seluruh gerai sevel di Indonesia per 30 Juni 2017. Maka berbagai gerai ritel yang mengusung konsep sebagai tempat nongkrong itupun mulai ditutup serentak.

Ketua Umum Kamar Dagang Industri (Kadin) Indonesia, Rosan P Roeslani mengatakan ditutupnya seluruh gerai 7-Eleven (Sevel) bukan karena bisnis ritel di tanah air lesu. Menurutnya, konsep bisnis yang tidak tepat membuat gerai-gerai Sevel tidak dapat mencapai target perusahaan. Selisih keuntungan yang kecil, membuat konsep bisnis yang memperbolehkan pembeli nongkrong berlama-lama di toko tersebut membuat biaya operasionalnya lebih besar dibanding pendapatan.

"Menurut pandangan saya, Sevel ini bisnis modelnya kurang tepat karena margin dari ritel seperti ini tipis 1-3%. Mestinya (pengunjung) in out cepat, bukan orang duduk berjam-jam cuma beli satu cola, sewa ruangan besar, tidak seperti itu," katanya saat ditemui pada acara Open House di rumahnya, Jakarta, Senin (26/6).

"Kayak Alfamart dan Indomart itu tempat kecil efisien. Orang keluar masuk, volumenya banyak, karena marginnya tipis, fix cost besar, dipakai buat nongkrong ya enggak jalan," tambahnya.

Masalah internal perusahaan pun menurutnya bukan menjadi penyebab utama bisnis Sevel di tanah air merugi. "Jadi konsepnya dari awal kurang tepat, kecuali marginnya besar. 7-Eleven ini dari awal saya sudah yakin kurang pas," ucap dia.

Kondisi ritel di Indonesia sendiri tak berpengaruh banyak. Bahkan perkembangan bisnis ritel di Indonesia paling cepat di dunia. "Ritel kita sih tetap tumbuh berkembang. Walaupun tahun ini kita dapatkan info dari teman-teman, biasanya puasa bisa naik 50%, sekarang cuma 10-15%, tetap naik tapi enggak naik sebanyak dulu," pungkasnya.

Bisnis yang diusung Sevel sendiri, dalam delapan tahun belakangan ini sebenarnya turut memberikan memberikan inspirasi bagi pelaku usaha waralaba lainnya. Terbukti, usai beroperasi di Indonesia banyak waralaba dengan konsep yang sama bermunculan seperti Lowson, Family Mart, Indomaret Poin, dan lainnya.

Konsep bisnis Sevel ini mampu menarik konsumen di mana-mana, bahkan konsep tempat nongkrong-nya diikuti oleh berbagai pemain ritel lainnya, baik dengan konsep convenience store atau konsep minimarket dengan menambah sarana tempat kongkow. Meski memberikan tempat nongkrong yang asik bagi para pelanggannya, namun hal tersebut tidak diimbangi dengan pendapatan yang masuk ke dalam kantong kas PT Modern Sevel Indonesia (MSI), sehingga terpaksa menutup bisnisnya.

"Menurut saya ada beberapa faktor yang menyebabkan bisnis secara general bisa tutup, pertama, target penjualan. Di dalam bisnis ketika target penjualan tidak tercapai dan tidak mampu menutupi biaya operasional dalam waktu yang lama biasanya ini yang menjadi faktor utama bisnis ditutup," kata Pengamat Waralaba Tri Rahardjo.

Alasan selanjutnya, kata Tri Rahardjo, mengenai persaingan, dengan keberhasilan konsep Convenience Store sekaligus tempat nongkrong langsung diikuti oleh kompetitor menyebabkan tingkat persaingan lebih ketat di kategori bisnis tersebut. Sehingga konsep bisnis yang lebih efisien dan efektif yang akan bertahan.

Ketiga, mengenai daya beli. "Kecenderungan konsumen berlama-lama nongkrong namun sayang tidak diimbangin dengan nilai uang yang dibelanjakan," tegas dia.

Meski demikian, Tri Rahardjo masih berharap Sevel bisa bangkit dan meramaikan persaingan usaha ritel di Indonesia, dengan catatan menyesuaikan konsep dan model bisnis yang ada sekarang ini.


Baca selanjutnya: 1 2 3

Komentar