Penyelundupan Gading Gajah Marak, Aparat Diminta Tegas

Jum'at, 19 Mei 2017, 19:00:00 WIB - Sosial

apolda Jambi Brigjen Pol Yazid Fanani (tengah) dan Irwasda Kombes Pol Mukhlis (kiri), didampingi beberapa pejabat terkait menunjukkan barang bukti gading gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) hasil pengungkapan kasus saat rilis di Mapolda Jambi, Rabu (19/4). Aparat Kepolisian setempat bersama BKSDA daerah itu berhasil menggagalkan transaksi jual-beli gading gajah Sumatera di salah satu jalan di Kota Jambi dan menangkap tiga tersangka, masing-masing AH (32), M (55), dan MK (61) dengan barang bukti tiga buah gading dengan panjang 105 cm sampai 127 cm dan berat 8 kg sampai 9,2 kg. (ANTARA)

MARAK - Belakangan, perburuan gajah baik yang sengaja diburu gadingnya atau tewas karena diracun namun diambil gadingnya, tengah marak. Belum lama ini, seekor gajah Sumatera ditemukan mati di Dusun Munte, Kampung Egkan, Kecamatan Pining, Gayo Lues. Pelaku diduga tak hanya mencuri gading, tetapi juga pelaku memotong belalai dan membelah kepala hewan dengan julukan 'Po Meurah' itu.

"Kondisi tidak hanya dipotong belalai, tapi dibelah kepalanya. Gading hilang," kata Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh Sapto Aji Prabowo dalam keterangannya, Sabtu (22/4).

Tim gabungan terdiri atas dokter hewan, pawang BKSDA, didampingi Polhut serta polisi sudah melakukan autopsi terhadap bangkai gajah. Mereka mengambil beberapa sampel untuk dites di laboratorium untuk mengungkap penyebab kematian hewan bertubuh besar tersebut. "Kami telah mengambil sampel hati, usus, limpa, kotoran, usus, jantung, dan dinding usus untuk dianalisis di lab untuk mengetahui sebab pasti," jelas Sapto.

Sapto meralat soal informasi jenis kelamin. Sebelumnya, ia menyebut gajah tersebut betina, tapi ternyata berjenis kelamin jantan dan berusia 25 tahun. Dugaan sementara, gajah tersebut mati diracun. "Temuan di kotoran ada cairan warna hitam dan diyakini merupakan sisa racun yang termakan," ungkapnya.

Sementara itu, anak gajah berusia 2-4 tahun, yang sebelumnya setia menunggu, saat ini sudah tidak ada di lokasi. "Anak gajah sudah tidak ada. Kemungkinan besar bertemu kembali dengan rombongan gajah sehingga sudah ikut mereka," katanya.

Kemudian, seekor gajah liar di Kecamatan Pinggir, Kabupaten Bengkalis Riau ditemukan dalam kondisi penuh luka di tubuhnya. Kuat dugaan luka bekas benda tajam itu imbas konflik dengan manusia.

"Gajah liar itu kini berada di seputaran Komplek Perumahan PT Chevron di Bengkalis. Kondisi gajah dalam keadaan sakit penuh luka," kata Ketua Himpunan Pencinta Alam (Hipam) di Duri, Bengkalis, Zulhusni Syukri, beberapa waktu lalu.

Menurut Husni, gajah liar itu kini masih di seputaran rumah warga. Dari pengamatan di lapangan, ditemukan ada bekas luka benda tajam di bagian paha kaki belakang, pundak. "Lukanya kami duga kuat bekas tombak. Ini imbas dari konflik dengan manusia," kata Husni.

Luka yang terdapat di tubuh satwa bongsor itu, lanjut Husni, sudah menimbulkan bau busuk yang menyengat dengan jarak sekitar 30 meter. Setiap gajah terluka, memang selalu menimbulkan bau busuk yang menyengat melebihi satwa lainnya. "Bekas luka itu sudah terinfeksi. Sehingga sangat dibutuhkan untuk segera dilakukan pengobatan," kata Husni.

Pegiat lingkungan ini, sudah menyampaikan kondisi gajah tersebut ke pihak Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau. "Kita sudah sampaikan ke BBKSDA, agar gajah ini segera kita tangkap untuk diobati. Saat ini gajah tersebut kondisinya masih kuat dan berjalan. Namun tidak tertutup kemungkinan, bila tidak segera diobati akan semakin memperburuk kondisinya," kata Husni.

Husni belum bisa memastikan apakah gajah tersebut jenisnya jantan atau betina. "Kita belum bisa memastikannya. Sekilas dari jauh tanpa gading, tapikan bisa saja gadingnya sudah dipotong oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab," tutup Husni. (dtc)


Baca selanjutnya: 1 2

Komentar