Pro-kontra Pengusutan Buku ´Jokowi Undercover´

Minggu, 08 Januari 2017, 09:00:47 WIB - Politik

Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigjen Pol Rikwanto menunjukkan buku ´Jokowi Undercover´ usai memberikan keterangan pers di Jakarta, Selasa (3/1).(ANTARA)

JAKARTA, GRESNEWS.COM - Polisi dituding reaktif atas penanganan kasus penulisan buku 'Jokowi Undercover'. Sebab Polisi juga menebar ancaman kepada orang yang memiliki buku tersebut agar diserahkan ke polisi, jika tidak akan dipidana.

Polisi menyebut buku 'Jokowi Undercover' telah dicetak 300 eksemplar. Puluhan orang telah memesannya lewat akun facebook milik Bambang Tri Mulyono yang telah ditetapkan menjadi tersangka. Bambang ditangkap di wilayah Blora, Jawa Tengah, pada Jumat (30/12/2016) lalu. Penahanan Bambang dititipkan di rumah tahanan Polda Metro Jaya.

'Saya imbau yang memiliki buku untuk dikembalikan ke polisi. Jangan perbanyak, kalau lakukan ini kena hukum juga, karena ikut sebarkan berita bohong,' kata Tito di Rumah Sakit Polri Kramat Jati, Jakarta Timur, Jumat (6/1).

Polisi sebut antara judul dan isi tak selaras. Sehingga buku ini dikategorikan menyebarkan fitnah dan pembohongan. Tito pun mengancam bagi pihak yang enggan mengembalikan buku 'Jokowi Undercover' bisa diproses hukum.



Kasus ini sendiri, jelas Tito, sudah sampai tahap mendengarkan kesaksian ahli. Dari hasil telaah penyidik dalam buku itu tidak ditemukan kesesuaian subtansi antara judul dengan isinya. Buku itu, kata Tito, tidak mencerminkan sistematika penerbitan.

'Kita tak temukan penerbit, editor, foto penulis,' tutur Tito.

Meski Bambang Tri telah jadi tersangka, namun polisi meyakini ada orang di belakang Tri yang menjadi dalang pembuatan buku tersebut. Kini polisi tengah mengusut siapa penyandang dana dan otak di balik pembuatan buku 'Jokowi Undercover'.

'Kita akan dalami siapa yang menggerakkan, siapa yang mengajari dia,' kata Tito di Rupatama Mabes Polri, Jl Trunojoyo, Jakarta Selatan (4/1).

Sebab menurut Tito, kemampuan menulis Bambang tidak mengikuti sistematika ilmiah. Tulisan Bambang Tri cenderung ke arah fitnah karena tidak dilengkapi dengan data primer dan sekunder atau sumber lainnya.

Dia mengatakan untuk membuat suatu buku fakta harus dengan data yang bisa dipertanggungjawabkan. Menurutnya, menulis buku fakta tidak bisa seperti menulis novel.

'Oleh karena itu kita akan lihat siapa di belakang dia. Kita akan usut. Tolong catat itu!' Tegas Tito.

Baca selanjutnya: 1 2

Komentar