Mendorong Evaluasi Penggunaan Senpi di Kepolisian

Minggu, 30 April 2017, 09:00:43 WIB - Politik

Kapolda Sumatera Selatan Irjen Pol Agung Budi Maryoto (tengah) memberikan keterangan terkait peristiwa penembakan warga oleh Brigadir K di sela razia Polres Lubuk Linggau Sumsel, di Mapolda Sumsel Palembang,Rabu (19/4). Kapolda mengakui kejadian penembakan tersebut tidak dapat dibenarkan dan berjanji menanggung biaya pengobatan korban penembakan. (ANTARA)

Beberapa pekan ini ramai diberitakan polisi melakukan salah tembak hingga jatuh korban jiwa. Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Kekerasan (KontraS) mendorong Polri untuk mengevaluasi praktik dan syarat penggunaan senjata api (senpi) di lingkungan Polri.

"Persyaratan atas kepemilikan senjata api ini penting diperketat untuk menghindari terulang kembalinya peristiwa yang sama dengan jumlah korban yang lebih banyak lagi di kemudian hari," kata Koordinator KontraS Yati Andriyani, dalam keterangan pers yang diterima gresnews.com, Sabtu (29/4).

Kasus yang menjadi pemicu adalah penembakan satu keluarga oleh anggota Sabhara Polres Lubuklinggau, Sumatera Selatan, Brigadir K. Brigadir K, melakukan penembakan terhadap satu keluarga di dalam mobil yang hendak kondangan pada Selasa, 18 April 2017. Penembakan tersebut menewaskan dua orang dan lima orang lainnya luka-luka.

Juga penembakan yang dilakukan Aipda BS kepada anak kandungnya sendiri di Bengkulu, karena mengira anaknya maling. "Aipda BS, dalam kondisi malam hari yang gelap gulita, menyangka anaknya sebagai pencuri yang ingin masuk rumah dan memutuskan menembaknya," imbuh dia.



Data pemantauan KontraS periode Januari – Maret 2017 mencatat terjadi 124 operasi penanggulangan kriminal dengan mekanisme penembakan oleh Polri di seluruh Indonesia. Mayoritas penembakan terjadi di Sumatera dan Sulawesi. Penembakan-penembakan tersebut menimbulkan jatuhnya korban sebanyak 176 orang yang terdiri dari 97 korban luka dan 79 orang tewas.

"Ke-79 orang tersebut tewas dalam 62 operasi penembakan oleh Polri. Sedangkan korban tewas paling banyak berasal dari operasi penanggulangan narkotika, yakni dari 40 operasi telah menimbulkan korban luka 14 orang dan korban tewas 41 orang," terang Yati.

Baca selanjutnya: 1 2

Komentar