Inilah Peta Koalisi Partai Politik 2014

Kamis, 27 Maret 2014 , 09:00:04 WIB - Politik

Inilah Peta Koalisi Partai Politik 2014

JAKARTA, GRESNEWS.COM - Sejumlah partai politik telah mendeklarasikan diri dengan mengusung calon presidennya masing-masing  dalam Pemilu Presiden (Pilpres). Padahal nasib mereka sebelumnya akan ditentukan oleh perolehan suara pada pemilu legislatif 9 April mendatang.

Bisa jadi beberapa pasangan capres yang telah mendeklarasikan diri akan buyar demi melihat perolehan suara pemilihan legislatif. Apalagi beberapa hasil survei mengindikasikan tidak banyak partai yang bisa mencapai ambang batas presidential treshold sebesar 25% suara pemilih. Artinya parpol yang ingin memajukan pasangan calonnya harus berkoalisi.

Bagaimana prediksi peta koalisi partai ke depan? Hasil survei dari Charta Politika menyebutkan bahwa hanya ada tiga partai yang secara mapan akan menguasai pertarungan elektabilitas pileg. Ketiga partai itu adalah PDIP, Golkar dan Gerindra. Hasil survei Charta Politika pada Maret menyatakan suara PDIP naik dari 15,8 persen menjadi 21,2 persen, Golkar naik dari 12,6 persen ke 16,4 persen dan Gerindra naik dari 7,8 persen ke 12 persen.

Tiga parpol ini merupakan partai yang tiga masuk besar perolehan pileg. Sementara partai yang berada di papan tengah adalah Partai Demokrat, PKB dan PPP. Sementara partai lainnya, seperti PAN, PKS, Nasdem, Hanura, PBB, PKPI ada di papan bawah.

Dengan perolehan tersebut, poros utama koalisi ada pada tiga partai besar tersebut. PDIP yang elektabilitasnya terus menanjak karena figur Joko Widodo perlu mencari partai yang tepat untuk mendampingi Jokowi. Perolehan suara sebesar 21,1% dipastikan masih akan tergerek hingga mencapai batas ambang PT. Siapa yang tepat?

Menurut pengamat politik dari Charta Politika Arya Fernandes, semua berpeluang berkoalisi dengan PDIP. Namun jika dilihat dari parpol papan tengah, yang memungkinkan adalah PKB. Dalam hal ini, PDIP membutuhkan kelompok partai berbasis Islam. Kunjungan Jokowi ke keluarga Abdurrahman Wahid atau Gus Dur beberapa waktu menjadi pertanda.

Poros koalisi lain adalah Golkar. Dengan suara sebesar 16,4 persen maka Golkar harus bekerja keras untuk mencari dukungan dari partai papan tengah dan bawah. Tak heran Golkar pernah mengusulkan dibentuknya koalisi partai nasionalis yang terdiri dari Golkar, Hanura, Nasdem, dan Demokrat. Gagasan ini seperti mengumpulkan kembali kekuatan Golkar lama. Namun koalisi ini susah terbentuk karena masing-masing sudah punya calon. "Apa mau Wiranto dan Surya Paloh jadi cawapres Ical?" kata Arya kepada Gresnews.com di Jakarta, Kamis (27/3).

Poros yang ketiga adalah koalisi bentukan Gerindra. Dari hasil survei Charta Politika Gerindra perolehan suaranya hanya 12,0 persen. Bahkan Gerindra paling mentok perolehan suaranya masih di bawah 20 persen sehingga jauh dari ambang batas PT. Dari partai papan tengah yang saat ini mulai mendekati Gerindra adalah PPP. Itu ditandai manuver politik Suryadharma Ali yang hadir pada Kampanye Gerindra di Gelora Bung Karno Ahad kemarin.
Arya mengatakan kehadiran PPP bisa dibaca keinginan kedua partai ini bersama kembali seperti pada 2009 lalu. PPP dan Gerindra pernah berkoalisi meskipun akhirnya bubar. PPP bergabung ke Demokrat dan Gerindra ke PDIP.

Pada pemilu kali ini PPP punya celah untuk koalisi kembali. Apalagi Gerindra belum menentukan siapa cawapres yang bakal mendampingi Prabowo Subianto. Meskipun kehadiran Suryadharma Ali saat kampanye dilihat sebagai manuver pribadi bukan politik partai.

"Gerindra butuh dukungan dari kelompok Islam, dan SDA sadar punya sumber daya untuk berkoalisi dengan Gerindra," kata Arya. Selain itu, kata Arya, manuver politik SDA bisa juga dilihat upaya memperbaiki hubungan dengan Gerindra yang terganggu pada 2009 lalu.

Nah bagaimana dengan Demokrat? Demokrat berpeluang berkoalisi dengan partai atas jika bersedia maju sebagai cawapres. Namun sulit sebab, Demokrat adalah partai penguasa dan masih punya Susilo Bambang Yudhoyono. Tapi jika masih ngotot mencalon presiden, tak ada cara Demokrat harus membuat poros koalisi sendiri.

Menurut politisi Partai Demokrat Saan Mustopa, penentuan capres masih menunggu hasil konvensi. Apakah hasil konvensi akan diteruskan dengan memajukan pasangan capres atau berkoalisi dengan partai lain akan diputuskan setelah melihat hasil pileg nanti.

Namun diakui Saan elektabilitas Demokrat yang naik tipis karena pengaruh persepsi negatif atas partai ini. Persepsi negatif karena beberapa aktor utama partai terseret kasus korupsi. "Dan ini pelajaran bagi Demokrasi agar kembali dapat kepercayaan publik," kata Saan.

Sementara fungsionaris PPP Irgan Chairul Mahfiz menilai hubungan partai PPP dan Gerindra adalah untuk membangun hubungan politik yang sehat. PPP bisa berkoalisi dengan partai apapun. Peningkatan kualitas berdemokrasi dan komunikasi politik harus dibangun oleh siapapun sehingga terbangun pola hubungan yang lebih cair walau sedang berkompetisi dalam pemilu.

“Persaingan politik bukanlah untuk saling bermusuhan, justru harus ditunjukkan bahwa elite politik saling bisa bersahabat," tegas Irgan saat diminta tanggapannya tentang peluang koalisi dengan Gerindra.

PPP, kata Irgan, ingin mengedukasi rakyat bahwa sesungguhnya politik tidak melulu saling berhadapan, saling meninggalkan, bermusuhan dan tidak berkompromi. Demokrasi justru bisa dibangun atas dasar kekeluargaan, persaudaraan dan tali kasih.

Reporter : Ainur Rahman
Redaktur : Ramidi

Become a fan! Email! Linkedin! Follow us! Youtube! Google Plus! Pinterest!

POLLING