Kelanjutan Reklamasi dan Pemenangan Pilkada DKI Jakarta

Minggu, 22 Januari 2017, 21:00:17 WIB - Politik

Pemandangan proyek reklamasi Teluk Jakarta, Jakarta, Sabtu (24/12). Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur DKI Jakarta Sumarsono mengatakan reklamasi Teluk Jakarta akan tetap dilanjutkan dengan konsep P4 yaitu ´public´, ´private´,´people´ dan ´partnership´. (ANTARA)

JAKARTA, GRESNEWS.COM - Suasana pemilihan kepala daerah di DKI Jakarta kian memanas. Saling lontar isu-isu untuk menjatuhkan lawan masih marak terjadi, mulai dari isu reklamasi hingga penistaan agama.

Anggota tim pemenangan pasangan calon nomor 3, Anies Baswedan-Sandiaga Uno, Ferry Jualiantono menilai sejumlah elit, lembaga dan korporasi akan berjuang mati-matian memenangkan pasangan nomor urut 2, Basuki Tjahja Purnama (Ahok)-Djarot Saeful Hidayat dalam kontestasi Pilkada 2017. Ferry menegaskan, hal demikian terjadi lantaran kaitannya dengan proyek reklamasi.

"Dari awal kan sebenarnya Pak Ahok ini waktu menjadi gubernur sering kali kebijakannya itu memberi privilage kepada beberapa perusahaan properti, khususnya soal reklamasi. Ini bukti yang memperlihatkan bahwa—sebagaimana dinyatakan di persidangan KPK—memang ada hubungan yang tidak terpisahkan antara pemprov DKI, dalam hal ini gubernur Basuki Tjahja Purnama, dengan beberapa perusahaan properti seperti PT Agung Podomoro dan Agung Sedayu," kata Feri, di Warung Daun, Cikini, Sabtu (21/1).

Feri melanjutkan, tidak hanya dengan Ahok, hubungan tak terpisahkan antara perusahaan-perusahaan properti dengan pemerintah bahkan terhubung hingga Istana. Lantaran itulah Feri menilai, Presiden Joko Widodo yang notabene merupakan mantan gubernur DKI sekaligus tandem Ahok di Pilkada DKI 2012 lalu, punya kepentingan subjektif yang tidak bisa dinafikan dalam kontestasi Pilkada DKI kali ini.

"Presiden pasti gak netral. Sebagai bekas pasangan gubernur dan wakil gubernur, pasti ada urusannya-lah. Pak Jokowi pasti lebih nyaman kalau gubernur yang nanti menang Pilkada namanya Ahok. Saya (ada data--red) akurat. Kalau perlu nanti Presiden bantah omongan saya," papar Feri.



Feri menjelaskan, upaya-upaya untuk memenangkan Ahok yang dilakukan sejumlah pihak tertentu bahkan sudah terlihat setidaknya menjelang aksi massa umat Islam pada 4 November 2016 dan 2 Desember 2016 (411 dan 212) lalu. Walaupun dalam konteks itu sorotan utamanya adalah kasus penistaan agama, namun menurut Feri bahkan di dalam kasus itu sekalipun, keberadaan dan kepentingan perusahaan-perusahaan properti tidak bisa dipandang sebelah mata.

"Dalam konteks penistaan agama, tuntutan masyarakat supaya Pak Basuki Tjahja Purnama dihukum, itu kan sama pihak kepolisian malah diputar-putar. Dan kemudian diperlihatkan juga bahwa kepolisian itu erat kaitannya dengan perusahaan properti. Bantuan-bantuan Podomoro, pembangunan kantor Polda Metro Jaya, kemudian bantuan-bantuan CSR perusahaan properti yang lain (masuk juga—red) kepada kepolisian," lanjut Feri.

Lebih jauh, Feri melihat bahwa upaya memenangkan Ahok—yang lagi-lagi dianggap Ferry sebagai keinginan mutlak perusahaan properti—telah menyebabkan sejumlah pihak ikut turun tangan merecoki persoalan Pilkada DKI dengan berbagai isu. Mulai dari penetapan sejumlah tokoh sebagai pelaku makar, hingga persoalan hoax yang dilontarkan Presiden Jokowi beberapa waktu lalu.

"Secara tidak langsung, itu menunjukkan bahwa kelompok mereka yang semula menguasai sosial media, mulai panik. Lalu ada pemanggilan, bahkan sebentar lagi Habib Rizieq bakal ditetapkan sebagai tersangka. Ibu Megawati sebagai Ketua Umum PDIP bahkan ikutan ngomong tentang kekhawatirannya terhadap kekuatan Islam," papar Ferry.

Fakta demikian, menurut Ferry, telah menempatkan masyarakat dalam dua kubu hitam-putih yang saling bersebarangan dalam melihat dan menilai sosok Ahok. "Sekelompok orang menilai bahwa penentang Ahok adalah golongan yang salah. Namun di sisi lain hal itu juga menunjukkan bahwa masyarakat sekarang juga menilai, siapa pun yang mendukung Ahok itu brengsek, karena mereka memang ada kekuatan-kekuatan di belakangnya," katanya.

Lantaran itulah Ferry berkeyakinan, persoalan reklamasi bukan hanya persoalan debat wacana di dalam kontestasi Pilkada DKI. Lebih dari itu, menurutnya, reklamasi adalah medan perang antara kelompok pro-rakyat dengan kelompok-kelompok lain yang ditunggangi beragam kepentingan.

"Saya sampaikan kepada masyarakat, ini perang. Perusahaan-periusahaan properti sangat berkepentingan supaya Pak Ahok ini menjadi gubernur karena harus mengamankan proyek reklamasi yang sudah terlanjur diinvestasikan dalam nilai proyek yang sangat besar," katanya.

Baca selanjutnya: 1 2 3

Komentar