Dua Tersangka Baru Terkait Kasus E-KTP

Rabu, 10 Januari 2018, 19:37:38 WIB - Politik

Wakil Ketua KPK Basaria Panjaitan memberikan keterangan terkait penetapan tersangka baru di gedung KPK Jakarta, Rabu (10/1). KPK menetapkan mantan penasehat hukum Setya Novanto, Fredrich Yunadi dan dokter dari RS Medika Permata Hijau, Bimanesh Sutarjo menjadi tersangka karena diduga menghalangi penyidik KPK dalam pengusutan kasus dugaan korupsi E KTP. (ANTARA)

MANIPULASI DATA - Fredrich Yunadi dan Bimanesh Sutarjo dijerat KPK dengan pasal obstruction of justice. Keduanya diduga memanipulasi data rekam medis Novanto. Bimanesh saat itu menyebut Novanto mengalami compos mentis, kondisinya sadar tapi masih lemah. Sementara Fredrich menyebut kepala Novanto benjol sebesar bakpao, kendati kenyataannya tak ada benjol pada kepala Novanto pada foto-foto yang beredar.

'FY dan BST diduga bekerja sama untuk memasukkan tersangka SN ke salah satu RS untuk dilakukan rawat inap dengan data medis yang sudah dimanipulasi sedemikian rupa,' ujar Basaria.

Foto sakit Setya Novanto menyebar di media sosial dan dinilai banyak mengandung 'kejanggalan'. Terlepas dari kasus hukum yang menjerat Novanto, kontroversi seputar foto tersebut membuat banyak orang jadi kenal alat-alat medis yang dipakai di rumah sakit.

Misalnya Elektrokardiogram (EKG) yang dalam foto tersebut menampilkan grafik yang flat. Normalnya jika alat tersebut terpasang di tubuh pasien, maka grafiknya akan kelihatan naik turun menggambarkan variasi denyut nadi.

Perbuatan keduanya diduga untuk menghindari panggilan penyidik KPK. Saat itu Novanto memang berulang kali tak memenuhi panggilan penyidik KPK.

Atas perbuatannya, keduanya disangkakan melanggar Pasal 21 UU Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana diubah dengan Pasal 20 Tahun 2001 juncto Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP.

Dalam kasus ini, KPK juga telah mencegah Fredrich ke luar negeri. Selain itu, ada 3 orang yang dicegah, yaitu wartawan Hilman Mattauch, ajudan Setya Novanto, Reza Pahlevi, serta Achmad Rudyansyah. (dtc)


Baca selanjutnya: 1 2

Komentar