"Pertempuran" Sengit Pilkada Jawa Barat

Minggu, 30 April 2017, 18:00:00 WIB - Politik

Wali Kota Bandung Ridwan Kamil diarak menggunakan kesenian Sisingaan saat mengikuti gerak jalan sehat bersama Nasdem di Alun-alun Tasikmalaya, Jawa Barat, Sabtu (22/4). Gerak jalan yang diikuti ribuan masyarakat Kota Tasikmalaya itu sekaligus menjadi ajang sosialisasi Partai Nasdem mengusung Ridwan Kamil sebagai salah satu Calon Gubernur pada Pilkada Jawa Barat 2018. (ANTARA)

JAKARTA, GRESNEWS.COM - Pertempuran sengit antara koalisi partai politik yang sepanas di pemilihan kepala daerah DKI Jakarta, diprediksi akan terjadi di pilkada Jawa Barat tahun 2018 mendatang. Seperti diketahui, tahun depan, sejumlah daerah akan menggelar pemilihan gubernur dan wakil gubernur. Tiga provinsi yakni Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur akan menjadi 'pertarungan sengit' antar partai politik.

Maklum tiga daerah tersebut selama ini menjadi kunci keberhasilan di Pemilu nasional. Namun Jawa Barat dinilai akan menjadi ajang pertempuran paling sengit. Peneliti Centre For Strategic and International Studies (CSIS) Arya Fernandes memprediksi, PKS dan Gerindra yang sukses di Pilgub DKI akan kembali berkoalisi di Jawa Barat.

"Kemenangan di DKI akan memberikan kenyamanan, memberikan angin segar dua partai ini (PKS dan Gerindra) untuk kembali berkoalisi," kata Arya kepada wartawan di Jakarta, Minggu (30/4).

"Chemistry mereka sudah dapat dan dari sisi soliditas dan mesin partai di akar rumput mau pun di tingkat elite partai (PKS dan Gerindra) tidak ada pertentangan," tambah Arya.

Sebaliknya jika PKS berkoalisi dengan PDIP, meski elite partai ketemu tapi di akar rumput bisa terjadi perbedaan pandangan. Arya memprediksi PDIP tidak akan berkoalisi dengan PKS.

Menurut dia, PDIP akan menjadikan Pilgub Jawa Barat sebagai pertaruhan untuk menuju Pemilu 2019. Partai berlambang moncong putih ini akan mengerahkan seluruh sumber daya mereka untuk menang di Bumi Parahiyangan tersebut.

Maklum tahun 2017, PDIP menderita kekalahan Pilkada di tiga daerah strategis yakni: DKI Jakarta, Banten dan Gorontalo. "PDIP kalah (pilkada) di tempat-tempat stretagis seperti DKI Jakarta, Banten dan Gorontalo. Tentu Pilgub Jawa Barat akan menjadi pertaruhan bagi PDIP," kata Arya.

Setelah menderita kekalahan di tiga tempat strategis tersebut, papar Arya, PDIP akan melakukan evaluasi besar-besaran. Evaluasi khususnya akan dilakukan terhadap Badan Pemenangan Pemilu (Bapilu) PDIP. Selain Jawa Barat, PDIP juga akan mengerahkan sumber daya maksimal di Pilgub Jawa Tengah dan Pilgub Jawa Timur.

"Karena kalau mereka kehilangan Jawa Barat, Jawa Timur dan Jawa Tengah akan sangat berbahaya untuk kesuksesan performa di Pemilu nasional 2019," papar Arya.

Sebelumnya, Direktur Eksekutif Indo Barometer M Qodari menganalisis, partai-partai akan menjadikan Pilgub Jawa Barat sebagai arena 'pertarungan' sesungguhnya. Ini bisa dimaklumi karena, pertama, berdasarkan pengalaman sejak Pemilu 1999, partai pemenang di Jawa Barat akan menjadi peraih suara terbanyak dalam pemilu tingkat nasional.

"Berbeda dengan Jakarta, partai yang menang di Jakarta belum tentu jadi pemenang di tingkat nasional," kata Qodari kepada wartawan di Jakarta, Rabu (26/4).

Alasan kedua, tak ada juara bertahan di Jawa Barat. Setiap periode pemilu di Jawa Barat, pemenangnya selalu berganti. Misalnya pada 2014 sebagai pemenang adalah PDIP. Sebelumnya, pada 2009, Partai Demokrat unggul. Pada 2004, Partai Golkar keluar sebagai pemenang di Jawa Barat.

"Pemilih Jawa Barat sangat cair, bayangkan tidak ada juara bertahan. Tiap kali pemilu pemenangnya ganti-ganti. Karakter pemilih orang Sunda luwes," tutur Qodari.

Melihat dua fakta tersebut, Qodari yakin semua partai politik akan menjadikan Pilgub Jabar sebagai prioritas utama menuju 2019. "Menurut saya, hampir semua partai menjadikan Jawa Barat menjadi salah satu prioritas. Di antara 171 pilkada di 2018, The most important itu Jawa Barat," ucap dia.

"Menuju 2019 itu salah satu kuncinya memenangkan Pilgub Jawa Barat," kata Qodari.


Baca selanjutnya: 1 2

Komentar