Mengurai Akar Konflik Qatar dan Peran Indonesia

Sabtu, 10 Juni 2017, 18:00:32 WIB - Politik

Seorang pria berjalan melewati kantor Qatar Airways di Manama, Bahrain, Senin (5/6). (ANTARA)

JAKARTA, GRESNEWS.COM - Timur Tengah tak henti-hentinya bergolak. Pertempuran di Suriah belum juga rampung kini bagian selatan wilayah Timur Tengah menuai konflik baru. Qatar kini dikucilkan dengan beberapa negara di Timur Tengah lainnya seperti Arab Saudi, Mesir, Bahrain, dan UEA.

Qatar dituduh Arab Saudi sebagai negara yang menyokong aliran dana untuk teroris, mendukung ISIS, Al Qaeda dan Ikhwanul Muslimin. Selain itu, Qatar negara yang memiliki cadangan gas alam ketiga terbanyak di dunia terlibat dalam hubungan harmonis dengan Iran yang notabene rival utama Arab Saudi.

Negara di teluk Arab memutuskan hubungan diplomatik dengan Qatar karena dianggap sebagai ancaman. Pengajar FE Universitas Indonesia, Berly Martawardaya menilai hal ini disebabkan tiga hal menarik yang dimiliki Qatar.

"Qatar ini kecil tapi canggih. Jadi Qatar ini menarik ya, ada 3 hal paling penting yaitu geografi, geologi, dan demografi," kata Berly dalam diskusi Populi Center, di Gado-gado Boplo, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (10/6).



Menurutnya, Qatar memiliki potensi besar dari segi pendapatan, pendidikan, serta sumber daya alam. Di sini, Qatar dianggap mempunyai inovasi dalam perubahan negara yang cukup cepat.

"Luas Qatar itu seperti wilayah Banten, tapi berkembang. Mereka juga punya beberapa kampus top dunia, jadi yang menarik dari Qatar, mereka ini sadar tidak mau berpangku tangan atas kekayaan migas, maupun apa yang mereka punya. Padahal dalam 56 tahun ke depan mereka diprediksi tidak akan habis minyaknya," jelas Berly.

Qatar dianggap sebagai negara kecil yang high profile, dengan mengekspor minyak mentah maupun yang sudah diolah. Selain itu, Qatar juga unggul dalam maskapai penerbangan dan pariwisata. Strategi ini yang dianggap sebagai ancaman dari Qatar.

"Jadi mereka sadar punya uang banyak, mereka bangun pendidikan yang kritis dimana pelan-pelan demokrasi berjalan. Mereka buat juga stasiun televisi Al Jazeera yang tidak dapat diatur, ini kan luar biasa sekali," tuturnya.

Sementara itu, Pengajar FISIP UIN Jakarta, Ali Munhanif menyebut Qatar merupakan negara kecil yang spesial karena perekonomiannya tumbuh luar biasa.

"Nah kalau kita lihat perkembangan terakhir sikap negara teluk Arab, ini kan dipelopori oleh Saudi Arabia, itu salah satu ledakan adanya persepsi ancaman. Pada inflansi Irak, satu yang tidak setuju Qatar, dari awal dia sudah menunjukkan sikap tidak sependapat, ini juga faktor yang jadikan dia sebagai ancaman," ujarnya.

Munhanif mengatakan jika ada persaingan dominasi kawasan, Qatar cenderung mendorong terjadinya reformasi sistem politik. Menurutnya negara Timur Tengah membuat semacam partisi tidak hanya republik dan sistem monarki, namun ada wilayah lain yang menjadi pilihan.

"Di situ sebenarnya region yang republik, tapi Qatar menunjukkan sisi lain dari monarki, dinamika persaingan dari Timur Tengah. Qatar adalah regional yang mendorong reformasi, mengapa sebenarnya dia mendukung Iran, dia tidak menempatkan ini sebagai klaim, tapi mendorong Iran terjadi reformasi, termasuk mendukung Hamas di Gaza," jelasnya.

Dalam hal ini Qatar disebut lebih terbuka dalam konteks mendorong reformasi, dimulai dari sikap pragmatis. Artinya, Qatar lebih diterima negara-negara Eropa karena mampu masuk dalam jantung Eropa.

"Qatar juga menjadi obat melakukan reformasi generasi baru untuk memegang pemerintahan. Qatar adalah negara satu-satunya di negara Timur Tengah membuka sebuah reformasi, dan itu membuahkan hasil, menempatkan Qatar sebagai negara kecil yang mampu, di situ Saudi mulai terancam," imbuh Munhanif.

"Sejauh ini, Qatar dianggap sebagai teladan dari perkembangan ekonomi dan mungkin akan menjadi revolusi Timur Tengah," katanya.

Baca selanjutnya: 1 2

Komentar