Tantangan MEA dan Bisnis Haram Lintas Batas

Jum'at, 24 Juli 2015, 16:58:52 WIB - Politik

Deretan shabu sebanyak 360 kilogram saat rilis narkotika jaringan internasional di Polda Metro Jaya, Jakarta, Rabu (15/7). Ditresnarkoba Polda Metro Jaya berhasil menangkap satu orang WNA dan satu orang WNI yang diduga menyelundupkan narkotika jenis shabu jaringan internasional Hongkong- Jakarta. (ANTARA)

JAKARTA, GRESNEWS.COM - Letak geografis Indonesia sebagai negara kepulauan bukan hanya mendatangkan berkah dari aktivitas perdagangan. Namun kondisi geografis tersebut juga menjadi ancaman dari luar seperti kejahatan terorganisir (transnational organized crime). Salah satu bentuk kejahatan dimaksud adalah bisnis gelap seputar perdagangan obat-obatan terlarang (drugs).

Jelang penyelenggaraan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) pada bulan Desember 2015 mendatang, diprediksi mendorong arus perputaran barang dan jasa (produksi) serta lini perekonomian secara dinamis dan cepat. Kran perdagangan dan transaksi antar negara anggota ASEAN pun bakal berlangsung secara bebas dan terintegrasi. Tak heran, kondisi ini bakal mendatangkan ancaman lintas batas di tengah arus liberalisasi pasar MEA.

Perlu diketahui, terdapat tiga pilar utama yang menjadi basis kerjasama antar negara ASEAN yakni sektor politik dan kemanan, ekonomi serta sosial budaya.

Pejabat Deputi Bidang Koordinasi Politik Luar Negeri Kemenko Polhukam Agus Sriyono menilai, Indonesia perlu memanfaatkan MEA sebagai momentum menyelesaikan masalah-masalah klasik seperti kejahatan transnasional.



Ia meyakini, MEA memiliki nilai tawar positif membuka celah bagi penanggulangan kejahatan lintas batas (transnational crimes) di lingkup regional Asia Tenggara. Untuk itu, melihat urgensi masalah lintas batas saat ini, Agus menilai, sebaiknya jajaran pemerintah perlu serius menyikapi salah satu pilar MEA yaitu sektor politik dan keamanan.

Menurutnya, pemerintah jangan menganggap remeh persoalan keamanan di kawasan ASEAN. Agus pun menekankan arti penting konstelasi politik dan kemanan mengingat posisi geografis Indonesia yang cukup krusial dan rawan terjadinya kejahatan lintas batas.

"Masyarakat ASEAN akan terwujud apabila kondisi kawasan stabil dan aman," kata Agus beberapa waktu lalu pada gresnews.com di gedung Nusantara Kemlu, Jakarta Pusat.

Mantan Dubes RI untuk Swiss ini mengatakan, untuk saat ini, telah ada beberapa langkah nyata terkait inisiatif penanggulangan kejahatan lintas batas yang ditempuh Indonesia dalam menghadapi MEA.

Agus menyebut, sejumlah target pemberantasan kejahatan lintas batas yang hendak dicapai pemerintah antara lain meningkatkan kerjasama dan kordinasi sektoral di bidang terorisme (counter terrorism), obat-obatan terlarang (illicit drugs), perdagangan manusia (trafficking in person/human trafficking), pencucian uang (money laundering), penyelundupan senjata (arms smuggling), perompakan laut (sea piracy), kejahatan ekonomi internasional dan cyber (international economic crime and cyber crime).

Baca selanjutnya: 1 2 3

Komentar