Papa Menang, Yorrys Ditendang

Rabu, 04 Oktober 2017, 16:00:00 WIB - Politik

Sekjen Partai Golkar Idrus Marham (kiri) menyambut Deputi Bidang Pencegahan KPK Pahala Nainggolan di Kantor DPP Partai Golkar, Jakarta, Senin (18/9). KPK berkunjung ke Partai Golkar untuk melakukan sosialisasi mengenai pengelolaan pendanaan dan keuangan parpol, penyempurnaan sistem etik dan konsistensi penegakan. (ANTARA)

JAKARTA, GRESNEWS.COM - Bebasnya Ketua Umum Partai Golkar Setya Novanto dari jeratan status tersangka dalam kasus korupsi E KTP, segera memakan korban. Pasca bebas, "Papa" Novanto segera melakukan aksi bersih-bersih partai dengan menendang kader yang dinilai tak loyal. Salah satu korbannya adalah Korbid Polhukam Golkar Yorrys Raweyai.

Yorrys dicopot dari jabatannya tersebut, oleh Setya Novanti dan digantikan oleh Letjen (Purn) Eko Wiratmoko. Diduga pencopotan ini dilakukan lantaran Yorrys kerap meminta Novanto untuk mundur dari jabatannya sebagai ketua umum karena kasusnya dinilai membuat citra Partai Gokar terpuruk dan elektabilitasnya menukik.

Pencopotan Yorrys ini sendiri dibenarkan Ketua DPD Golkar Papua Aziz Samual. Aziz mengatakan, surat tersebut sudah diteken pada Senin (2/10) kemarin. Aziz menambahkan surat tersebut diteken Ketum Golkar Setya Novanto dan Sekjen Golkar Idrus Marham. "Saya memang ada SK-nya. Kalau tak ada, mana mungkin saya berbicara. Ini ada SK-nya. (Surat diteken) Ketum dan Sekjen," kata Aziz, Selasa (3/10).

Sementara itu, Yorrys mengaku belum mendapat kabar tersebut. Ia enggan berasumsi macam-macam terkait kabar pencopotannya. "Saya belum tahu. Belum tahu, ngapain kita berasumsi macam-macam, biarin. Tapi ini kan partai punya mekanisme, ini bukan perusahaan, nggak main suka-suka. Kan ada aturan," kata Yorrys.

Sebelumnya, Yorrys juga sudah dipolisikan oleh Angkatan Muda Partai Golkar (AMPG) ke Bareskrim Polri. AMPG menilai Yorrys menghina soal kesehatan Novanto.

Terkait penggantinya, Eko Wiratmoko merupakan purnawirawan perwira tinggi TNI Angkatan Darat (AD). Ia memiliki pengalaman lama di kesatuan Komando Pasukan Khusus (Kopassus).

Pria kelahiran Jakarta, 18 Oktober 1958 itu merupakan lulusan Akmil pada 1982. Kariernya di bidang militer melalui berbagai tahapan. Tercatat Eko pernah menduduki sejumlah jabatan penting.

Dia pernah menjadi Komandan Pusat Intelijen Angkatan Darat (Danpusintelad). Kemudian Eko menjabat sebagai Aisten Pengamanan Kepala Staf Angkatan Darat (Aspam Kasad), Panglima Kodam XVI/Pattimura (Pangdam XVI/Pattimura) dan Panglima Kodam V/Brawijaya (Pangdam V/Brawijaya).

Pada 2015, pangkat Eko dinaikan satu tingkat lebih tinggi dari pangkat semula. Laporan kenaikan tingkat diterima oleh Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI Nomor: 60/TNI/ 2015 tanggal 24 Juli 2015 dan Surat Perintah Panglima TNI Nomor Sprin/2151/VIII/2015.

Karier Eko di militer terus meningkat hingga akhirnya diangkat sebagai Sesmenko Polhukam. Kemudian pada 2016 lalu, Eko purna tugas. Hal itu berdasarkan Keputusan Panglima TNI No. Kep/751/IX/2015 tanggal 16 September 2016.

Soal politik, pada 2014 lalu Eko pernah mengatakan agar para purnawirawan TNI dapat berpolitik secara santun. "Silakan membela kubu masing-masing calon presiden-wakil presiden. Namun jangan sampai saling menjatuhkan dan menjelekkan. Berpolitiklah secara santun, penuh etika, dan elegan," kata Eko.


Baca selanjutnya: 1 2

Komentar