Pangi menilai, jika ada partai yang akan membuat poros baru dan mengusung Yusril karena popularitasnya cukup kuat menandingi Ahok sangat mungkin terjadi.

JAKARTA, GRESNEWS.COM - Nama mantan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Yusril Ihza Mahendra kembali menguat dalam bursa bakal calon gubernur DKI Jakarta. Sejumlah dukungan terhadap Yusril agar maju ke pilkada DKI 2017 mulai bermunculan, diantaranya dari organisasi masyarakat (ormas) Betawi seperti Forum Betawi Rempug (FBR), Forkabi, Bamus Betawil. Deklarasi dukungan itu dilakukan pada Minggu (28/8).

Bak gayung bersambut, Yusril pun sudah sesumbar dalam waktu dekat akan ada deklarasi partai politik yang mendukungnya. Pria kelahiran Manggar, Belitung Timur, 5 Februari 1956 itu mengaku, sudah mengantongi dukungan beberapa partai politik untuk mencalonkan dia menjadi kandidat dalam kontestasi pilgub mendatang.

Yusril memang belum mau menyebutkan partai politik mana yang mendukungnya. Namun santer dikabarkan, dukungan itu akan datang dari Partai Demokrat, Partai Keadilan Sejahtera (PKS), dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP). "Sementara kami keep dulu, kami simpan dulu tidak dipublikasikan pada masyarakat nanti konsolidasi dari parpol akan dilakukan," ujar Yusril, di acara deklarasi dukungan oleh ormas Betawi.

Namun demikian, Sekretaris Jenderal Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Arsul Sani saat dihubungi gresnews.com, Senin (29/8) menyatakan, dukungan kepada Yusril belum diputuskan. Nama Yusril sendiri memang termasuk salah satu tokoh yang dijagokan PPP untuk dicalonkan sebagai Gubernur DKI Jakarta selain Tri Rismaharini (Risma) dan Rizal Ramli.

"Yusril itu salah satu opsi di PPP. Memang Yusril masuk dalam radar PPP, tapi partai belum memutuskan siapa," ungkap Arsul Sani.

Anggota Komisi III DPR ini mengungkapkan, partainya masih berharap agar PDIP mau mencalonkan Risma sebagai Gubernur DKI Jakarta. Nama Risma juga menjadi prioritas calon yang paling dijagokan oleh PPP selain Yusril dan Rizal Ramli. "Prioritas utama kami masih pada Risma. Tapi persoalannya apakah PDIP akan mencalonkannya atau tidak," imbuh politisi asal Pekalongan tersebut.

"Banyak pertimbangannya, apakah partainya akan merestui kalau Risma dipinang partai lain. Ada juga kepentingan warga Surabaya yang mesti dipertimbangkan. Tapi kami yakin Risma juga mempertimbangkan yang lainnya (soal pencalonannya oleh partai selain PDI)," ujar Arsul Sani.

Menurut Arsul, posisi Yusril Ihza Mahendra tidak begitu spesial di PPP. Sama seperti tokoh-tokoh lain yang juga banyak diusulkan ke Partai PPP. "Posisinya sama dengan Risma. Sekarang ada juga suara untuk Rizal Ramli," katanya.

Sementara terkait PKS, Yusril sendiri sudah bermanuver dengan mengadakan kunjungan silaturrahmi ke kantor Dewan Pengurus Pusat (DPP) PKS. Terkait kunjungan itu, PKS pun belum memberikan sinyal akan mendukung Yusril. Pasalnya, selain Yusril, bakal calon lainnya yaitu Sandiaga Uno yang sudah resmi didukung oleh Partai Gerindra pun juga bermanuver mendekati PKS.

Ketua Bidang Humas DPP PKS Dedi Supriadi mengatakan, selain Sandiaga, ada juga Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin. "PKS menyambut baik dengan terus melakukan komunikasi politik yang baik terhadap para bakal Cagub DKI Jakarta yang sudah menyampaikan keinginannya untuk maju ke Jakarta," katanya beberapa waktu lalu.

Mengenai sikap pasti dukungan PKS terhadap pasangan calon, Dedi menyatakan PKS untuk saat ini fokus menjalin komunikasi yang baik terhadap para bakal Cagub dan PKS akan menyatakan sikapnya menjelang pembukaan pendaftaran Calon Gubernur DKI Jakarta

Yusril sendiri, saat berkunjung ke kantor DPW PKS menegaskan, kehadirannya untuk menindaklanjuti diskusi terdahulu tentang arah partai politik menjelang pilkada 2017. "Membicarakan tentang gambaran arah partai politik menghadapi petahana. Belum bisa memutuskan sendiri. Jadi harus dibicarakan bersama-sama dengan partai politik," tandas Yusril.

KEMUNGKINAN POROS BARU - Jalan Yusril menuju kursi DKI 1 memang akan sangat tergantung dukungan partai politik karena jalan melalui jalur independen sudah tertutup. Peruntungan Yusril akan terang jika PKS (pemilik 11 kursi di DPRD DKI Jakarta) dan Partai Demokrat (10 kursi) tegas menyatakan dukungan terhadap Yusril. Dengan 21 kursi, maka Yusril hanya perlu dukungan satu kursi lagi untuk memenuhi persyaratan 22 kursi dukungan.

Semua akan terpenuhi jika PPP dengan 10 kursi di DPRD ikut mendukung Yusril. Jika skenario itu berjalan, Yusril bakal memiliki 31 kursi dukungan yang lebih dari cukup untuk mengusungnya ke pilkada DKI. Namun Yusril sendiri sepertinya belum mau bersikap atas kemungkinan adanya dukungan itu.

Di acara deklarasi dukungan terhadap Yusril oleh Ormas Betawi itu, memang hadir beberapa tokoh politik dari partai yang diisukan bakal mendukung Yusril. Diantaranya adalah Ketua DPD Demokrat DKI Nachrowi Ramli dan anggota F-PPP DPRD DKI Abraham ´Lulung´ Lunggana.

Hanya saja menurut Yusril, mereka hadir tidak mewakili partai melainkan hadir mewakili Badan Musyawarah Betawi. "Kalau ada deklarasi para relawan, (tokoh) partai datang itu sebagai pribadi bukan mewakili parpol," kata Yusril.

Terkait upayanya meminta dukungan dari PDIP, Yusril menyatakan, dia menghormati Megawati Soekarnoputri sebagai Ketum PDIP. Menurut dia PDIP belum final mendukung Ahok dan partai tersebut sanggup mengusung pasangan cagub-cawagub sendiri.

Terkait perhitungan politik menjelang pilgub DKI Jakarta 2017, pengamat politik Vox Pol Center Pangi Syarwi Chaniago mengakui nama Yusril sebagai calon alternatif masih sangat kuat. Namun dia menyangsikan jika Yusril bisa maju lewat dukungan parpol.

Terlebih dukungan itu datang dari parpol yang memiliki kursi cukup memadai di DPRD DKI Jakarta seperti PDIP dan Gerindra. "Kalau Yusril tetap punya kans untuk terpilih. Elektibilitasnya cukup bagus," terang pengajar di Fakultas Ilmu Sosial dan politik di UIN Jakarta ini kepada gresnews.com, Senin (29/8).

Namun Pangi menegaskan, kans Yusril di panggung politik DKI masih diperhitungkan sebagai calon wakil gubernur. Untuk menempati cagub, imbuh Pangi, masih terlalu jauh. Pasalnya setiap partai pasti menginginkan kadernya untuk tampil dalam pilkada.

Meskipun begitu, kemungkinan Yusril untuk menjadi penantang petahana Ahok bukan tidak mungkin. Pangi menilai, jika ada partai yang akan membuat poros baru dan mengusung Yusril karena popularitasnya cukup kuat menandingi Ahok sangat mungkin terjadi.

"Kecuali ada poros baru yang mendeklarasikan diri yang diusung bukan kadernya namun membajak elektibilitas dan popularitas calon bukan dari kader parpol dan berdasarkan figur," ujar Pangi.

Jika Yusril benar benar membentuk poros baru, lanjut Pangi, nama Yusril sebagai calon alternatif masih sangat diperhitungkan. "Mungkin saja. Poros baru misalnya Demokrat, PKS dan PPP mengusung Yusril sementara wakilnya bisa dari salah satu kader parpol tersebut," pungkas Pangi. (dtc)