Alasan PB NU dan MUI Menolak Sekolah Full Day

Minggu, 11 Juni 2017, 15:00:00 WIB - Politik

Pekerja mengerjakan pembangunan renovasi gedung sekolah sekolah di SDN Cilandak Barat 04 Pagi, Jakarta, Selasa (7/6). Dinas Pendidikan (Disdik) DKI Jakarta telah melakukan renovasi 103 gedung sekolah dengan anggaran sebesar Rp1,7 triliun, yang ditargetkan akan rampung akhir tahun 2017. (ANTARA)

JAKARTA, GRESNEWS.COM - Niat Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy menerapkan kebijakan baru terkait dengan jam belajar di sekolah mendapat tentangan. Salah satunya dari Pengurus Besar Nahdatul Ulama dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang menolak penerapan kebijakan yang akan berlaku mulai tahun ajaran baru 2017 ini.

Muhadjir menjelaskan waktu belajar-mengajar di sekolah akan berlangsung dari Senin hingga Jumat. Alasannya, selama Senin hingga Jumat itu, proses belajar-mengajar sudah mencapai waktu 40 jam.

'Jadi kalau minimum 8 jam, kalau 5 hari masuk, jadi sudah 40 jam per minggu. Dan itu sudah sesuai standar kerja ASN untuk guru. Jadi kalau sudah itu sudah melampaui standar kerja ASN sehingga guru mengikuti standar itu,' kata Muhadjir saat ditemui di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (8/6).

Dengan demikian, proses belajar-mengajar pada Sabtu ditiadakan alias libur. 'Iya benar. Full libur,' ujar mantan rektor Universitas Muhammadiyah Malang ini.



Sebelumnya dalam kesempatan berbeda Muhadjir mengatakan 'full day school' untuk pendidikan dasar (SD dan SMP), baik negeri maupun swasta dengan alasannya agar anak tidak sendiri ketika orangtua mereka masih bekerja.

'Dengan sistem full day school ini secara perlahan anak didik akan terbangun karakternya dan tidak menjadi liar di luar sekolah ketika orangtua mereka masih belum pulang dari kerja,' kata Mendikbud di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Minggu (7/8/2016).

Menurut dia, kalau anak-anak tetap berada di sekolah, mereka bisa menyelesaikan tugas-tugas sekolah sampai dijemput orangtuanya seusai jam kerja. Selain itu, anak-anak bisa pulang bersama-sama orangtua mereka sehingga ketika berada di rumah mereka tetap dalam pengawasan, khususnya oleh orangtua.

Untuk aktivitas lain misalnya mengaji bagi yang beragama Islam, menurut Mendikbud, pihak sekolah bisa memanggil guru mengaji atau ustaz dengan latar belakang dan rekam jejak yang sudah diketahui. Jika mengaji di luar, mereka dikhawatirkan akan diajari hal-hal yang menyimpang.

Baca selanjutnya: 1 2

Komentar