Sepertinya, koalisi PKS-Gerindra akan kembali berhadapan dengan koalisi antara PDIP-Golkar. Pertarungan ini dinilai akan membuat suasana Pilgub Jabar 2018 akan teras panas seperti Pilgub DKI Jakarta.

JAKARTA, GRESNEWS.COM - Peta pertarungan politik di ajang pemilihan gubernur Jawa Barat 2018 sudah semakin mengerucut. Sepertinya, koalisi PKS-Gerindra akan kembali berhadapan dengan koalisi antara PDIP-Golkar. Pertarungan ini dinilai akan membuat suasana Pilgub Jabar 2018 akan teras panas seperti Pilgub DKI Jakarta.

Pertarungan dua koalisi besar itu dipastikan terjadi setelah Gerindra-PKS secara resmi menyatakan berkoalisi dengan mengusung pasangan Deddy Mizwar-Ahmad Syaikhu sebagai bakal calon gubernur dan wakil gubernur Jawa Barat di Pilgub Jabar 2018. Wakil Ketua DPD Gerindra Jawa Barat Anggawira menyampaikan, Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto telah menetapkan untuk mengusung Dedi Mizwar sebagai bakal calon Gubernur Jawa Barat berpasangan dengan Ahmad Syaikhu sebagai bakal calon Wakil Gubernur dari PKS.

"Pak Deddy Mizwar menyatakan bersedia menjadi kader partai Gerindra dengan penempatan Tugas sebagai Penasehat DPD Jabar. Karena sesuai dengan arahan Ketua Umum Gerindra, kandidat yang akan diusung harus kader internal partai," ujar Anggawira dalam siaran pers yang diterima gresnews.com, Jumat (18/8).

Anggawira pun menyatakan pihaknya akan segera berkoordinasi dengan DPW (Dewan Pimpinan Wilayah) PKS Jabar untuk memformulasikan teknis kerjasama dalam mempersiapkan Pilgub Jabar 2018. "DPD Gerindra Jabar akan segera berkoordinasi dengan DPW PKS Jabar untuk membahas lebih lanjut teknis kerjasama. Karena ini merupakan kompetisi kita bersama untuk memperjuangkan niat luhur dalam membawa perbaikan di Jabar," kata Anggawira.

Lebih lanjut dirinya menegaskan bahwa keputusan ini telah sejalan dengan misi Gerindra untuk menempati posisi sebagai Jabar satu (Gubernur). "Gerindra wajib memenangkan kontesasi Pilgub untuk melaksanakan misi dan program pembangunan Jabar," jelas Anggawira.

Kepastian dimajukannya pasangan Deddy Mizwar-Syaikhu juga disampaikan Ketua DPD Gerindra Jabar Mulyadi. Dia mengaku menerima keputusan itu langsung dari Ketum Gerindra Prabowo Subianto melalui sambungan telepon ke Mulyadi pada hari Rabu (16/8). Mulyadi mengatakan, Deddy Mizwar yang juga menjabat sebagai Wagub Jabar bersedia menjadi penasehat DPD Gerindra Jabar. Hal tersebut disampaikan oleh Sekjen Gerindra Ahmad Muzani.

"Melalui telepon, sekitar pukul 22:32 WIB, bapak sekjen DPP menyampaikan bahwa Pak Deddy Mizwar bersedia menjadi kader Partai Gerindra dengan penempatan tugas sebagai penasehat DPD Jabar," jelas Mulyadi.

Seperti diketahui, kedua partai ini sudah memenuhi syarat minimal (20 kursi DPRD Jabar) untuk mengusung pasangan di Pilgub. "(Sekjen Gerindra) meminta DPD Jabar untuk segera berkoordinasi dengan DPW PKS Jabar untuk memformulasikan teknis kerja sama dalam mempersiapkan Pilgub 2018," tutur Mulyadi.

Dengan demikian, PKS dan Gerindra tinggal mendaftarkan Deddy Mizwar dan Syaikhu pada bulan Januari 2018. Sebelumnya, PKS juga telah menyetujui duet Deddy Mizwar dan Syaikhu.

Terkait telah disahkannya pasangan ini, Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto enggan berkomentar soal Pilkada 2018 yang mulai memanas. Menurutnya hari kemerdekaan dirayakan dengan baik dan politik jangan dibuat tegang.

"Maaf ya, ini hari kemerdekaan kita, kita ratakan bersama dengan baik. Kita tidak bicara politik praktis, kalau bicara kebangsaan monggo,"ujar Prabowo di Universitas Bung Karno (UBK), Cikini, Jakarta Pusat, Kamis (17/8).

Prabowo menyerahkan persoalan Pilkada ke ketua DPD di wilayah masing-masing. Ia tidak mau mengomentari lebih lanjut. "Kalau Pilkada Jawa Barat tanyakan ketua partai di Jawa Barat, kalau Jawa Tengah tanyakan pada ketua partai Jawa Tengah. Kita ini santai saja, politik itu baik, politik itu positif. Jangan politik dibikin tegang," lanjutnya.

LAWAN KOALISI PDIP-GOLKAR - Potensi Pilgub Jabar berlangsung panas memang terbuka lantaran meski belum secara resmi mengajukan pasangan calon, namun bisa dipastikan lawan yang bakal dihadapi Gerindra-PKS di Jabar adalah koalisi PDIP-Golkar. Hal ini membuat peta pertarungan menjadi mirip dengan Pilgub DKI Jakarta beberapa waktu lalu.

Ketua DPD Partai Golkar Jawa Barat Dedi Mulyadi memastikan partainya akan berkoalisi dengan PDIP di semua pilkada serentak Jabar 2018. Termasuk di Pilgub Jabar di mana Dedi disebut-sebut akan maju menjadi cagubnya. "Jabar sudah jelas, ada keputusan DPD Golkar Jabar, rapim, tim inti sudah juga pleno dan menetapkan (pencalonan Dedi sebagai cagub Jabar)," ujar Dedi, Selasa (15/8).

Dedi mengaku, DPP sudah memutuskan pencalonan dirinya sebagai cagub pada 1 Agustus lalu. Keputusan itu dilakukan dalam rapat di DPP Golkar yang dipimpin oleh Ketua Harian Partai Nurdin Halid. "Yang saya tahu pencalonan saya sudah diputuskan pada 1 Agustus di DPP," ucapnya.

Mengenai kabar Golkar akan merapat ke Ridwan Kamil, Bupati Purwakarta ini tak mau banyak komentar. Dedi tetap berpatokan pada rapat yang menyatakan pencalonannya.

"Hasil rapat belum dicabut. Kita provinsi sudah koalisi dengan PDIP. Sudah jadi kesepakatan dengan partai. Golkar dan PDIP, pemilihan di 16 Kab/kota di Jawa Barat bersama-sama," terang dia.

Dedi Mulyadi sendiri optimistis koalisi Golkar dan PDIP bisa terjalin dengan dia sebagai cagub di Pilgub Jabar 2018. Posisi wakil, Dedi menyebut diserahkan ke PDIP.

Dedi juga mengatakan, sejauh ini belum ada parpol lain yang berniat berjuang bersama dengan Golkar-PDIP di Pilgub Jabar. Namun peluang untuk parpol lain sangat terbuka lebar untuk memperkokoh poros koalisi. "Kalau sekarang kita fokus pada penguatan koalisi dua partai dulu sambil membuka ruang berkomunikasi dengan parpol lain," kata pria yang juga Bupati Purwakarta ini.

Dikonfirmasi soal ini, Sekertaris DPD PDIP Jabar Abdy Yuhana menilai optimistis Dedi menjadi cagub merupakan hal yang wajar. Mengingat Golkar sudah memutuskan mengusung Bupati Purwakarta itu di Pilgub Jabar. "Iya sebagai calon (cagub dari Golkar) ya wajar beliau (Dedi) harus optimis," kata Abdy saat dihubungi via pesan singkat, Jumat (11/8/2018).

Kendati demikian, kata Abdy, untuk siapa yang menempati posisi cagub atau cawagub merupakan kewenangan pimpinan pusat. Sehingga, sambung dia, pihaknya belum bisa berspekulasi terkait sosok calon. "(Sosok calon) semua kewenangan DPP, jadi kami tidak bisa mendahului keputusan DPP. Kami menunggu," jelas dia.

Menurutnya siapapun yang akan dipilih nantinya harus siap berjuang bersama dengan partai koalisi. Tentunya hal tersebut sudah menjadi skenario untuk memanangkan konstentasi Pilgub Jabar. "Kader partai siapapun kalau diberikan penugasan oleh DPP harus siap dan mendukung keputusan DPP. Saya yakin itu skenario untuk menang," kata Abdy.

Sebelumnya Sekjen Partai Golkar Idrus Marham mengatakan DPD Golkar Jabar dan DPD PDIP Jabar telah melakukan pertemuan. Pertemuan itu pun menghasilkan beberapa kesepakatan.

Idrus mengatakan komunikasi soal Pilgub Jabar dengan PDIP masih di tingkat pembicaraan. Mereka masih meramu formula untuk memenangkan kontestasi Pilgub Jabar setelah menyatakan tak akan mengusung Ridwan Kamil.

"Jadi untuk Jawa Barat, sampai hari ini masih dalam tingkat pembicaraan. Masih meracik, masih meramu. Komunikasi politik kita tetap lakukan," jelas Idrus, Jumat (11/8).

NASIB RIDWAN KAMIL - Sementara itu, nasib Wali Kota Bandung Ridwan Kamil masih belum pasti lantaran dia tidak dilirik partai besar seperti PDIP dan Golkar untuk maju ke Pilgub Jabar 2018. Sejauh ini, baru NasDem yang memastikan mengusung Kang Emil. Meski demikian, Ridwan Kamil diprediksi dapat membuat kejutan.

Berdasarkan jumlah kursi di DPRD Jabar, Golkar memiliki 17 kursi dan PDIP memiliki 20 kursi. Jumlah kursi tersebut memenuhi syarat minimal mengusung calon gubernur (20 kursi). Sayangnya, kedua parpol itu tidak tertarik mengusung Ridwan Kamil.

Emil sendiro tetap menatap optimis segalanya masih bisa berubah sebelum pendaftaran pada Januari 2018 nanti. "Saya sudah berpengalaman ikut Pilkada itu jadi yang seperti itu bukan hal yang dramatis. Selama janur kuning belum melengkung semuanya masih mungkin. Jadi sebelum hari pendaftaran semua kalkulasi itu tidak ada yang final," ujar Ridwan Kamil ditemui di Pendopo Kota Bandung, Jl Dalem Kaum, Bandung, Jabar, Senin (14/8).

Saat ini, Ridwan Kamil memang baru diusung oleh NasDem yang memiliki 5 kursi. Sementara, Hanura, PKB, dan PPP menyatakan keinginan mengusung Ridwan Kamil asalkan ada cawagub dari parpol masing-masing. Hanya saha, ketiga parpol tersebut belum menyatakan dukungan resmi kepada Kang Emil.

Karena itu, Ridwan Kamil menegaskan tak masalah kalau saat ini sejumlah parpol tidak akan mengusungnya. "Jadi proses didukung tidak didukung dalam politik itu biasa. Sebagai objek dari politiknya, kita tidak pernah menutup diri berkomunikasi ke semua partai," kata alumnus ITB ini.

Ridwan Kamil masih yakin ada parpol lain yang meliriknya. "Kalau PDIP dan Golkar ternyata seperti yang dipersepsikan ya tidak ada masalah, dicari aja partai lain yang sepaham komunikasinya, baik visinya juga sama," tambahnya. (dtc)