Kebijakan dan diplomasi luar negeri Indonesia terhadap negara Asia Afrika akan lebih mudah dilakukan ketika persoalan internal negeri ini sudah terselesaikan.

JAKARTA, GRESNEWS.COM – Indonesia sukses menggelar konferensi Asia Afrika, pidato Presiden Joko Widodo pun mendapatkan sambutan hangat dari peserta KAA. Nampak dari luar Indonesia terlihat memiliki banyak kesempatan untuk berkembang lebih maju lagi. Tawaran untuk berinvestasi ke Indonesia gencar dilakukan. Namun perlu diingat, pemerintah seharus membenahi masalah internal.

Misalnya dengan daya tawar terkait kemaritiman. Apalagi Presiden Joko Widodo juga sudah menyatakan sejak awal ingin membangun Indonesia sebagai negara kemaritiman. Persoalannya daya tawar Indonesia ke negara-negara lain tersebut terbentur dengan masalah domestik yang belum selesai dan politik.  

Peneliti LIPI Adriana Elisabeth mengatakan Indonesia harus memperbaiki semua hal di internalnya. Misalnya Presiden Joko Widodo sejak kampanyenya menyatakan akan fokus di sektor maritim. Sehingga seharusnya pemerintah mulai memfokuskan pada sektor tersebut seperti pengelolaan perikanan.

"Kemaritiman harus ditata dan dibangun. Ada masalah disana misalnya kesejahteraan nelayan," ujar Adriana ‘Bisa Apa Setelah Konferensi Asia Afrika (KAA)?’ di Gado-gado Boplo, Jakarta, Sabtu (25/4).

Menurutnya Indonesia memiliki banyak potensi kelautan seperti arus laut Indonesia yang bisa mempengaruhi perubahan iklim. Ia menjelaskan kebijakan dan diplomasi luar negeri Indonesia terhadap negara Asia Afrika akan lebih mudah dilakukan ketika persoalan internal negeri ini sudah terselesaikan. Persoalannya saat ini pemerintah terlalu sibuk dengan urusan politik domestik.

Selanjutnya, Direktur Eksekutif Populi Center Nico Harjanto menilai kalau mau melihat antara Jokowi dengan Jusuf Kalla seharusnya Jokowi bisa lebih fokus terhadap isu luar negeri. Tapi pada faktanya Jokowi saat ini lebih ‘tenggelam’ dalam kegiatan yang bersifat domestik khususnya soal politik.

"Misalnya terkait perdagangan internasional Jokowi kurang terlihat fokus atensinya," ujar Nico pada kesempatan yang sama.

Menurutnya, akibat tekanan-tekanan politik domestik, Jokowi terlihat lebih condong memikirkan keselamatan politiknya ke depan dibandingkan persoalan-persoalan yang bersifat internasional. Padahal hubungan antara pemerintah dengan legislatif sudah lebih mencair. Sehingga seharusnya Jokowi mulai keluar dari perspektif tersebut dan mulai melihat apa yang ingin dicapai dengan adanya koridor Asia Afrika paska KAA.

Sebelumnya, Indonesia menjadi tuan rumah KAA yang diadakan di Bandung dan Jakarta. Forum KAA ini menjadi momen untuk merekatkan hubungan antara negara-negara berkembang di berbagai bidang.