Potensi Pecah Suara NU di Pilkada Jatim

Selasa, 08 Agustus 2017, 11:00:00 WIB - Politik

Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf atau Gus Ipul (kanan) menandatangani sejumlah dokumen disaksikan Koordinator Divisi Pendaftaran, Administrasi dan Koordinasi Wilayah Desk Pilkada DPD Partai Demokrat Maskur (ketiga kanan) di Kantor DPD Demokrat Jatim di Surabaya, Jawa Timur, Senin (31/7). (ANTARA)

SUARA NU PECAH - Kecenderungan rivalitas yang makin menguat antara Gus Ipul dan Khofifah ini, oleh banyak kalangan dikhawatirkan akan membuat Pilgub Jatim menjadi seperti Pilgub Jakarta, riuh dengan pertentangan dan polarisasi. Mochtar W Oetomo mengatakan, polarisasi dua kutub yang berlawanan mengandung risiko besar melahirkan konflik horizontal di antara pendukung seperti yang terjadi di Jakarta.

"Di Jatim memang kecil kemungkinan terjadi polarisasi politik yang dibumbui isu SARA seperti di Pilgub Jakarta. Tapi dengan rivalitas yang semakin menguat antara Gus Ipul dan Khofifah, jika tidak terkelola dan terkendali dengan baik, bisa saja polarisasi itu justru muncul di akar rumput NU, sebagai basis utama kedua kandidat. Konflik antarsaudara kerapkali justru malah lebih keras dan sulit sembuhnya," jelas Mochtar.

Sebagaimana dirilis beberapa waktu lalu, hasil survei Surabaya Survey Center (SSC) periode Juni 2017 mengungkap bahwa sebagian besar publik Jatim merasa tidak nyaman dan tidak suka jika polarisasi politik seperti yang terjadi pada Pilgub DKI Jakarta terjadi dalam Pilgub Jatim. Sebagian besar masyarakat Jatim menganggap polarisasi demikian hanya akan menciptakan sesuasana permusuhan dan merusak kebersamaan di wilayah Jatim.

Hasil survei SSC menunjukkan bahwa warga Jatim pemilih yang merasa tidak nyaman dengan polarisasi politik ala Pilgub DKI Jakarta sebanyak 83,40%. Sementara yang mengatakan biasa saja sebanyak 4,20%. Dan yang menyatakan nyaman hanya 2,80%. Adapun alasan warga Jawa Timur tidak merasa nyaman karena 1. bisa menciptakan suasana saling permusuhan 45.60%. 2. bisa merusak persatuan dan kebersamaan 38.20%, 3. membuat saling tidak percaya 10.80%, dan 4. membuat rakyat jadi korban kebohongan 5,40%

Data ini mengonfirmasi konflik di Jakarta membuat warga Jawa Timur merasa gerah dan tidak nyaman dengan polarisasi konflik serta menginginkan situasi kondusif . Pesan ini harus bisa ditangkap oleh para kandidat dan penyelenggara pemilu di Jatim.

"Pilgub Jakarta jelas menjadi pembelajaran untuk masyarakat Jatim. Adanya polarisasi konflik tidak membuat suasana menjadi baik dan juga sesuai dengan apa yang selama ini dikehendaki masyarakat Jatim yang rukun damai dan harmonis. Bisa dipahami kalau sebagian besar masyarakat Jatim menolak dan tidak nyaman jika Pilgub Jatim sampai seperti Pilgub Jakarta. Kita harap ada kesadaran kolektif hingga bisa meminimalisir ketegangan dan rivalitas dua kutub berlawanan antara Gus Ipul dan Khofifah yang mungkin saja makin menguat," jelas Mochtar.

Potensi pecahnya suara NU ini juga disadari Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar. Tak heran jika Cak Imin berharap Khofifah bersatu saja agar suara NU tak pecah. "Nggak masalah (Khofifah maju). Yang penting, kita sudah imbau, waktu itu bertempur Khofifah melawan Saifullah Yusuf (Gus Ipul) dua kali, kita dukung Khofifah PKB," kata Muhaimin di The Acacia Hotel, Jakpus, Senin (7/8).

"Sudah saatnya tak perlu pecah lagi, buat apa? Bersatu aja," imbuh Cak Imin.

Meski demikian, Cak Imin menghargai keputusan Khofifah jika jadi bertarung di Pilgub Jatim nanti. Alangkah lebih baiknya jika Khofifah mendampingi Gus Ipul, itu juga kalau Khofifah mau. "Tetap maju itu hak individual. Kalau mau (mendampingi Gus Ipul), tapi kan sudah," sebutnya.

Menurut Cak Imin, Khofifah sudah tak sekuat dulu saat maju dua kali di Pilgub Jatim. Dia telah memperingatkan Khofifah dengan mengajaknya bersatu di Pilgub Jatim 2018. "Pasti (sudah tak sekuat dulu). Makanya saya ingatkan, jangan memaksakan diri, lebih baik bersatu daripada kita nanti pecah dan kalah juga dia. Waktu itu kita dua kali dukung Khofifah," tutur Cak Imin.

Khofifah mengaku sudah punya tiket untuk maju ke Pilgub 2018. Soal deklarasi cagub, Khofifah akan menunggu restu dari Presiden Joko Widodo karena masih menjabat sebagai mensos.

Khofifah juga mengklaim mendapat dukungan dari sejumlah partai politik untuk maju ke Pilgub Jatim 2018. Lalu partai mana saja yang sudah merapat ke Khofifah? "Kalau parpol mana, nanti saja saat yang tepat mengambil keputusan," kata Khofifah. (dtc)


Baca selanjutnya: 1 2 3

Komentar