Demokrat Bermanuver, Nasib Emil di Ujung Tanduk

Kamis, 07 September 2017, 11:00:00 WIB - Politik

Walikota Bandung Ridwan Kamil (ANTARA)

JAKARTA, GRESNEWS.COM - Nasib Ridwan Kamil di ajang Pemilihan Gubernur Jawa Barat 2018 kembali menjadi tak jelas. Pasalnya, rencana koalisi lima partai yang terdiri dari PKB, Nasdem, PAN, Partai Demokrat, PPP terancam batal gara-gara manuver Demokrat. Nasib Emil pun menjadi diujung tanduk alias terancam tak mendapat tiket untuk maju menjadi cagub.

Alih-alih mewujudkan koalisi Demokrat malah mengajak PAN dan PPP membuat poros baru di Pilgub Jawa Barat. Jika ketiga partai ini berkoalisi dan memunculkan calon baru, bisa jadi Emil gagal maju ke Pilgub Jabar 2018. Pasalnya, jumlah kursi dan perolehan suara parpol pendukung Emil, yaitu Nasdem dan PKB kurang dari 20-25 persen.

Seperti diketahui syarat parpol atau gabungan parpol untuk bisa mengajukan calon adalah memiliki 20 persen dari jumlah kursi di DPRD Jabar atau 25 persen perolehan suara parpol atau gabungan parpol. Untuk 20 persen di DPRD, itu berarti jumlahnya adalah 20 kursi.

Saat ini baru NasDem (5 kursi) dan PKB (7 kursi) yang menyatakan mendukung Wali Kota Bandung tersebut. Itu berarti mereka masih harus menggandeng parpol lain untuk melengkapi 8 kekurangan kursi. Dua partai lain yang digadang-gadang siap merapat adalah PAN (4 kursi) dan PPP (9 kursi).

Bahkan awalnya pria yang akrab disapa Emil itu berharap kader PAN, Bima Arya, maju menjadi pendampingnya. Namun belakangan, permintaan Emil itu ditolak Bima Arya.

Dengan PPP sendiri, Emil sudah memperlihatkan kedekatan. Setelah ditolak oleh Bima Arya, Emil bertemu dengan kader PPP, Uu Ruzhanul Ulum, yang disebut-sebut sebagai bakal cawagub Jabar.

Namun dinamika Pilgub Jabar semakin mencair. Terbaru, Demokrat, yang memiliki 12 kursi di DPRD Jabar, mengajak PAN dan PPP untuk membuat poros baru dengan memunculkan tokoh-tokoh alternatif baru. Selama ini ada tiga figur yang digadang-gadang akan maju di Pilgub Jabar, yaitu Ridwan Kamil, Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi, dan Wakil Gubernur Jabar Deddy Mizwar.

"Harapannya ada calon baru, yang selama ini barangkali di luar yang sudah ada, itu harapan yang dibuat partai (koalisi)," kata Ketua DPD Demokrat Jabar Iwan Sulandjana, Rabu (6/9).

Demokrat pun mengajukan tiga nama tokoh alternatif baru itu. Namun yang diajukan ketiganya adalah kader Partai Demokrat. Selain Iwan sendiri, dua nama lainnya adalah Dede Yusuf dan Herman Khaeron, yang sama-sama merupakan anggota DPR. "Selama ini seperti ada penggiringan, calon hanya itu itu saja. Saya dengan PPP dan PAN ingin membuat poros baru dan menunjukkan kepada masyarakat bahwa calon itu banyak," jelas Iwan.

Sementara itu, dua poros lain yang telah terbentuk adalah kubu PDIP (20 kursi) dan Golkar (17 kursi) meski belum memutuskan tokoh siapa yang akan diusung. Namun dikabarkan, poros ini siap mengusung Dedi Mulyadi.

Perkembangan terbaru, Hanura (3 kursi), yang awalnya mengisyaratkan akan mendukung Emil, punya manuver baru. Partai pimpinan Oesman Sapta Odang (OSO) ini kini tampaknya akan bergabung dengan poros PDIP-Golkar.

"(Koalisi dengan) yang ada kemiripan warna, kayak merah (PDIP) dan kuning muda (Golkar), nggak jauh-jauh amat. Saya tidak berhak menyebut nama, tidak boleh melampaui kewenangan DPP partai," ujar Ketua DPD Hanura Jabar Aceng Fikri, Senin (4/9). PDIP pun sudah mengapresiasi isyarat dari Hanura itu.

Kemudian poros terakhir yang sudah ada adalah koalisi Gerindra (11) dan PKS (12). Kedua partai ini sudah memastikan akan mengusung Deddy Mizwar-Ahmad Syaikhu.

Dengan peta terbaru, agaknya membuat posisi Ridwan Kamil terjepit. Pasalnya, bila hanya diusung NasDem dan PKB, tentu saja Emil tak bisa mendapat tiket untuk maju di Pilgub Jabar.

Hanya, Emil belum patah semangat. Dia bermaksud menemui Ketum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono untuk menggenapkan dukungan. "Sedang dikondisikan (bertemu). Tidak mudah bertemu mantan presiden," ujar Emil kepada wartawan, Selasa (5/9).

Disinggung apakah yakin akan mendapat dukungan setelah pertemuan tersebut, Emil mengaku optimistis. "Kan komunikasi. Yakin atau nggak, yakin saja," imbuhnya.


Baca selanjutnya: 1 2 3

Komentar