Karena itu menurut  dosen Institut Pertanian Bogor yang juga aktif di Yayasan Nastari Hermanu Triwidodo, sangat penting untuk memilih pemimpin yang punya visi mewujudkan kedaulatan petani dan kedaulatan negara.

JAKARTA, GRESNEWS.COM - Jaringan organisasi petani dan LSM yang terdiri dari Ikatan Petani Pengendalian Hama Terpadu Indonesia (IPPHTI), Joglotani Yogyakarta, Yayasan Nastari Bogor, AB2TI dan Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP) menyenggarakan acara Renungan dan Doa Kedaulatan Petani, Rabu (2/4) kemarin. Acara tersebut mengambil tema "Menghindari Menuai Musibah Karena Gegabah Menuai Petaka Karena Lupa."

Acara tersebut bertujuan untuk mengingatkan semua pihak terutama petani bahwa tahun ini merupakan tahun politik. Pemimpin yang terpilih, akan menentukan nasib petani dan mendorong tercapainya negara bangsa yang berdaulat dan berkepribadian yang dibangun dari sektor pertanian.

Karena itu menurut  dosen Institut Pertanian Bogor yang juga aktif di Yayasan Nastari Hermanu Triwidodo, sangat penting untuk memilih pemimpin yang punya visi mewujudkan kedaulatan petani dan kedaulatan negara. "Jangan sampai terkena musibah di kemudian hari karena gegabah, dan lupa memilih pemimpin yang baik," ujar Hermanu kepada Gresnews.com, Kamis (3/4).

Acara yang digelar di Joglo Tani Yogyakarta itu, juga merupakan rangkaian kegiatan rembug tani nusantara. Hermanu dalam kesempatan itu mengingatkan bahwa tahun ini merupakan tahun penentuan apakah petani dan pertanian serta negara ini akan maju atau tenggelam. "Momentum pemilu harus dijadikan ruang bagi petani untuk menentukan pemimpin yang menjadikan dirinya pelayan petani dan berdiri di atas golongan dan kelompok," ujarnya.

Terkait kepemimpinan, Hermanu mengingatkan, hendaknya orang yang memimpin petani kedepan memiliki sifat sakti, budi dan bhakti dari desa hingga tingkat negara. Sakti artinya kuat, cerdas dan berilmu; budi artinya jujur, berkepribadian dan bijaksana; bhakti artinya mau berkorban untuk kepentingan rakyat banyak di atas kepentingan dan ambisi pribadi dan kelompok.

Sementara Manager Advokasi dan Jaringan Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP) Said Abdullah mengatakan, momentum politik ini hendaknya dimanfaatkan sebagai ruang untuk memperjuangkan perwujudan kedaulatan pangan. "Pergantian kepemimpinan menjadi kesempatan bagi semua elemen terutama petani untuk dapat menentukan pemimpin pilihan," ujarnya kepada Gresnews.com, Kamis (2/4).

Momentum politik ini, kata Said, harus dimanfaatkan dengan baik. Kekeliruan pembangunan pertanian masa lalu yang disebabkan pemimpin yang tidak punya komitmen kuat dalam mewujudkan kedaulatan pangan dan petani jangan sampai terulang. "Pesta politik tahun ini hendaknya melahirkan pemimpin yang mampu mengenal dan dikenal petani, serta memahami budaya serta kebutuhan petani," kata Said berharap.

Kegiatan renungan dan doa ini juga dilakukan dengan berpegang pada nilai-nilai tradisi petani. Salah satunya dengan dilakukannya upacara kupat luar, kupat lepet dan sintho duduk. Upacara ini tak hanya simbolisasi namun juga doa untuk menghindarkan para petani dari musibah, menjadikan pemimpin yang dipilih amanah.

Hermanu Triwidodo mengatakan bahwa upacara tradisi petani ini dilakukan untuk mengingatkan kita semua bahwa pemimpin petani harus juga memahami budaya petani itu sendiri. "Supaya tidak lupa siapa yang menjadi tujuan dari kepemimpinan dan pembangunan," katanya.