Menebak Suara NU di Putaran Dua Pilkada Jakarta

Senin, 20 Maret 2017, 11:00:00 WIB - Politik

Massa Komite Independen Pemantau Pemilu (KIPP) melakukan aksi damai terkait Pilkada DKI Jakarta di kawasan Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta, Minggu (12/3). Aksi tersebut dilakukan dalam rangka mengajak masyarakat untuk lebih berperan aktif dalam Pilkada serta mendesak KPU dan Bawaslu untuk lebih profesional dalam menjalankan tugasnya, terutama permasalahan Daftar Pemilih Tetap (DPT). (ANTARA)

JAKARTA, GRESNEWS.COM — Strategi politisasi agama disebut masih memiliki tuah untuk menumbangkan pasangan petahana Basuki Tjahja Purnama-Djarot Saeful Hidayat di putaran kedua Pilkada DKI Jakarta. Pernyataan itu dikeluarkan Direktur Eksekutif Lingkar Madari (LIMA) Ray Rangkuti saat dihubungi gresnews.com. "Saat ini, tidak ada cara lain untuk mengalahkan Ahok kecuali dengan politisasi agama," kata Ray, Minggu (18/3).

Lantaran itulah Ray menerangkan, dalam kaitannya dengan politisasi agama, baik kubu Ahok-Djarot maupun Anies Rasyid Baswedan-Sandiaga Uno, keduanya terus berupaya sebisa mungkin memanfaatkan simbol-simbol agama untuk mendongkrak perolehan suara mereka. "Di putaran kedua ini, ada upaya untuk memaksimalkan simbol-simbol agama. Misalnya, mendekati NU. Secara simbolik, hal itu penting dilakukan kedua pasangan calon karena amat menguntungkan," kata Ray.

Ray memaparkan, meski secara simbolik, kalaulah NU terlihat ramah dengan Ahok, keuntungan yang diraih Ahok adalah namanya bisa jadi bersih dari kasus penistaan agama. Demikian juga bagi Anies, simbol kedekatan dirinya dengan NU bisa menepis dugaan sejumlah kalangan yang menyebut mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan itu pro-kelompok radikal atau representasi Islam garis keras.

Dengan kata lain, kedekatan simbolik dengan kelompok agama (dalam hal ini Islam) bisa membersihkan nama kedua pasangan calon Pilkada DKI dari pandangan negatif yang melekat pada keduanya, yang justru sama-sama timbul lantaran persoalan politisasi agama. "Kedekatan Ahok dengan NU dapat menekan para pemilih yang mendasarkan pilihannya berdasarkan agama. Mereka tidak perlu segan memilih Ahok dengan dalih tokoh NU sekalipun ramah sama dia (Ahok). Kira-kira begitu. Demikian juga Anies. Kalau dia terlihat dekat dengan NU, asumsi orang bahwa dia merupakan sosok yang sangat kanan, terbantahkan," papar Ray.

Namun demikian, Ray menegaskan, persoalan kedekatan simbolik itu memang belum tentu bersesuaian dengan sikap Nahdiyin di bilik suara. Menurut pria kelahiran Mandailing Natal tersebut, bahwa kemudian orang NU memilih Ahok atau Anies, itu soal lain. Yang jelas, simbol kedekatan dua cagub DKI itu dengan NU secara otomatis membawa keuntungan yang tak bisa dianggap sebelah mata.

Kalaupun kedekatan simbolik tersebut tidak bisa menarik jumlah pemilih dari kalangan NU, Ray menyebut hal itu bisa mempengaruhi sikap pemilih dari kalangan lain di luar NU. Alasan pendapat itu didasarkan pada pandangan umum bahwa NU merupakan ormas Islam terbesar di Indonesia yang dianggap punya sikap paling moderat.

"Bagi pemilih yang kerap mendasarkan pilihannya berdasar alasan-alasan yang rasional, tidak semata-mata berdasar agama, rujukannya pasti NU. Sedang bagi mereka yang mendasarkan pilihannya atas agama, bisa jadi rujukannya adalah FPI dan ormas lain yang memiliki pandangan serupa. Makanya dalam hal ini posisi NU itu sangat strategis untuk menyasar para pemilih yang rasional," kata Ray.

Disinggung ke mana kecenderungan kedekatan simbolik NU dengan kedua pasangan calon gubernur DKI, secara pribadi, Ray menyebut kedekatan itu cenderung ke Ahok. "Secara eksplisit NU tidak menyatakan itu. Tapi dilihat dari simbol-simbol atau kode-kode yang dibuat NU, NU cenderung ke Ahok. Cirinya, NU tidak terlalu keukeuh menuntut Ahok untuk diproses secara hukum. Ormas ini juga relatif tidak terlalu aktif bicara soal kasus Al-Maidah 51," kata Ray.

Di sisi lain, saat spanduk jenazah pemilih Ahok (yang diklaim sebagai kalangan munafik) tidak layak disalatkan bertebaran, Banser NU justru punya inisiatif untuk membuat fatwa bahwa memilih pemimpin beda agama tidak haram. Demikian juga PP Anshor, kelompok underbouw NU ini malah menyediakan posko khusus untuk membantu mengurus jenazah pemilih Ahok andai mereka benar-benar tidak dishalatkan kaum muslim di sekitarnya.

"Terakhir, simbol kedekatan NU kepada pasangan Ahok-Djarot bisa dilihat dari pertemuan Djarot dengan Kyai Aqil Siradj," kata Ray.

Disinggung bahwa Anies pun menyambangi KH. Aqil Siradj beberapa waktu lalu, Ray menyebut pertemuan itu berlangsung unik. Pasalnya, salah satu hal yang disampaikan Ketua PBNU tersebut kepada Anies adalah pesan agar Anies-Sandi dapat mengembangkan Islam yang plural dan dialogis andai keduanya melenggang ke Balai Kota.

"Itu tantangan terhadap Anies. Kyai Aqil seolah mau mengatakan bahwa saat ini Anies sudah terlalu kanan. Makanya, jika dilihat dari simbol-simbol itu, NU lebih dekat ke Ahok," pungkasnya.


Baca selanjutnya: 1 2 3

Komentar