Menggoyang Jabatan Ketua Setya Novanto di DPR

Sabtu, 18 Maret 2017, 11:00:38 WIB - Politik

Koordinator Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI) Boyamin Saiman (kanan) menyerahkan surat laporan pelanggaran kode etik Ketua DPR Setya Novanto kepada staf Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) Mahfudin (kiri) di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta (16/3). MAKI melaporkan Ketua DPR Setya Novanto ke MKD karena diduga melakukan pelanggaran kode etik dengan berbuat kebohongan saat menjawab pertanyaan wartawan terkait kasus korupsi KTP Elektronik. (ANTARA)

JAKARTA, GRESNEWS.COM - Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI) resmi melaporkan Ketua DPR RI Setya Novanto ke Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD). Setya Novanto diduga melakukan tindakan tidak terpuji terkait pernyataan Setya Novanto yang mengaku tidak mengenal Sugiharto dan Irman, pejabat Kementerian Dalam Negeri yang terbelit kasus dugaan kasus Kartu Penduduk Elektronik (e-KTP).

Laporan terkait kasus e-KTP memperpanjang catatan kasus etik yang diduga dilakukan Setya Novanto selama menjabat Ketua DPR. Sebelumnya pada 2015 lalu, nama Setya Setya Novanto juga pernah dilaporkan oleh Sudirman Said yang saat itu menjabat Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) ke MKD dalam kasus "papa minta saham".

Koordinator MAKI Boyamin Saiman saat tiba di ruang MKD mengatakan, laporannya kepada MKD bukan soal keterlibatan Setya Novanto dalam kasus korupsi proyek e-KTP yang merugikan negara senilai Rp2,3 triliun. Soal keterlibatan itu memang sedang dalam diproses hukum. Laporannya terkait pernyataan Setya Novanto yang dinilainya telah melakukan pembohongan dan tindakan tidak terpuji.

Menurut mantan kuasa hukum Antasari Azhar itu, pernyataan Setya Novanto melanggar kode etik anggota DPR. Padahal, Boyamin sendiri mengaku memiliki bukti foto yang bisa memperjelas hubungan antara Setya Novanto, Irman dan Sugiharto.



"Ada dua catatan saya terkait pernyataan Setya Novanto. Pertama dia mengaku tidak pernah melakukan pertemuan khusus soal e-KTP. Kedua, mengaku tidak kenal dengan Irman dan Sugiharto," kata Boyamin di Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Kamis (16/3).

Padahal, Boyamin menyampaikan bahwa ada pertemuan antara Setya Novanto, Irman dan Sugiharto di Hotel Grand Melia sekitar akhir 2010 atau di awal 2011 Setya Novanto melakukan pertemuan bersama. Dalam pertemuan itu ada Setya Novanto, Irman, Sugiharto, Andi Agustinus alias Andi Narogong dan Diah Anggraini.

Setya Novanto memang disebut menerima uang haram itu dalam dakwaan Irman dan Sugiharto. Irman dan Sugiharto yang merupakan pihak pejabat di Kementerian Dalam Negeri waktu itu. Untuk diketahui pula Setya Novanto sebelumnya mengaku tidak mengenal Irman dan Sugiharto.

Baca selanjutnya: 1 2

Komentar