La Nyalla "Menyala" Serang Prabowo

Jum'at, 12 Januari 2018, 11:00:00 WIB - Politik

La Nyalla Mattalitti (ANTARA)


BANTAHAN GERINDRA - Terkait tuduhan yang dilantarkan La Nyalla, Waketum Gerindra Fadli Zon dengan tegas membantahnya. 'Kalau dari Pak Prabowo nggak ada ya, dan saya tidak pernah mendengar dan juga menemukan bukti semacam itu ya,' kata Fadli Zon kepada wartawan di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (11/1).

Menurut Fadli, Prabowo memang pernah bertemu La Nyalla. Namun yang dibahas adalah persiapan dana untuk Pilgub Jatim 2018 dari sisi La Nyalla, bukan meminta mahar. 'Kan belum tentu dananya dia bisa, juga penggalangannya. Jadi saya kira bukan untuk Pak Prabowo atau untuk DPP Gerindra, saya kira itu lebih untuk pada persiapan calon yang bersangkutan,' ujar Fadli.

Fadli mengatakan Jawa Timur adalah provinsi besar. Perlu dana besar untuk pemenangan, baik yang digunakan sebagai ongkos perjalanan kampanye, maupun membayar saksi. Konteks pembahasan Prabowo dengan La Nyalla, kata Fadli, soal kesiapan dari mantan Ketum PSSI itu, bukan meminta uang.

'Saya kira wajar soal hal itu. Bukan untuk kepentingan pribadi atau kepentingan partai, tapi untuk kepentingan yang bersangkutan,' ujar Wakil Ketua DPR ini.


'Pak Prabowo ini... sekali lagi, untuk saksi itu kan harus ada transport-nya. Saya nggak tahu ya, saya harus cek dulu, kalau itu disebut untuk saksi, saya kira masih wajar, karena memang misalnya kita harus menyiapkan sekian ribu saksi di setiap TPS yang mereka mencatat, kan mereka harus diberikan transportasi, konsumsi pada waktu hari H maupun persiapan sebelumnya,' sambung Fadli.

Fadli merasa ada miskomunikasi. Dia berulang kali menegaskan tak ada permintaan duit dari Prabowo ke La Nyalla. 'Saya kira itu miskomunikasi lah ya,' ujar Fadli.

DPD Gerindra Jatim juga membantah tudingan La Nyalla Mattalitti. Gerindra Jatim tak percaya tudingan itu. 'Nggak tahu. Saya merasa tidak berkompeten berbicara terkait DPP. Kecuali kalau terkait DPD, saya nggak bisa bicara soal itu karena itu di Jakarta kan, kepengurusan di DPP. Tapi teman-teman di DPD dan kader di Jatim tidak ada yang mempercayainya,' kata Sekretaris DPD Gerindra Jatim Anwar Saddad, Kamis (11/1).

Ketua DPP Gerindra Ahmad Riza Patria juga mengeluarkan bantahan serupa. Dia membantah ada syarat miliaran rupiah untuk mendapatkan rekomendasi menjadi cagung dari Gerindra.

'Ya nggak benar. Jadi Partai Gerindra ini partai yang dalam proses pilkada itu selalu mengedepankan kepentingan bangsa kepentingan negara di atas kepentingan parpol,' ujar Riza.

Riza kemudian mengungkap lagi soal Pilkada DKI 2012. Saat itu Gerindra, kata Riza, berani mengusung pasangan Jokowi-Ahok saat partai lain mendukung Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli. Saat itu Gerindra memohon kepada Ketum PDIP Megawati agar Jokowi diperbolehkan maju.

Panjang-lebar, akhirnya Megawati menyetujui pencalonan Jokowi-Ahok. Namun masalah uang sempat merintangi niat tersebut. Akhirnya, kata Riza, Gerindra mengeluarkan duit untuk Jokowi-Ahok.

'Ada masalah lain di situ, apa? Ternyata pasangan (Jokowi-Ahok) ini tidak punya uang. Bagaimana dengan uang? Dipertanyakan. Bagaimana pembiayaan pilkada? Ketika itu Bapak Prabowo, Pak Hashim, menyampaikan, 'Kita akan siap mencarikan dananya.' Partai Gerindra ketika itu Pak Hashim ketika itu sampai Rp 62,5 miliar itu keluar uang untuk kepentingan Pilkada DKI Jokowi-Ahok,' tutur Riza.

'Apa artinya di situ? Kami bukan partai yang meminta, apalagi mengambil uang dari pasangan calon. Tapi buktinya kami justru partai yang mengeluarkan uang untuk kepentingan pasangan calon,' tegas dia. (dtc)


Baca selanjutnya: 1 2 3

Komentar