Padahal PPP sudah merelakan tak mendapat kursi pimpinan DPR. Saat itu kesepakatan sesama anggota KMP, PPP akan mendapat kursi Ketua MPR.

JAKARTA, GRESNEWS.COM - Koalisi Merah Putih (KMP) diambang perpecahan menjelang pemilihan calon pimpinan Majelis Permusyawaratan Rakyat. Salah satu anggota KMP yakni, Partai Persatuan Pembangunan terancam ´mbalelo´.

Partai berlambang Ka´bah itu kecewa terhadap Koalisi yang dipimpin Gerindra karena tak memberikan satu kursi pimpinan MPR. Sekretaris Jenderal PPP Syaifullah Tamliha mengaku hingga Selasa (7/10) pagi ini terus melakukan lobi dengan anggota KMP. Namun tak ada isyarat kursi pimpinan MPR didapat PPP.

Padahal PPP sudah merelakan tak mendapat kursi pimpinan DPR. Saat itu kesepakatan sesama anggota KMP, PPP akan mendapat kursi Ketua MPR. Sehingga saat kursi wakil ketua DPR diberikan ke Partai Demokrat, PPP pun iklhas.

"Saya belum tidur untuk ngurus ini. Tadi pagi saya sudah menghadiri juga rapat dengan KMP tetap saja jabatan Wakil Ketua MPR tidak diberikan. Kami tetap sepakat pakai harga mati," kata Syaifullah di gedung DPR/MPR, Jakarta Selasa (7/10).

PPP menurut Syaifullah membutuhkan kepastian dari KMP. Musabab tak ada kepastian, PPP juga menjalin komunikasi dengan Koalisi Indonesia Hebat (KIH) pengusung Joko Widodo-Jusuf Kalla.

"Kalau boleh saya bilang 60% sekarang ini kalau KMP tidak bisa terima, maka 60% kaki PPP di Koalisi Indonesia Hebat," papar Syaifullah.

Namun, KMP membantah hal tersebut, tidak solidnya internal PPP diklaim sebagai alasan mereka terdepak dari KMP. Kelemahan PPP sehingga tidak dimasukkan  dalam jatah kursi pimpinan MPR dijabarkan secara gamblang oleh Politisi Gerindra, Desmond Maesa.
Menurutnya, internal PPP tidak memiliki kekuatan mengakomodir seluruh anggota dan pengurusnya. "Ada perpecahan pendukung juga ada yang KIH ada yang KMP," ujarnya, Senayan, Selasa, (7/10).

Ia menampik tuduhan tidak diberinya jatah kursi ke partai berlambang Ka´bah itu. "Bukan tidak diberi tapi mereka yang tidak kompak," ujarnya.

Melihat urutan pemenang, PPP merupakan partai dengan persentase terkecil  di  antara partai-partai pendukung KMP lainnya. Untuk itu sebagai yang terjepit sudah seharusnya PPP legowo atas semua keputusan yang ada.

Idrus Marham, Politisi Golkar juga menyatakan ketidakikutsertaan PPP merupakan kesepakatan bersama yang telah dibicarakan. "Ini bukan soal lobi tapi sikap politik kita lihat Indonesia ke depan. KMP sudah ada visi penataan kebangsaan, perlu harmonisasi uud, revisi uu, dan diperlukan kepemimpinan," ungkapnya.

Soeharso Monoarva, Wakil Ketua Umum PPP menegaskan partainya akan berpihak pada kubu manapun yang bersedia memberi kesempatan yang lebih besar. "Kita perjuangkan kehormatan partai, salah satu wujud dari itu adalah bahwa mengapa kita tidak mesti memenangkan salah satu pimpinan di MPR. Kemarin kita sudah berdarah-darah di pemilihan pimpinan DPR, wajar PPP memperjuangkan dirinya sendiri, sekarang menghitung dirinya sendiri, bagaimana ppp mampu bisa mendapat kursi pimpinan MPR, apakah di KIH atau KMP kita lihat," ungkapnya.

Sementara, Puan Maharani, Ketua DPP PDIP mengingatkan agar PPP tidak berdiri di dua kaki. Jika konsisten ia berharap PPP menunjukkan komitmennya. "Jangan terus-terusan sepperti ini ayo bersama kita bangun melalui pemilihan MPR ini. Saya yakin teman-teman  sudah punya pencerahan mana yang diajak berteman dengan hati dan konsisten untuk jalankan masa depan bangsa. Sejak awal PDIP sudah berharap PPP bisa ikut bersama kami," ujarnya. Ia menjamin akan memberikan satu kursi untuk PPP jika berjalan bersama KIH.