RUU Terorisme Harus Akomodir Perspektif Gender

Kamis, 14 September 2017, 09:00:00 WIB - Peristiwa

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen Pol Suhardi Alius (tengah) bersama Ketua Umum PWI Pusat Margiono (kiri) dan tokoh NU Jatim Muhsin Ghazali (kanan), menghadiri sosialisasi penanggulangan terorisme di Tulungagung, Jawa Timur, Selasa (15/8). (ANTARA)

JAKARTA, GRESNEWS.COM - Anggota Pansus RUU Terorisme DPR Bobby Adhityo Rizaldi mengatakan, akhir-akhir ini makin banyak perempuan di dalam maupun luar negeri yang menjadi pelaku terorisme. "Bahkan siap meledakkan dirinya dengan bom bunuh diri seperti Dian Yulia Novi yang akan meledakkan diri di Istana Presiden di akhir 2016," tegas Bobby dalam diskusi 'Perempuan dalam Radikalisme dan Terorisme' di Gedung DPR Senayan, Jakarta, Rabu (13/9) seperti dikutip dpr.go.id.

Karena itu, dia menegaskan, RUU Tindak Pidana Terorisme yang tengah dibahas diharapkan mengakomodir perspektif gender atau keterlibatan perempuan, baik sebagai pelaku maupun korban gerakan terorisme. Bobby mengatakan, perempuan semakin banyak dimanfaatkan sebagai subyek gerakan teroris.

Perempuan banyak menjadi martir atau kombatan teroris. Seperti di Boko Haram, Afrika, Irlandia Utara bahkan Indonesia. "Mengapa? Sebab, perempuan mudah dipengaruhi dengan doktrinasi ideologi radikal karena tak memiliki akses pengetahuan keagamaan ke luar kelompoknya, situs sebagai sumber informasi keagamaan juga dari kelompok mereka saja, sehingga mudah menjadi radikal," paparnya.

Selain itu berbagai macam modus digunakan komplotan terorisme untuk merekrut perempuan, seperti mengikuti suami ke Suriah dengan alasan pernikahan padahal sebagai upaya untuk merekrut teroris perempuan. Karena itu, Bobby menambahkan, untuk mencegah penyebaran ajaran radikalisme tersebut telah dilakukan Fatayat NU dengan menugaskan 1.000 kader untuk memberi ceramah di tengah masyarakat.

"Jadi, gender ini materi baru dalam RUU Terorisme. Di draft pemerintah pun belum ada draft gender, sehingga harus diakomodir," pungkasnya.

Pada kesempatan yang sama, Direktur C-Save Mira Kusumarini berpandangan, selama ini perumusan RUU Terorisme belum memiliki perspektif gender, sehingga cenderung mengabaikan posisi perempuan. Padahal, perempuan memiliki posisi strategis dalam isu ‘Countering Violent Extremism atau anti terorisme’.

"Perempuan bisa menjadi pelaku maupun korban. Disebut sebagai korban akibat ketidaktahuan akan aktivitas terorisme pasangannya dan memungkinkan mereka menerima hukuman berat seperti hukuman mati tanpa pertimbangan khusus," tutur Mira.

Sementara itu, Kepala Bidang Rehabilitasi Vokasional Kemensos Neneng Ratnaningsih melaporkan, terdapat 161 deportan dari luar negeri seperti Suriah, Turki, Jepang, Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam terdiri dari 43 perempuan dan 79 anak-anak berusia sekolah. Ada yang berasal dari Sumatera Selatan, Jambi, Sumatera Barat, Lampung, DKI Jakarta, Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Jawa Timur.

Sedangkan yang terbesar direhabilitasi Kemensos adalah berasal dari Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Untuk mengurangi paham radikal, Kemensos RI melakukan pendampingan selama 24 jam.

"Semula mereka mengganggap semua yang di luar adalah kafir. Jangankan menjawab salam, melihat kita saja mereka tak mau," jelas Neneng. (mag)

Komentar