Jokowi: Metode Pendidikan Nasional Monoton

Minggu, 29 Oktober 2017, 07:00:00 WIB - Peristiwa

Presiden Joko Widodo (kiri) disaksikan Kepala Staf Kepresidenan Teten Masduki (kedua kiri), Menpora Imam Nahrawi (kedua kanan) dan Menkominfo Rudiantara mencoba kaca mata produk lokal di salah satu stan saat peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-89 di Halaman Istana Bogor, Jawa Barat, Sabtu (28/10). (ANTARA)

JAKARTA, GRESNEWS.COM - Presiden Joko Widodo mengatakan, metode pendidikan nasional sudah terlalu lama monoton dan terjebak pada rutinitas. Jika ini tidak dirombak secara total, kata Jokowi, Indonesia bakal membutuhkan waktu 128 tahun untuk bisa menyamai negara-negara maju. 'Itu pun di Jakarta,' kata Jokowi menyitir kajian seorang profesor di Harvard University, dalam acara Peringatan Hari Sumpah Pemuda, di Istana Kepresidenan, Bogor, Jawa Barat, Sabtu (28/10), seperti dikutip setkab.go.id.

Problem besar pendidikan nasional, kata Jokowi, adalah geografi Indonesia yang berpulau-pulau, 17.000 Pulau. Presiden mengemukakan, tidak mudah menjangkau dari pusat ke daerah, terutama yang berkaitan dengan pendidikan.

Untui itu, Presiden sependapat, bahwa salah satu hal yang paling cepat sebetulnya yang dipakai adalah memperbaiki aplikasi, dengan aplikasi sistem. 'Saya kira perubahan akan nampak kalau kita berani menggunakan aplikasi-aplikasi sistem yang memang memudahkan anak-anak untuk belajar, dan saya paling senang kalau anak-anak kita ini tidak belajar di ruangan saja,' tutur Jokowi.

Presiden memberi contoh, misalkan anak-anak SD (Sekolah Dasar), bisa diajak ke kantor bank agar mengerti mengenai sistem keuangan. 'Kenapa tidak diajak ke misalnya pabrik garmen untuk melihat sebetulnya yang namanya pabrik itu apa. Bisa saja diajak ke museum untuk mengenalkan sejarah secara riil, mengenalkan artefak-artefak lama yang konkret,' terang Jokowi.



'Kita sudah terlalu lama selalu belajar di ruangan. Kalau saya senangnya ya 60:40, 40 di ruangan, 60-nya di luar ruangan,' tambahnya.

Jokowi menegaskan, anak-anak harus dihadapkan pada problem-problem, dihadapkan pada tantangan-tantangan, dihadapkan pada masalah masalah. 'Jangan hanya rutinitas seperti yang telah kita kerjakan bertahun-tahun. Kalau kita berani berubah seperti itu, tantangan-tantangan ini akan secara cepat bisa kita hadapi,' ucapnya.

Menurutnya, anak harus langsung dihadapkan pada tantangan, dihadapkan pada masalah, dihadapkan pada problem-problem yang riil, yang ada sesuai dengan level masing-masing. 'SD dengan SMP yang berbeda dong, SMP dengan SMA yang berbeda, SMA dengan Universitas juga berbeda-beda,' tegasnya.

'Saya kira kalau ini bisa kita kerjakan, apalagi dengan aplikasi sistem yang bisa menjangkau sampai daerah-daerah terpencil, sampai pulau-pulau terluar kita, itu akan lebih cepat perubahan itu,' ujar Jokowi. (mag)

Komentar