Indonesia Dorong Pembangunan Industri Sawit Lestari

Selasa, 12 September 2017, 07:00:00 WIB - Peristiwa

Perawatan bibit pohon sawit (ANTARA)

JAKARTA, GRESNEWS.COM - Wakil Menteri Luar Negeri AM Fachir menegaskan Indonesia sudah sejak lama telah memulai upaya membangun industri sawit lestari. Hal itu dilakukan mengingat kontribusi industri kelapa sawit bagi perekonomian Indonesia. "Pemerintah Indonesia memiliki kepentingan untuk memastikan industri tersebut menerapkan prinsip-prinsip kelestarian," tegas Fachir saat membuka Seminar "CRC990: Towards Indonesian Sustainable Palm Oil" di Gedung Pancasila, Jakarta, (11/9), seperti dikutip kemlu.go.id.

Seminar tersebut diselenggarakan oleh Badan Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan (BPPK) bersama Kementerian Luar Negeri. Tujuannya adalah untuk meningkatkan pemahaman tentang industri sawit lestari Indonesia (Indonesian Sustainable Palm Oil) serta sebagai salah satu upaya menangkal kampanye hitam sawit Indonesia.

Hadir dalam acara tersebut, Direktur Eksekutif Council of Palm Oil Producing Countries (CPOPC) Mahendra Siregar, dan Staf Ahli bidang Diplomasi Ekonomi Kementerian Luar Negeri Ridwan Hassan. Hadir pula Duta Besar dan Perwakilan negara-negara penghasil dan pengguna sawit Indonesia seperti Jerman, Italia, Kolombia dan Spanyol, serta lembaga pemerintah maupun non pemerintah yang memiliki perhatian pada isu kelapa sawit.

Dalam kesempatan itu Fachir memaparkan, selama lima tahun terakhir, tiga perguruan tinggi di Indonesia yaitu Universitas Jambi (Unja), Institut Pertanian Bogor (IPB), dan Universitas Tadulako (Untad) Palu telah membentuk konsorsium riset dengan University of Göttingen, Jerman untuk mengintensifkan kajian mengenai sawit lestari. Kerja sama tersebut dinamakan Collaborative Research Center 990 (CRC 990): Ecological and Socioeconomic Functions of Tropical Lowland Rainforest Transformation Systems (Sumatra, Indonesia)/EFForTS.

Penelitian CRC 990 telah membuahkan 62 artikel ilmiah yang dipublikasikan di berbagai jurnal ilmiah internasional dan dapat dimanfaatkan untuk menangkal kampanye hitam terhadap sawit Indonesia. "Indonesia memandang serius kampanye negatif karena merupakan ancaman yang merugikan industri sawit. Saat ini, Indonesia merupakan negara penghasil sawit terbesar di dunia," ujar Fachir.

Pada 2016, Indonesia menghasilkan lebih dari 35 juta ton minyak sawit dan 25 juta ton diantaranya di ekspor ke seluruh dunia. Nilai ekspor minyak sawit Indonesia mencapai lebih dari US$17 miliar, sekitar 12,32% dari total ekspor Indonesia.

Kampanye negatif terhadap minyak sawit Indonesia telah dimulai sejak 30 tahun yang lalu. Awalnya fokus kampanye negatif adalah isu kesehatan, namun kemudian melebar ke berbagai aspek, seperti ekonomi, sosial dan lingkungan. Salah satu tantangan besar muncul saat Parlemen Uni Eropa mengadopsi resolusi mengenai minyak kelapa sawit dan deforestasi hutan hujan (palm oil and deforestation of rainforests) pada 4 April 2017.

Resolusi tersebut menyoroti hubungan sawit dengan deforestasi, kebakaran hutan, kerusakan ekosistem, serta menuding adanya pelanggaran HAM pada industri sawit. Selain Resolusi Parlemen Eropa tersebut, Parlemen Norwegia juga telah mengeluarkan resolusi yang pada intinya meminta Pemerintah Norwegia untuk sesegera mungkin mengeluarkan aturan terkait public procurement yang melarang pembelian dan penggunaan biofuel berbasis kelapa sawit dan produk-produk turunan dari kelapa sawit.

Karena itu, tegas Fachir, Kementerian Luar Negeri terus melakukan upaya total untuk mengatasi kampanye negatif sawit Indonesia melalui berbagai forum, baik dalam skala nasional maupun internasional. Salah satunya adalah dengan memberikan dukungan penuh dalam kegiatan Inaugural Ministerial Meeting of Palm Oil Producing Countries, yang akan diselenggarakan leh CPOPC di Nusa Dua, Bali, pada 1-3 November 2017. (mag)

Komentar