Hibah Aset Nazaruddin ke ANRI Disoal

Selasa, 12 September 2017, 11:00:00 WIB - Peristiwa

Anggota Pansus Angket KPK Mukhamad Misbakhun (kiri) bersama Wakil Ketua Pansus Angket KPK Masinton Pasaribu (tengah) dan Ketua Pansus Angket KPK Agun Gunanjar Sudarsa (kanan) menyampaikan laporan hasil temuan dan kinerja Pansus Angket KPK, di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (21/8). Pansus Angket KPK menyampaikan bahwa dalam menjalankan fungsi penyelidikan, penyidikan, dan penuntutan, KPK sama sekali tidak berpedoman pada KUHAP dan mengabaikan prinsip HAM. Mereka juga meminta kepada BPK untuk mengaudit sejumlah barang sitaan dan rampasan. (ANTARA)

Politikus Golkar yang sedang diperbantukan ke Komisi III DPR, M Misbakhun mempersoalkan KPK yang ikut melakukan proses hibah gedung Nazaruddin ke Arsip Nasional RI (ANRI). Menurut Misbakhun, KPK seharusnya tak ikut dalam proses penghibahan tersebut.

Misbakhun menilai KPK yang ikut dalam proses penyerahan hibah tidak tepat karena barang rampasan sudah menjadi tanggung jawab Kementerian Keuangan. Menurutnya, KPK sedang melakukan pencitraan.

"Apa kaitan KPK dengan hibah itu sehingga KPK mempromosikan itu milik Nazaruddin? Itu bukan kewenangan KPK, itu milik negara. Kenapa KPK masih ingin ikut itu dihibahkan ke siapa. Pencitraan apa lagi yang ingin dibangun dari situ?" sindir Misbakhun di gedung DPR, Senin (11/9).

Ia menegaskan KPK harus mengerti posisi dalam menangani sebuah perkara. Jika tugas selesai, sebaiknya KPK tak melakukan hal lain.



"Saya minta ini jadi disiplin organisasi, KPK tugasnya selesai di mana. Kalau mengurus tata kelola kita harus sama. Barang rampasan ini banyak sekali titik lemahnya. Ini harus serius kita tangani," cecar Misbakhun.

Anggota Komisi III F-PKS Nasir Djamil menyatakan KPK memang harus membenahi tata kelola barang rampasan. Jika tidak, ini akan membahayakan KPK sendiri.

"KPK barangkali punya terkait nanti Kemenkeu, bagaimana mengelola benda sitaan dan barang hasil rampasan terkait barang korupsi. Kalau tidak, kita curiga jangan-jangan ada barang dilego, macam-macam lah," tutur Nasir.

Aset berupa tanah dan bangunan senilai Rp 24,5 miliar diserahkan KPK ke Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI). Aset itu berupa gedung perkantoran hasil rampasan dari kasus yang membelit M Nazaruddin. (dtc/mfb)

Komentar