Bagi Demokrat Politik Outsourching Wajar

Senin, 27 November 2017, 20:15:46 WIB - Peristiwa

Bupati Trenggalek sekaligus bakal calon Wakil Gubernur Jatim Emil Elestyanto Dardak (tengah) berfoto usai menghadiri seminar internasional bertajuk Economic Development Based On Law and Entrepreneurship Perspective di kampus UNISKA, Kediri, Jawa Timur, Sabtu (25/11). Bakal calon Wakil Gubernur Jatim yang telah mengantongi surat rekomendasi dari partai Golkar tersebut yakin mampu memajukan ekonomi kerakyatan jatim seperti keberhasilannya mengembangkan UMKM di Trenggalek. (ANTARA)

PDIP merasa terganggu dengan langkah politik dari Partai Demokrat. PDIP sampai menyebut Partai Demokrat (PD) menerapkan politik 'outsourcing' terkait duet Khofifah Indar Parawansa dan Emil Dardak di Pilgub Jatim 2018.

Ketua Fraksi Demokrat Edhie Baskoro (Ibas) menyebut hal itu sah-sah saja. Menurutnya setiap partai harus terus menerus melakukan kaderisasi. 'Melakukan rekrutmen secara terbuka ataupun melalui pelatihan yang diperuntukkan untuk kader-kader untuk sebuah proses,' kata Ibas usai menghadiri Seminar Generasi Milenial di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Senin (27/11).

Menurut anggota Komisi X DPR itu, tidak hanya partainya saja yang menerapkan sistem seperti itu. Ibas menyebut, partai politik lainnya pun berlaku sama saat bangsanya membutuhkan sosok pemimpin.

'Jadi terbuka saja ketika bangsa atau daerah membutuhkan sosok pemimpin sesuai dengan aspirasi masyarakat dan partai memberikan kesempatan. Tidak hanya Demokrat, saya pikir semua partai begitu juga,' kata Ketua Komite Pemenangan Pemilu Demokrat itu.

Sebelumnya, Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto menyebut Ketua Umum PD Susilo Bambang Yudhoyono menerapkan politik outsourcing. Ini karena Emil yang sebelumnya adalah kader PDIP, memutuskan tidak mengikuti garis partai di Pilgub Jatim dan memilih maju menemani Khofifah.



'Saya sudah berikan tanggapan resmi, dan itu bagaimana Bapak SBY menerapkan politik outsourcing,' kata Hasto.

Meski begitu, kata Hasto, PDIP akan terus melakukan kaderisasi dan menciptakan seorang pemimpin. Namun setiap pemimpin juga harus memilih jalan sendiri.

'Kami tidak terpancing, tetap setia pada kaderisasi, karena itu menunjukkan trek seorang pemimpin. Setiap pemimpin itu memilih jalannya sendiri. Jadi itu tidak akan mengurangi niat kami untuk melatih orang dari dalam diri kami,' ucap Hasto. (dtc/mfb)

Komentar