Penyebar Isu Novanto Bertemu Ketua MA Minta Maaf

Sabtu, 09 September 2017, 19:53:36 WIB - Peristiwa

Sekretaris Jenderal DPP Partai Golkar, Idrus Marham (tengah), didampingi sejumlah politisi Partai Golkar memberikan keterangan kepada wartawan mengenai sikap Partai Golkar terkait Pilpres 2019, di Jakarta, Jumat (11/8). Idrus kembali menekankan bahwa partainya tetap pada keputusan untuk mengusung Joko Widodo sebagai bakal calon presiden pada Pilpres 2019. (ANTARA)

Sekjen Partai Golkar Idrus Marham membantah pertemuan Ketum Partai Golkar Setya Novanto dengan Ketua Mahkamah Agung Hatta Ali untuk membicarakan proses hukum. Idrus pun memanggil anggota Komisi III DPR Adies Kadir untuk mengklarifikasi terkait isu pertemuan tersebut.

"Begini, pertemuan itu di momentum promosi Doktor. Saya panggil saudara Adies tentang masalah ini, tentunya ini akan mengganggu kredibilitas kedoktorannya kalau main-main itu," ujar Idrus di Hotel Sultan, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Sabtu (9/9).

Idrus mendapat informasi dari Adies bahwa oknum yang membuat isu pertemuan Novanto dengan Hatta Ali sudah meminta maaf. Idrus juga mengaku telah memaafkan oknum yang menyebar isu tersebut.

"Saya diberitahu Adies bahwa orang yang membuat isu itu sudah meminta maaf. Ya sudah, kalau sudah minta maaf masa iya ditanggapi," ujar Idrus.



Namun Idrus enggan menyebutkan secara detail terkait identitas oknum yang menyebarkan isu pertemuan tersebut. Seandainya oknum itu tak meminta maaf, Idrus juga menyebut akan mempolisikan orang tersebut.

"Adies sudah memaafkan, kalau tidak memaafkan adies akan proses hukum karena sudah dimaafkan makanya tidak diproses hukum, gitu," kata Idrus.

Ketua MA Hatta Ali juga membantah ada lobi Setya Novanto terkait kasus e-KTP. Pertemuannya dengan Novanto di Universitas 17 Agustus Surabaya semata-mata terkait ujian terbuka doktor.

"Ya fitnah. Ini semua kan banyak saksi kebetulan hadir juga," kata Hatta Ali setelah menghadiri ulang tahun Komisi Yudisial (KY) di gedung KY, Jakarta, Rabu (23/8).

Hatta Ali menghadiri acara uji calon doktor di kampus Universitas 17 Agustus 1945 karena Hatta menjadi dosen penguji calon doktor hukum. Hatta menjadi penguji akademis, sedangkan Novanto hanya memenuhi undangan.

"Saya kan penguji di Surabaya itu. Makanya saya tidak menyangka. Saya sebagai penguji, saya kan harus hadir di Surabaya," ujar Hatta.

Sebelumnya, Ketua Gerakan Muda Partai Golkar (GMPG) Ahmad Doli Kurnia mencurigai adanya pertemuan khusus Ketum Golkar Setya Novanto dengan Ketua MA Hatta Ali. Doli menduga pertemuan tersebut dilakukan untuk membicarakan proses hukum terhadap Novanto.

"Tentu ini bisa menimbulkan kecurigaan dan spekulasi bahwa ada pertemuan secara khusus Novanto dengan Hatta Ali pada saat itu. Untuk membicarakan upaya-upaya pendekatan untuk hadapi proses hukum yang dihadapi, termasuk praperadilan," kata Doli di gedung Granadi, Kuningan, Jakarta Selatan, Jumat (11/8). (dtc/mfb)

Komentar