Anies-Sandi Dilantik Warga Gusuran Kembali ke Kampung Akuarium

Kamis, 12 Oktober 2017, 19:41:10 WIB - Peristiwa

Kampung Aquarium, di Penjaringan, Jakarta Utara yang kembali diisi bedeng warga . (ANTARA)


JAKARTA, GRESNEWS.COM - Warga Kampung Akuarium Penjaringan, Jakarta Utara, yang sempat direlokasi ke rumah susun (rusun) di masa Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Kini kembali menempati lahan bekas rumah mereka yang digusur. Mereka menuntut janji pasangan Gubernur dan Wagub DKI terpilih Anies Baswedan-Sandiaga Uno yang berjanji akan kembali membangun permukimannya.

"Berharap juga ke Pak Anies-Sandi. Saya percaya karena kita sudah ada kontrak politik. Dia janji tidak akan ada penggusuran tapi ada penataan," ungkap warga Kampung Akuarium, Sumiati, 32, Kamis (12/10).

Sebelumnya Sumiati juga suami dan 5 anaknya tinggal di Rusun Kapuk Muara selama 1 setengah tahun. Namun mendengar Anies-Sandi segera dilantik dia kembali ke Kampung Akuarium dan membangun bedeng semi permanen.

"Sudah ada jalan terangnya (terkait rumah yang digusur), sudah nggak gelap lagi. Tadinya masih bimbang, mau bikin masih bingung takut digusur lagi," katanya.



Selain Sumiati belasan warga Kampung Akuarium yang sempat menghuni rusun, ramai-ramai keluar dari rusun dan kembali membangun rumah di kawasan penggusuran. Kebanyakan warga mengaku kesulitan membayar ongkos sewa rusun sehingga memilih bertahan dilokasi gusuran.

"Sebulan di rusun aja Rp 175.000. Sama lampu dan air jadi sekitar Rp 350.000 per bulan," ujar Sumiati.

Sumiati mengaku belum pernah sempat membayar ongkos sewa rusun hingga dirinya kembali ke Kampung Akuarium. Dia juga sempat mendapat dua kali surat teguran dari pengelola rusun.

"Dapat dua kali surat teguran sama jumlah sewa rusun yang belum dibayar. Teguran pertama Rp 3.200.000, surat kedua hampir Rp 5.000.000. Jadi memutuskan dari pada buat rusun mending bikin bedeng (rumah darurat)," tutur Sumiati soal alasan keluar dari Rusun.

Menurut Sumiati dirinya kesulitan membayar rusun karena suami yang hanya bekerja sebagai nelayan. Dengan ongkos Rp 5 juta keluarganya sudah dapat membangun rumah darurat di kawasan Kampung Akuarium.

Sumiati juga mengaku pindah ke rusun saat itu karena terpaksa. Dia bersama keluarganya sempat tinggal di atas perahu setelah rumahnya di Kampung Akuarium digusur.

"Saya pindah ke rusun karena mau selametan bikin nama anak kembar saya yang baru lahir. Karena terpaksa aja, nggak ada tempat. Kalau masih bisa tinggal di perahu, tinggal di perahu deh," ujarnya. (dtc/rm)

Komentar