Jatah Puluhan Miliar buat Setya Novanto di Kasus E-KTP

Senin, 13 November 2017, 18:30:43 WIB - Peristiwa

Terdakwa kasus korupsi KTP-el Andi Agustinus alias Andi Narogong (kedua kiri) mendengarkan keterangan saksi yang merupakan Direktur Pengelola Informasi Administrasi Kependudukan Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil Sugiharto (kiri) dalam sidang lanjutan kasus korupsi tersebut di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Senin (13/11). Dalam rekaman pembicaraan antara Sugiharto dan Johannes Marliem terungkap bahwa Setya Novanto mendapat jatah Rp 60 miliar dalam proyek pengadaan Kartu Tanda Penduduk berbasis elektronik (KTP-el). (ANTARA)

Jaksa Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memutar rekaman percakapan tentang pemberian fee ke Setya Novanto. Rekaman itu merupakan percakapan antara Sugiharto-Johannes Marliem-Anang Sugiana Sugiharjo.

Percakapan itu mulanya membahas soal konflik utang antara Anang dengan Johannes Marliem. Sugiharto menjelaskan pertemuan itu terjadi di ruangannya saat awal proyek e-KTP dibahas.

Setelah diputar percakapan, jaksa menanyakan konteks percakapan itu kepada Sugiharto.

"Jadi kalau pertemuan (dengan Johannes) tidak ada Anang selalu minta untuk saya menagihkan utangnya ke Anang. Tapi kalau ketemu bertiga diem saja, tidak ada ngomong masalah utang," kata Sugiharto.



Sugiharto kemudian mengatakan AN yang dimaksud adalah Andi. Percakapan itu kemudian berlanjut hingga menyebut soal jatah fee untuk bos Andi yang disebut SN alias Setya Novanto.

"Bosnya Andi ya SN. SN ya Setya Novanto. Itu terkait jatah uang untuk SN. Ada hitung-hitungan antara Anang sama Johanes Marliem yaitu ada hitung-hitungan di lapangan," kata Sugiharto.

Sugiharto menyebut perhitungan jatah untuk Novanto itu belum dihitung resmi. Namun, estimasinya Novanto akan mendapat sekitar Rp 60 miliar.

"Belum dihitung, tapi kalau bisa Rp 100 miliar," ujar Sugiharto.

"Ini bapak ada bilang kalau dulu 10 terus kalau sekarang adanya 6, itu maksudnya apa?" tanya jaksa pada KPK Wawan. "Rp 60 miliar untuk bosnya Andi," jawab Sugiharto. (dtc/mfb)

Komentar