Kapolri Bantah Ada Keterlibatan Jenderal dalam Kasus Penyerangan Novel

Selasa, 01 Agustus 2017, 15:30:39 WIB - Peristiwa

Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian menunjukkan sketsa wajah terduga pelaku penyerangan terhadap penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan, di Kantor Presiden, Jakarta, Senin (31/7). (ANTARA)

JAKARTA, GRESNEWS.COM - Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian membantah ada keterlibatan seorang jendral dalam kasus penganiayaan terhadap penyidik KPK Novel Baswedan. Penegasan itu disampaikan Tito menanggapi pemberitaan akhir-akhir ini.

"Tidak ada jenderal polisi karena keterangan dari 3 orang tersebut mereka tidak ada hubungannya dengan perkara dugaan penganiayaan ini. Setelah dicek alibi mereka detail jam per jam, menit per menit, jadi saya kira sutradara yang hebat pun akan sulit membuat alibi-alibi seperti itu," papar Tito, usai menghadap presiden di Istana Negara, Senin (31/7).

Seperti diketahui Sela pagi Tito sempat dipanggil presiden Jokowi. Diduga Jokowi ingin mendengar perkembangan kasus Novel Baswedan yang tak kunjung terungkap pelaku penyerangan. Apalagi media akhir-akhir ini mempersolkan penanganan kasus penyiraman air keras terhadap Novel pada 11 April 2017 lalu.

Tito mengaku telah melaporkan seluruh perkembangan penanganan kasus Novel kepada Presiden. Dalam kesempatan itu presiden menurut Tito, juga telah memerintahkan dirinya untuk segera menuntaskan kasus kasus dugaan penganiayaan terhadap Novel Baswedan.



"Beliau (Presiden) memerintahkan agar dituntaskan sesegera mungkin. Itu perintah beliau, tapi tadi kami sudah sampaikan langkah-langkah yang kita lakukan, prinsipnya kami ingin agar sesegera mungkin. tapi kadang-kadang ada kendala," kata Tito, seperti dikutip setkab.go.id.

Kapolri memaparkan, hingga saat ini, ia mengaku polisi telah memeriksan dan mendengar keterangan dari 59 saksi. Bahkan lima orang diantaranya telah diamankan. Sementara jumlah cctv yang diperiksa lebih kurang 50 dalam radius 1 km yang juga sudah didapatkan. Bahkan sekitar 100 lebih toko kimia yang menjual H2SO4 yang telah didatangani.

Dari saksi-saksi yang telah dimintakan keterangannya itu, menurut Kapolri, pihak kepolisian belum menemukan saksi yang melihat atau mengetahui wajah tersangka pada waktu kejadian.

"Kita belum mendapatkan saksi pada saat kejadian. Yang ada adalah dua orang ibu-ibu, yang menggunakan mukena pulang dari masjid. Ada juga saya kira di cctv yang di medsos, itu sudah kita dengar keterangannya juga. Tapi tidak, hanya melihat kejadian, tidak melihat wajah tersangka," ungkap Tito.

Tetapi Kapolri mengaku, Kepolisian telah menemukan saksi yang cukup penting, hanya yang bersangkutan tidak ingin disebutkan namanya untuk alasan keamanan. "Dia melihat kira-kira lima menit sebelum peristiwa, ada orang yang berdiri di dekat masjid, yang itu sosoknya mencurigakan, yang diduga dia adalah pengendara sepeda motor penyerang," tutur Tito.


Keterangan saksi inilah, yang membuat pihak Kepolisian mulai dapat menggambar sketsa pelaku, mulai dari sketsa tangan sampai dengan menggunakan teknologi yang mutakhir. "Kita bekerja sama dengan rekan-rekan dari AFP kepolisian Australia, kemudian kita rekonstruksikan menggunakan sistem komputer, sehingga terakhir kita dapatkan yang ini. Ini mungkin belum dipublished ya, karena ini baru kira-kira dua hari yang lalu ini," beber Kapolri.

Pihak Kepolisian, lanjut Tito, telah menyampaikan perkembangan kasus ini kepada KPK. "Kita ingin agar teman-teman dari KPK juga bisa bergabung untuk membentuk tim gabungan Polri khususnya Polda Metro Jaya. Baik tim lidik (penyelidik) maupun tim analisnya, dan kita akan terbuka untuk itu. kami sudah menawarkan dari tanggal 16 Juni," ujar Tito.

Seperti diketahui Novel Baswedan mengalami penyerangan dan penyirakan air keras oleh dua orang pengendara motor seusai sholat subuh di masjid Al-Ihsan dekat rumahnya. Mata Novel pun mengalami kerusakan sehingga ia harus menjalani perawatan di Singapore National Eye Centre (SNEC) sejak 12 April 2017. (rm)

Komentar