Menteri Susi Kritik Reklamasi Teluk Kendari

Senin, 18 September 2017, 13:00:09 WIB - Peristiwa

Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti memberikan sambutan pada forum ´International Seminar On Sustainability in The Marine Fisheries Sector (ISSMFS) 2017´ di auditorium Universitas Haluoleo, Kendari, Sulawesi Tenggara, Sabtu (16/9). (ANTARA)


JAKARTA, GRESNEWS.COM - Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP) Susi Pudjiastuti mengkritik proyek reklamasi Teluk Kendari yang digagas Walikota Kendari, Asrun. Ia menilai reklamasi justru akan merusak keindahan teluk dan mengganggu ekosistem laut sekitar teluk. Sebab reklamasi akan menyebabkan pendangkalan teluk lebih cepat.

"Suatu saat Teluk Kendari sudah tidak indah, tetapi hitam dan berbau. Nanti bagaimana ikan-ikan tidak masuk lagi sampai ke teluk," kata Susi saat berbicara dalam acara International Seminar on Sustainability in The Marine Fisheries Sector (ISSMFS) 2017 di Auditorium Mokodompit Universitas Halu Oleo (UHO) Kendari, Sabtu (16/7).

Diketahui pemda Kota Kendari melakukan reklamasi teluk Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra) untuk membangun dermaga tambat labuh Kota Kendari. Pembangunan tambat labuh ini dinilai akan membuat Teluk Kendari menjadi sempit, karena sedimentasi akan makin tinggi dan akhirnya membuat pendangkalan lebih semakin cepat.

Proyek tambat labuh sendiri merupakan bagian dari program smart point yang diadakan pemda setempat. Proyek ini menelan anggaran Rp 66 miliar yang digarap sejak tahun 2015.



Untuk itu Susi berpesan kepada para akademisi untuk menjaga laut Kendari. Jangan sampai Teluk Kendari dijadikan daratan, sebab teluk memiliki fungsi yang penting. "Jaga betul lautan kita. Kalau perlu saya usul kepada Gubernur Sulawesi Tenggara supaya memutar balik rumah-rumah di pantai supaya tidak membelakangi namun menghadap laut," ujar Susi, seperti dikutip situs kkp.go.id.

Susi menambahkan visi menjadikan laut masa depan bangsa belum terimplementasi di Kendari. Pihaknya masih melihat banyak yang menjadikan laut sebagai tempat pembuangan sampah. "Jangan sampai Teluk Kendari seperti Teluk Jakarta. Jakarta itu sudah hancur teluknya. Air lautnya sudah hitam, kalau mau berenang harus satu jam ke tengah untuk dapat air yang agak jernih," ungkapnya.

Susi juga menyarankan kepada Plt Gubernur Sultra Saleh Lasata agar membuat insentif kepada masyarakat untuk mau memutar arah rumahnya menghadap kelaut dan tidak menjadikan laut halaman belakang tetapi sebagai halaman muka. "Dengan menjadikan laut halaman depan rumah warga akan sungkan untuk membuang sampah kelaut," ujarnya.

Selain itu Susi juga mendorong para mahasiswa untuk ikut mempertahankan dan meneruskan pengelolaan kelautan dan perikanan yang berkelanjutan. "Sekarang ikan banyak, jangan sampai stok ikan kita turun lagi. Kita harus pastikan ikan tetap banyak dan ada," pintanya.

Menurutnya semua orang wajib memantau dan menjaga, agar dilaut tidak ada lagi illegal fishing. Kapal-kapal besar yang menggunakan alat tangkap tidak ramah lingkungan dan mengeruk ikan juga harus ditindak. Keberlanjutan juga bisa dilakukan dengan menjaga laut dari pencemaran, agar laut tetap bersih dan sehat. "Sudah saatnya pemerintah provinsi dan daerah yang wilayahnya memiliki pantai pesisir, supaya diatur zona kelautannya. Jangan sampai ada pencemaran di laut. Jangan ada kapal yang menggunakan trawl atau cantrang. Ikan akan habis, dan pada akhirnya nelayan kesulitan sendiri," tegasnya.

Selain soal keberlanjutan, Susi juga menyampaikan dua hal penting yang harus diperjuangkan soal laut, yaitu kedaulatan dan kesejahteraan. Menurutnya, kedaulatan harus dimiliki agar Indonesia dapat merdeka dan bebas menentukan dan merencanakan pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya kelautan dan perikanan Indonesia tanpa intervensi negara lain.

Sementara segala upaya itu diarahkan untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat Indonesia. "Setiap stakeholder perikanan dan kelautan Indonesia harus diupayakan kesejahteraannya," tambahnya.

Menurutnya salah satu cara yang dilakukan pemerintah adalah dengan memberikan asuransi kepada nelayan, agar nelayan mendapat jaminan keselamatan dalam menjalankan profesinya. Namun pemberian asuransi dilakukan dengan insentif nelayan harus menunjukan komitmennya menjaga laut.

Susi juga mengaku sering mendengar nelayan yang suka mengebom laut dan merusak laut adalah nelayan-nelayan dari Sulawesi. "Nah, kalau nelayannya mau komitmen menjaga lautnya, kami dari KKP juga akan bantu, beri keringanan, kasih bantuan. Jangan sampai saya melihat karang hancur seperti yang saya lihat tadi pagi di Pulau Karibu. Baru renang 3-5 meter sudah terlihat kehancuran karang, meskipun airnya jernih," bebernya.

Menurut Kelautan dan Perikanan menjadi yang utama. Untuk itu pihaknya harus memastikan bahwa laut benar-benar menjadi masa depan bangsa. (rm)

Komentar