JAKARTA, GRESNEWS.COM - Presiden Joko Widodo mengkritik sebagian kelompok masyarakat yang justru merasa senang jika ada kabar-kabar yang mengkhawatirkan. Kritik itu disampaikan Jokowi saat menutup Perdagangan Bursa Efek Indonesia Tahun 2017, di Main Hall Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Jumat (29/12) sore.

"Menikmati, terus menjadikan kita pesimis. Ini yang dari dulu saya paling enggak senang ini," ujar Jokowi, seperti dikutip setkab.go.id.

"Saat tahun 2015 lalu, katanya wait and see karena ada Pilkada. Ia menambahkan tahun 2016 ada lagi Pilkada, wait and see lagi, tahun 2017 ada Pilkada, wait and see. Tahun depan ada Pilkada lagi kan, wait and see. Tahun depannya lagi ada Pilpres, wait and see. Apa kita mau seperti itu terus? Yang politik silakan politik, yang ekonomi kita garap bersama-sama urusan ekonomi," tegas Jokowi.

Dia mengakui, berita yang mengkhawatirkan, menakut-nakuti sangat seru untuk komoditas jualan dan membuat situs internet mendapatkan banyak klik. "Tapi masalahnya, kalau kita sampai terjebak pada ketakutan terhadap risiko-risiko, kita akan kehilangan peluang, kita akan kehilangan kesempatan, kita akan kehilangan opportunity secara cepat. Padahal kesempatan itu kadang datangnya hanya sekali. Momentum-momentum seperti ini yang harus kita gunakan," terang Jokowi.

Jokowi mengemukakan, di awal tahun semua analis mewanti-wanti soal kenaikan suku bunga dolar di Amerika. "Saya ingat betul, semuanya wanti-wanti, hati-hati, hati-hati. Banyak kalangan mengatakan dengan kenaikan suku bunga dollar oleh Bank Sentral Amerika, The Fed, semua mata uang yang lain akan rontok. Semua kan ngomong seperti itu semuanya," ujarnya.
Kemudian, kata Jokowi, banyak kalangan khawatir akan adanya stimulus fiskal besar-besaran oleh Presiden Amerika terpilih, Donald Trump. "Semuanya juga berbicara mengenai itu. Banyak orang bilang, arus modal akan berbondong-bondong pulang kampung lari kembali ke Amerika," paparnya.

Lebih lanjut, Jokowi menyampaikan, banyak juga analis di awal tahun yang mewanti-wanti mengenai naiknya sentimen proteksionisme di seluruh dunia mengenai risiko yang akan terjadinya perang dagang. Apalagi, ada beberapa pemilu di beberapa negara Eropa di mana tokoh-tokoh garis keras dikhawatirkan bisa menjadi presiden atau perdana menteri, baik pemilu legislatif di Belanda, pilpres dan pemilu legislatif di Perancis, dan pemilu legislatif di Jerman.

Tapi apa yang terjadi akhirnya? Jokowi menyampaikan, dolar AS justru melemah sepanjang tahun 2017. Ia melanjutkan bahkan sudah kembali di bawah titik saat kemenangan Presiden Trump di pemilu Amerika tahun lalu. Arus modal ke negara-negara berkembang, tambah Jokowi, termasuk ke Indonesia juga mencapai sebuah rekor.

Selain itu, Presiden mengingatkan, yang terpilih di Eropa malah pemimpin-pemimpin yang sudah ada terpilih kembali. Bahkan di Perancis yang terpilih adalah tokoh reformis, yaitu Presiden Emmanuel Macron.

Presiden melanjutkan, ekspor negara-negara berkembang, khususnya di Asia malah melonjak. Ia menambahkan bahwa tahun 2017 adalah tahun di mana laju pertumbuhan perdagangan dunia kembali di atas laju pertumbuhan ekonomi dunia, pertama kalinya dalam 7 tahun.

"Angka-angka seperti ini harus kita ikuti terus, sehingga memberikan rasa optimisme kita untuk menyampaikan hal-hal yang positif, menyampaikan hal-hal yang optimis," tutur Jokowi.

Ekspor Indonesia sendiri, lanjut Presiden, tahun ini naik doubel digit, sekitar 15-17 persen. Ia menambahkan bahwa investasi internasional ke Indonesia tahun ini juga double digit, di sekitar 13-14 persen. Rating Indonesia, lanjut Presiden, mendapatkan upgrade, yang pertama, SMI kembali ke layak investasi atau investment grade, terakhir dari Fitch rating juga BBB- menjadi BBB.

Karena itu, Presiden menekankan agar hal yang optimis ini harus terus disampaikan. Ia menegaskan jangan yang tidak baik terus disampaikan, agar ada keseimbangan. "Yang kita inginkan rasa optimisme sehingga menanamkan modal itu menjadi sebuah semangat kita semuanya," ujar Jokowi. (mag)