Kasus Jeng Ana: Aspetri Tegaskan Pembacaan Tes MRI Kewenangan Dokter

Senin, 19 Juni 2017, 11:00:00 WIB - Peristiwa

Bahan obat-obatan tradisional (ANTARA)

JAKARTA, GRESNEWS.COM - Asosiasi Pengobat Tradisional Indonesia (ASPETRI) menyatakan, pembacaan tes MRI bukan kewenangan pengobat herbal, melainkan dokter. Penegasan itu dilakukan ASPETRI akibat viralnya video pembacaan tes MRI oleh Jeng Ana, seorang pengobat herbal yang cukup ternama. Gara-gara hal itu, klinik herbal milik Jeng Ana diproyeksikan akan tutup.

Ketua ASPETRI Tengku M. Sanusi menekankan, menurut peraturan, dalam PP 103 dan Permenkes 61, pengobat herbal tidak diperbolehlan beriklan di televisi dengan cara 'mengklaim penyembuhan'. Sehingga, dipastikan acara khusus Jeng Ana yang disiarkan di salah satu stasiun televisi swasta itu, menyalahi peraturan tersebut.

'Kalau sudah begini, viral, kan banyak yang marah, takutnya jadi banyak korban juga,' kata Tengku saat melakukan sidak di Klinik Herbal Jeng Ana, Minggu (18/6).

Apalagi, lanjutnya, hingga pagi tadi, iklan yang disiarkan tersebut masih terus berjalan meskipun pemberitaan sudah memanas. Tengku mengkhawatirkan, jika Jeng Ana tidak menghentikan kampanye, maka klinik herbalnya akan ditutup. 'Organisasi penyehat lain (IDI) akan marah karena kita ambil yang lain (ranah medis),' kata Tengku.

Ia pun meminta, sebagai anggota asosiasi, Jeng Ana untuk menghentikan terlebih dulu aktivitas iklannya di televisi. 'Saya minta kerjasamanya tutup semua iklan dan jangan pertahankan. Kalau sudah kepolisian sama tindak kesehatan susah. Lebih baik duduk manis karena arahnya ini ditutup.'

Dalam satu kesempatan, Jeng Ana akhirnya mau buka suara. Ia mengatakan program khususnya yang tayang pada Sabtu-Minggu masih terus berjalan karena secara pribadi ia mau meminta maaf kepada publik atas kekeliruannya. 'Saya menyadari saya salah, karena saya bicara yang bukan wilayah saya. Dari hasil kemarin, mungkin ini yang harus saya perbaiki,' kata Ana.

Ia melanjutkan, iklan-iklan kliniknya masih beredar hanya di wilayah Jakarta. Di wilayah lain, seperti Bandung dan Bali sudah berakhir semanjak minggu lalu. Menyoal kronologis salah mengartikan MRI, Jeng Ana mengatakan saat itu kebetulan sedang membawa hasil tes klien yang sakit tumor otak.

Kebetulan, pasien yang ditanganinya tersebut sembuh setelah ditangani olehnya. 'Kebetulan beliau sembuh, memang pengobatan alternatif kan ada yang sembuh ada juga tidak, berputar.'

Semenjak videonya beredar viral, Jeng Ana memang sengaja menghindar untuk memberikan klarifikasi. Sebabnya, ia tak mau salah ucap dan pemberitaan negatif malah makin gencar. 'Saya dari kemarin banyak yang telepon juga tapi saya tak mau terima,' katanya.

Ia menyadari, apa yang dilakukannya adalah salah. Awalnya, ia tak menyadari, pembacaan MRI yang dilakukannya salah dan menyalahi kewenangannya sebagai pengobat herbal.
'Sekali lagi saya minta maaf. Kalau memang saya harus perbaiki, akan saya perbaiki. Kalau saya tahu hal tersebut salah, saya tak akan lakukan itu.'

Menurutnya, apa yang ia bacakan dan menjadi viral, merupakan pembacaan yang dilihat dari segi herbalis. Yakni melihat ukuran benjolan daro tumor klien. Namun ia kembali mengakui, penyebutan yang dilakukannya banyak yang tak sesuai dengan kaidah medis.

'Sekali lagi, juga kepada IDI. Saya memang bukan seorang dokter. Jika kemarin dengan bicara saya semuanya salah aturan, saya sekali lagi minta maaf,' tukasnya. (gresnews.com/mag)

Komentar